“Doesn’t Have A Point Of View”

Musim hujan hadir malu-malu melalui gerimis. Ada banyak kata berhamburan keluar dari dalam kepala. Berserakan di udara. Saya kesulitan untuk merangkainya. Hanya bisa terdiam terpaku menatap satu per satu huruf berjatuhan ke lantai karena tidak sanggup melawan gravitasi. Butir-butir air menghunjam raga dari ujung rumbut hingga ke dasar hati. Mengendapkan harapan/rindu… entah harapan/rindu kepada cinta yang mana…

Angin berhembus cukup kencang setiap hari, sejak menggeliatnya pagi, terik siang, sore nan sendu, malam ngelangut, sampai ke pagi lagi, begitu seterusnya pada bulan-bulan terakhir musim kemarau.

Jika pada suatu malam anda membutuhkan lagu-lagu pengantar tidur terbaik yang menghadirkan romansa suasana retro dengan sentuhan keindahan musik folk rock klasik membalut kekuatan makna lirik-lirik puitis nan apik dan tertuang dalam satu paket, barangkali album Rubber Soul karya The Beatles bisa menjadi rujukannya.

Gerimis datang sebentar menyiram benih-benih harapan. jika debit air kembali normal, maka hilang sedikit kekhawatiran. Air akan mengaliri sungai-sungai yang sekian lama telah menanggung dahaga tak terkira.

Bagi para pengecut, kata-kata disusun sedemikian rupa menjadi tameng untuk melindungi ketidakbecusannya.

Bagi para insan hukum, kata-kata mempunyai harga untuk membayar bagaimana setiap huruf terangkai dan sanggup membolak-balikkan fakta sehingga keadilan dan ketikdakadilan menjadi nisbi.

Bagi para pujangga, kata-kata dirangkai menjadi ayat-ayat mesra yang diseduh dalam secawan anggur yang sanggup memabukkan ratu paling cantik sedunia sekalipun, sehingga sang ratu jatuh dalam pelukan. Tak bisa lari kemana-mana karena hatinya telah tertambat pada makhluk yang sanggup menciptakan romansa melalui kata-kata. Pujangga.

Entahlah… ingin menulis apa lagi?

Iklan

Sore – Sore Nyidam Sari

Momen lebaran Idul Adha kemarin saya manfaatkan untuk mudik ke kota kelahiran saya : Madiun. Tujuan utamanya sudah pasti sungkem ke Ayah dan Bunda sekalian minta didoakan supaya segera bertemu jodoh yang selama ini entah sedang melanglangbuana kemana menikmati lebaran Idul Adha yang sangat jarang sekali saya lalui di Madiun. Ya, walaupun baru beberapa bulan yang lalu, tepatnya saat lebaran Idul Fitri saya mudik, tapi, apalah daya, kerinduan akan rumah sukar dibendung.

Alhamdulillah, Ayah dan Bunda saya sehat walafiat dan mudah-mudahan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Hajat pulang kampung ini sempat terancam gagal gara-gara saya salah memilih tanggal keberangkatan ketika memesan tiket melalui website PT. KAI. Saya mengira libur Idul Adha ada di tanggal 25 September 2015, maka saya memesan tiket keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen ke Madiun pada tanggal 24 September 2015 menggunakan KA. Majapahit pukul 18.30 WIB, jadi saya tidak perlu ijin dari kantor. Untuk tiket kembali ke Jakarta, saya tetap menggunakan KA. Majapahit dari Madiun tanggal 26 September 2015 pukul 23.15 WIB, tepat di hari Sabtu, jadi ketika sampai di kost-an saya di kota Bogor saya masih punya waktu istirahat satu hari sebelum kembali beraktifitas di hari Senin.

Beberapa hari sebelum hari H mudik, saya baru menyadari kesalahan tanggal keberangkatan ketika melihat kalender di salah satu tempat makan di dekat kost-an saya. Maklum saya tidak punya kalender dan ketika memesan, saya hanya melihat tanggalan dari kalender hape jadul saya yang warnanya sudah pasti sama semuanya. Hitam. Saya kaget bukan kepalang. Saking paniknya saya tidak menyadari bahwa makanan saya sudah habis dan saya hanya menyendok angin.

Esoknya, sepulang kerja saya pontang-panting menuju ke Stasiun Bogor untuk menggeser jadwal keberangkatan dari tanggal 24 September 2015 ke tanggal 23 September 2015.

“Maaf, Mas, untuk jadwal 23 September 2015 sudah penuh semuanya.” Bait jawaban yang mengalir dari bibir Mbak petugas loket nan anggun itu seketika menusuk ke jantung hati.

