14 April 2017…, Selamat Ulang Tahun Ibu

Beady Eye – Live Acoustic Session from Abbey Road

14 April adalah Ulang Tahun Ibu saya… Semoga Ibu saya selalu diberikan kesehatan… Tanpa Ibu, Dunia tidak pernah terasa nyaman.

Akhir-akhir ini temperamen saya sedang tidak bagus. Entah kenapa energi negative masih saja menggelayuti hari-hari saya sampai detik ini sejak kurang lebih sebulan lalu. Padahal saya bukan orang yang semacam ini. Saya termasuk dalam kategori orang yang easy going dan cenderung bebal (baca : cuek). Saya bukan orang yang suka pamrih. Saya juga bukan orang yang senang mengharapkan balasan kebaikan dari orang lain yang pernah menerima kebaikan saya di masa lalu, misalnya. Dan atau saya bukan orang yang suka memaksakan kehendak dan melulu mengharapkan imbalan (materi) dari setiap hal yang saya kerjakan. Bukan sok idealis tapi level saya sudah tidak disitu. Saya selalu berusaha semaksimal mungkin melaksanakan setiap kewajiban dengan senang hati.

Namun, belakangan perasaan senang hati yang selalu saya bangun agak terganggu oleh anggapan-anggapan yang seolah paling benar dan seperti harus menjadi tolok ukur suatu bentuk yang sempurna. Saya menjadi merasa seperti digiring menjadi robot. Kebebasan terkekang dan kreativitas terbelenggu Saya bukan orang bodoh. Saya juga bukan anak kemarin sore yang mengerti masalah organisasi. Dengan tidak berniat menyombong, sebelumnya, saya telah melanglang buana selama kurang lebih 12 tahun berhadapan dengan masalah yang komplek, perbedaan budaya, perbedaaan prinsip, perbedaan pola pikir, dan lain sebagainya. Semua itu telah menempa saya menjadi pribadi yang blak-blakan, lugas, sekaligus tetap menjunjung tinggi adab sopan-santun ketimuran yang diwariskan oleh keluarga saya. Sopan santun yang jujur, apa adanya, tidak berlebih-lebihan, tidak palsu, natural. Meski tidak semua bisa memuaskan seluruh pihak.

Ada apa dengan saya?

Kenapa penilaian/anggapan orang terhadap saya yang sebenarnya tidak perlu dipedulikan karena.. ya, senior-junior? muak saya mendengarnya. Malah merusak mood saya. Saya yang biasa melaksanakan setiap kewajiban dengan senang hati, tulus, serta ikhlas tanpa pamrih menjadi kecewa dan seperti sudah tidak peduli lagi. Meski begitu, niat saya untuk menyelesaikan setiap tanggungjawab tidak hilang, hanya kehilangan gairah. Saya berusaha untuk tidak terpancing amarah atau terprovokasi. Mudah-mudahan saya tetap bisa mengendalikannya.

Saya jadi berfikir dan bertanya-tanya : benar apa tidak jika suatu status yang dianggap oleh kebanyakan orang bisa menjamin masa depan dan konon katanya juga diidam-idamkan oleh khalayak ramai yang secara kebetulan juga sedang saya sandang saat ini bisa menjamin kebahagiaan batin saya di masa depan? Jangan-jangan saya sedang terjebak di zona nyaman? Jangan-jangan saya hanya akan membuang-buang waktu dalam pusaran rutinitas tak berujung? Jangan-jangan saya bisa jauh lebih berkembang, lebih hebat, dan lebih superior serta bisa mewujudkan mimpi-mimpi menjadi manusia yang bermanfaat jika berada di luar zona nyaman ini? Bisa lebih bebas berekspresi tanpa harus memikirkan akan menyalahi aturan-aturan (tak tertulis) ini dan itu. Setiap keputusan mutlak ada di diri saya. Saya bisa membangun tim yang ideal lalu menularkan pemikiran-pemikiran untuk maju bersama dalam kekompakan yang bukan hanya teori.

Jangan-jangan saya sedang lupa untuk bersyukur bahwa sebenanya masih banyak orang yang lebih hebat dari saya untuk menjadi bagian dari organisasi yang saat ini saya huni?

Ini semua salah saya sendiri!

Mungkin juga saya sudah sangat lama tidak dibasuh oleh ceramah-ceramah Master Buddha Cheng Yen yang dulu biasa saya lihat dan dengarkan melalui channel DAAI TV, Televisi Kasih Sayang.

Semoga saya tidak kehilangan rasa kemanusiaan saya terhadap sesama.

Daripada saya jadi sakit secara fisik dan batin menanggapi kondisi ini, sebaiknya saya bercerita tentang kunjungan saya ke Kota Pontianak, Kalimantan Barat pada tanggal 19 – 22 Januari 2017 lalu.

