Distorsi Egy

Kehadiran Egy Maulana Vikri tidak memberikan efek yang signifikan. Seperti yang pernah saya khawatirkan. Berkaca dari Piala Dunia 2018. Keberadaan Egy bisa diibaratkan Lionel Messi di timnas Argentina. Secara kebetulan banyak masyarakat pecinta bola dan atau media tanah air yang –secara overrated- mengidentikkan Egy Maulana Vikri dengan Lionel Messi. Messi-nya Indonesia, sebagian berkata demikian.

Belakangan Egy Maulana Vikri sedang menjadi trending topic sebagai pemain Asia Tenggara pertama yang bermain di Liga Eropa, tepatnya di Klub Liga Polandia, Lechia Gdansk. Bagi Indonesia, tentunya ini merupakan prestasi yang membanggakan.

Egy menjelma menjadi “megabintang” sepak bola Indonesia. Label tersebut membuat pecinta sepak bola tanah air menaruh harapan besar atas kehadirannya sebagai pemain utama nomor 10 saat Indonesia melawan Malaysia di ajang semi final AAF U-19 tadi malam tanggal 12 Juli 2018 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo.

U19

Garuda Muda U-19 (Sumber Gambar : Banjarmasin Post)

Tapi, ibarat panggang jauh dari api, secara teknis Egy memang bermain bagus dan mumpuni. Tapi, ternyata skill individu tidak menjadi jaminan, sepak bola adalah permainan tim. Keberadaan Egy justru sedikit menjadi distorsi bagi kekompakan tim yang sudah terbangun sejak awal kompetisi AFF U-19. Tanpa Egy, Indonesia berhasil mencatatkan  hasil sempurna meski finis Runner Up karena di pertandingan terakhir fase grup kalah dari Thailand 2 -1, setelah sebelumnya berhasil menumbangkan Laos 1 – 0, mencukur Singapura 4 – 0, tidak lupa juga epic comeback saat melibas Filipina 4 – 1, dan menundukkan Vietnam 1 – 0. Thailand sendiri tampak kelelahan meladeni serangan-serangan yang cukup militant dari pasukan Garuda Muda saat itu yang berdampak pada kekalahan melawan Myanmar di semi final dengan skor tipis 1 – 0.

Pada pertandingan semalam Egy menciptakan gol di babak normal melalui titik pinalti, setelah Saddil Ramdani dilanggar oleh salah satu pemain belakang Malaysia. Salut buat Pemain U-19 lainnya yang menjamu Egy dengan sangat baik, yang dengan kelapangan hati mempercayakan Egy untuk menjadi eksekutor di menit ke 2. Nama besar Egy yang sedang membuncah membuat para pemain Malaysia merasa perlu menjaga ketat pemain kelahiran Medan tersebut. Terlalu banyak mendapat tackle keras menngakibatkan Egy cedera dan harus diganti di babak kedua.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa Egy tidak penting buat Timnas U-19, namun akan lebih baik jika Egy berperan memperkuat Garuda Muda sejak awal perhelatan kompetisi AAF U-19. Catatan minor bagi Egy semalam, untuk ukuran pemain yang mulai berkiprah di kompetisi Internasional, Egy terlalu malas menjemput atau mencari bola. Justru yang patut diacungi jempol adalah peran trio Witan Sulaiman, Saddil Ramdani, dan Rivaldo Ferre.

Tanpa Egy, Garuda Muda tampil trengginas seperti Jerman di Piala Dunia 2014. Dengan Egy, Garuda Muda tampil seperti Argentina di Piala Dunia 2018.

Iklan