“Kereta selain Majapahit masih ada yang kosong apa tidak, Mbak?” Tanya saya lagi dengan penuh harap. Mbak petugas loket hanya menggeleng-gelengkan kepala diiringi senyum penglipur lara yang tidak berhasil mengobati kekecewaan saya. Saya memutuskan untuk membatalkan tiket keberangkatan tersebut dan beralih ke moda transportasi bis Rosalia Indah.

Bayangan kemacetan yang mengular berkelebatan di kepala membuat saya seolah mabuk darat sebelum bis melaju dari pool nya. Namun, diluar dugaan, perjalanan menuju kota Madiun menggunakan bis Rosalia Indah nyaris bebas hambatan. Memang di beberapa titik seperti sudah pada umumnya, di Subang dan Indramayu, misalnya ada ruas-ruas jalan yang tidak beres. Atau tepatnya dari dulu tidak pernah beres. Diluar semua itu, perjalanan cukup bisa dinikmati.

Sama halnya dengan Bogor, Madiun juga belum turun hujan. Bedanya, musim kemarau di Madiun tidak terasa se-hareudang di Bogor. Mungkin karena tidak terlalu banyak kendaraan. Maklum, Madiun hanyalah kota perlintasan yang kecil. Terik mentari yang menari-nari bersama semilir angin semakin mesra dirasa dalam iringan tembang-tembang campursari khas karya-karya Manthous.

Di Madiun, tak lengkap rasanya apabila tidak sarapan Nasi Pecel Madiun yang ke-deliciousan-nya telah diakui khalayak ramai penikmat kuliner nusantara. Hanya dengan Rp. 42 Ribu Rupiah sudah bisa dapat enam porsi Nasi Pecel Madiun paling lezat sedunia dengan lauk rempeyek kacang dan gorengan tempe yang ukurannya segede gaban. Meminjam jargon Pak Bondan Winarno : Makyuss!

Nasi Pecel favorit saya adalah Nasi Pecel Pojok yang lokasinya tidak jauh dari rumah saya. Tepatnya berada di ujung persimpangan antara Jalan Cokroaminoto dan Jalan Ringin. Warung nasi pecel ini dikelola oleh keluarga Elang, teman SD saya. Elang ini berjenis kelamin perempuan. Dulu ketika masih sekolah, Elang bersama teman-teman sekelas yang akrab seperti Eva, Chandra, dan Deny sering sekali mengajak saya masak-masakan. Acaranya selalu di rumah saya karean letaknya yang cukup strategis. Secara berkala, setiap seminggu sekali, misalnya, di hari Sabtu, sepulang sekolah, Elang, Eva, Chandra, dan Deny pergi ke rumah saya dengan membawa peralatan-peralatan masak yang diperlukan yang sudah dibagi-bagi sesuai kesepakatan siapa bawa ini siapa bawa itu lalu belanja ke pasar mencari bahan baku. Jujur, dulu setiap kali mereka mencari saya ke rumah untuk acara masak-masakan itu, saya selalu lari bersembunyi karena malu. Bagi saya, masak-masakan itu bukan dolanannya laki-laki. Kalau sudah begitu, Bunda saya yang turun tangan menemukan saya untuk diserahkan ke mereka. Dewasa ini, bila teringat, saya justru kangen akan masa-masa tersebut. Apalagi belakangan banyak bermunculan Chef-Chef dari kalangan pria.

Setiap sore saya menikmati kemalasan di kedai kopi sambil bercengkrama bersama teman-teman sejawat yang memilih tetap bertahan di kampung halaman dengan segala idealismenya untuk memajukan kota Madiun melalui karya-karya orisinal buah pemikiran paling jernih.

saat menjelang senja ketika langit masih tampak cerah, saya duduk di beranda rumah bersama Bunda, mendengarkan wejangan-wejangan beliau yang akan selalu saya jadi pegangan agar hati dan fokus tidak goyah dalam menjalani kehidupan yang semakin ganas dan tak terprediksi. Warna lembayung yang perlahan mulai terlukis di ufuk barat mengiring sang surya undur diri menuju peraduan membuat suasana semakin emosional. Saya teringat akan waktu yang tidak bisa diperintah oleh manusia. Waktu tidak pernah peduli dengan permohonan untuk berhenti sejenak demi sebuah kebahagiaan yang sedang berlangsung. Seolah seperti sebuah pintu yang baru saya saya tutup dan tinggalkan, masa kanak-kanak yang indah telah berlalu sekian jauhnya. Saya menatap Bunda yang selalu sabar mendampingi saya hingga dewasa. Tiba-tiba saya seperti dihadapkan pada layar film yang menayangkan masa-masa ketika Bunda mengantar saya ke sekolah. Bunda membawa saya ke dokter ketika pilek lalu saya merengek-rengek minta dibelikan layang-layang. Bunda dengan tekun menemani saya mengerjakan PR Matematika dari guru paling killer semasa SD yang membuat saya jadi membenci pelajaran tersebut sehingga sampai sekarang saya paling bodoh soal Matematika. Ah, saya ingin kembali ke fragmen hidup ketika itu kemudian menekan tombol “On” dan tetap berada di sekitarnya. Setiap selesai saya putar kembali. Begitu seterusnya hingga malaikat Israfil meniup sangkakala tanda berakhirnya dunia beserta seluruh isinya. Saya tidak ingin jauh dari Bunda. Saya ingin tetap menjadi anak kecil dalam belaian dan lindungan Bunda.