Saya ke Pontianak sebenarnya dalam rangka mengikuti Seminar Nasional PERHEPI – Ekonomi dan Kebijakan Agraria. Dalam seminar ini saya menulis paper bersama Dosen saya dan salah satu staf Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual KemenkumHAM.

Jpeg

Rakernas dan Seminar Nasional PERHEPI 2017 di Kota Pontianak

Oiya, jika ada yang belum tahu, PERHEPI adalah akronim dari Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, yang dalam bahasa Inggris biasa disebut ISAE, yaitu Indonesian Society of Agricultural Economics. Dikutip dari perhepi.ub.ac.id secara resmi, perhimpunan ini berdiri pada tanggal 13 Februari 1969 di Ciawi Bogor dalam suatu seminar/konferensi ekonomi pertanian Indonesia. Perhimpunan ini dibentuk oleh tokoh-tokoh ilmuwan dan praktisi  serta berfungsi sebagai wahana bagi kegiatan dan pemikiran dalam ekonomi pertanian serta mengembangkan ilmu, dalam rangka pembangunan bangsa dan negara. Dalam perjalanannya, berbagai dinamika dilalui dengan romantika pasang surut kegiatan perhimpunan ini. Akan tetapi satu hal yang tetap adalah, gerak organisasi ini senantiasa dilandasi oleh Pancasila sebagai dasar dalam pengembangan dan pengamalan ekonomi pertanian, baik sebagai ilmu maupun profesi. Ia senantiasa peduli terhadap dinamika pembangunan ekonomi pertanian serta komitmen terhadap persoalan-persoalan pembangunan pertanian dan perdesaan, kesejahteraan petani dan masyarakat umumnya.

Saya tidak akan mengulas tentang seminar yang saya ikuti tersebut. Saya akan menceritakan betapa menyenangkan pengalaman 3 hari 4 malam saya di Pontianak. Tidak ada hura-hura atau pesta-pesta.  Saya berjumpa kawan-kawan saya dan banyak menghabiskan waktu menjajal warung kopi-warung kopi yang bertebaran di hampir setiap penjuru kota Pontianak. Malam pertama di Pontianak saya ditemani oleh Mas Aulia Chandra Dwi, mahasiswa kedokteran Universitas Tanjung Pura yang berasal dari Belitong. Saya dibonceng motor berkeliling kota sambil mencoba kuliner-kuliner khas Pontianak, seperti Chai Kue, Bingke dan Es Lidah Buaya. Acara cemal-cemil tersebut diakhiri dengan minum kopi di Warung Kopi Winny.

Warung Kopi Winny beralamat di Jalan Gajahmada No. 159, Benua Melayu Darat, Pontianak Selatan, Kota Pontianak. Kebetulan letaknya tepat di seberang Hotel Orchardz, tempat saya menginap. Warung Kopi Winny merupakan salah satu warung kopi yang selalu ramai pengunjung setiap harinya. Warung ini sepertinya buka hampir 24 jam. Saya kurang tahu persis. Masih dugaan. Karena malam itu saya kembali dari Warung Kopi Winny sekitar pukul 02.00 WIB dini hari setelah puas menenggak secangkir kopi hitam khas Pontianak dan tiga pisang goreng yang dioles selai srikaya, paginya sekitar pukul 07.00 WIB saat saya sarapan di hotel, Warung Kopi Winny terlihat sudah buka lagi. Lokasinya memang sangat strategis berada di pusat Kota Pontianak.

Secara kebetulan juga, pada saat saya disana sedang musim durian. Hampir di sepanjang jalan berjajar pedagang durian. Konon, menurut penuturan Mas Aulia, berdasarkan pengalamannya sendiri, saat musim panen durian harganya bisa mencapai hanya Rp. 2000,- saja bila beli ke petania duriannya secara langsung. Jika sudah masuk ke Kota Pontianak harganya rata-rata mencapai Rp. 30 ribu sampai dengan Rp. 50 ribu-an, yang cukup familiar berasal dari hutan-hutan di daerah Nangapinoh. Ciri khas durian Pontianak aroma harumnya menyengat, tekstur daging buahnya tebal, empuk dengan cita rasa gurih manis.

Jpeg

Pedagang Duren di Kota Pontianak

Mas Aulia sempat menawari saya makan durian ketika di tengah perjalanan menuju Warung Kopi Winny. Saya menolak dengan halus dikarenakan saya bukan penggemar buah durian.. hehehehe.. 😛

Masih cukup banyak yang ingin saya ceritakan selama saya di Pontianak, saya bertemu Mas Eko Wahyudi teman di Komunitas Backpacker Dunia, dan selain itu saya juga berkesempatan bertemu Mbak Devi beserta Suaminya. Sayangnya saya belum berhasil jumpa Mbak Helen.

Berhubung saya sudah mengantuk sekali, mungkin akan saya lanjutkan lagi di lain waktu.

Iklan