Di depan rumah saya terhampar halaman yang lumayan luas. Di malam terakhir, setelah menunaikan ibadah sholat Isya’, saya menikmati kilau gemintang yang merubungi rembulan di jagad malam. Tampak riang sekali. Seolah keriuhannya terdengar meski dari jarak ratusan tahun cahaya. Sambil terus menatap warna ceria di langit, hati saya bergumam : “Seandainya masih ada semalam lagi di Madiun.”

Fùmǔ De Xīnshēng

11692749_1139227242760661_8738450984387799946_n

Mbak Shumei, Sinden Taiwan

Diantara ratusan lagu Mbak Shumei yang (berhasil) saya miliki, saya sangat terkesan dengan satu lagu berjudul Fùmǔ De Xīnshēng, secara harfiah, artinya kurang lebih Hasrat/Impian/Harapan Orang Tua, merupakan bahasa lokal Taiwan, Thayu, yang termasuk rumpun Bahasa Mandarin.

Lagu ini mengisahkan tentang anak gadis semata wayang dari sebuah keluarga yang mulai beranjak dewasa dan sudah saatnya menikah. Dalam tradisi kuno Taiwan, perempuan yang menikah kelak harus ikut keluarga suaminya. Sebelum benar-benar meninggalkan rumah, pada hari-hari menjelang pernikahan, setiap orang tua dari pihak perempuan biasanya akan menitipkan bekal dalam bentuk emas sebagai simpanan saat menghadapi kondisi darurat dalam biduk rumah tangga dan wasiat berupa wejangan-wejangan beserta harapan-harapan kepada anak perempuannya agar menjadi menantu yang baik. Tak lupa juga, orang tua berpesan jika ada waktu luang disempatkan berkunjung ke rumah untuk sekedar minum teh bersama sambil ngobrol-ngobrol ringan di beranda rumah seperti saat-saat sebelum menikah.

Hingga saat ini, di Taiwan, lagu berirama lembut yang bikin ngelangut ini memang masih sering dijadikan sebagai lagu pengantar pernikahan. Biasanya anak perempuan yang menikah akan menyanyikannya sebagai persembahan sekaligus ucapan terimakasih kepada kedua orang tuanya yang telah bersusah payah membesarkan dengan penuh kasih sayang.

Saya sudah jatuh cinta pada lagu ini sejak pertama kali mendengarkannya melalui saluran Youtube. Meskipun saat itu saya belum mengerti sama sekali maknanya. Dalam playlist saya, lagu ini termasuk kategori pengantar tidur.

Setiap kali mendengarkan lagu ini di akhir pekan yang terik berhias semilir angin, sembari memejamkan mata, fikiran saya terbang pada kenangan-kenangan masa kecil dalam buaian Ayah Bunda.

Saya membayangkan, seandainya saya bisa menciptakan kendaraan pelontar waktu, saya ingin pergi berkunjung ke masa lalu, terutama masa kanak-kanak. Menyambangi fragmen-fragmen hidup yang telah dibekukan oleh waktu kemudian memencet tombol “On” agar berdenyut kembali.

Pertama, saya akan mendampingi diri saya saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Menuntunnya menjadi buah hati yang patuh terhadap Ayah Bunda. Saya akan membisikinya agar selalu rajin Sholat 5 waktu dan mendaras Al Qur’an. Saya juga terus menyemangatinya supaya rajin belajar, biar bisa dapat nilai-nilai yang fantastis sehingga menjadi ranking 1 di kelas. Saya akan mengajaknya ikut tim sepakbola dan beladiri.

Naik ke level berikutnya, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau Sekolah Menengah Pertama. Saya akan mengajarinya agar tidak menjadi anak yang suka menuntut macam-macam terhadap Ayah Bunda. Menjadi pribadi yang sederhana dan semakin memperhatikan pelajaran yang dijelaskan Bapak atau Ibu Guru di kelas jauh lebih penting. Saya akan mengarahkannya untuk ikut kegiatan Pramuka dan kursus musik.

Menuju ke jenjang selanjutnya, Sekolah Menengah Umum atau Sekolah Menengah Atas. Saya akan menasehatinya supaya tidak sering-sering keluyuran. Lebih baik menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan Bapak atau Ibu Guru dari sekolah sambil membantu meringankan kesibukan Ayah Bunda. Jangan merokok dan mencoba hal lainnya yang tidak memberikan faedah bagi tubuh. Lebih baik uangnya ditabung, jika sudah terkumpul banyak bisa digunakan untuk keperluan-keperluan yang penting dan urgent. Berkumpul dengan teman-teman yang soleh dan berprestasi agar ketularan energi positifnya. Saya akan menyarankannya bergabung dalam kegiatan Paskibraka di sekolah agar kelak bisa ikut ambil bagian pada saat Upacara Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara.

Beranjak ke masa kuliah. saya akan menganjurkannya pada setiap liburan semesteran diusahakan mengikuti program-program beasiswa pertukaran pelajar di luar negeri untuk menambah wawasan dan kawan dari berbagai penjuru dunia. Atau minimal digunakan untuk bekerja paruh waktu di restoran cepat saji, misalnya, supaya bisa menambah uang saku sendiri dan tidak merepotkan Ayah Bunda. Saya akan terus memotivasinya agar semakin rajin belajar sehingga ketika lulus bisa menjadi individu yang berguna bagi nusa, bangsa, dan keluarga.

Saya hanya ingin membuat bangga Ayah Bunda…

You’ve Got To Hide Your Love Away

Here I stand head in hand
Turn my face to the wall
If she’s gone I can’t go on
Feelin’ two-foot small

Everywhere people stare
Each and every day
I can see them laugh at me
And I hear them say

Hey you’ve got to hide your love away
Hey you’ve got to hide your love away

How can I even try
I can never win
Hearing them, seeing them
In the state I’m in

How could she say to me
Love will find a way
Gather round all you clowns
Let me hear you say

Hey you’ve got to hide your love away
Hey you’ve got to hide your love away

Ketemu Barbershop yang (bisa diajak) satu visi itu memang menyenangkan. Dari menit pertama saya masuk sudah disuguhi playlistnya The Beatles. Ketika kapsternya tanya tentang model yang saya inginkan, saya tinggal jawab : “ala The Beatles, ya, moptop britpop/rock gitu, bisa kan?” …. “Siap, Mas.” Jawab si kapster penuh percaya diri.. Dan hasilnya setengah jam kemudian, di depan cermin saya sampai pangling dan sukar membedakan antara diri saya sendiri dengan Paul McCartney.. hehehehhe..

Konon, musik dan lirik tembang You’ve Got To Hide Your Love Away yang terdapat pada Album The Beatles – Help rilisan tahun 1965 tersebut ditulis oleh John Lennon sebagai ungkapan perasaannya kepada Brian Epstein, manajer The Beatles kala itu yang diduga adalah seorang homoseksual. Melalui kiasan-kiasan lirik yang tersusun apik dan puitis dalam lagu tersebut, John Lennon seperti hendak mengatakan bahwa dirinya juga seorang biseksual yang bisa memenuhi hasrat cinta yang ganjil diantara mereka. Brian Epstein telah berjasa membesarkan The Beatles melalui strategi, manajemen, dan sentuhan jeniusnya dalam industri musik era 1960-an. Gaya vokal John Lennon pada lagu tersebut terinspirasi oleh penyanyi pop-rock balada Amerika yang terkenal dengan lirik-lirik bertema sosial, Bob Dylan.

You’ve Got To Hide Your Love Away nampak bersahaja namun berisi dan penuh misteri, hanya dibawakan dengan John Lennon sebagai vokalis tunggal tanpa suara latar sambil memainkan gitar 12 senar, ditingkahi petikan bass Paul McCartney, George Harrison menyelaraskan harmoni melalui cuplikan gitar akustik klasik 6 senar, dan Ringgo Starr menimpalinya dengan brushed snare drum, tamborin, marakas. Seorang pemain tambahan bernama John Scott mengisi suara tenor dan alto flutes.

Bagi saya lagu tersebut memiliki kenangan tersendiri.

Selama hampir tujuh tahun magang di salah satu Instansi Pemerintahan yang berlokasi di Kompleks Pemerintahan Daerah Kabupaten Bogor sambil (berusaha) menyelesaikan Studi Strata 1 jurusan Agribisnis di Institut Pertanian Bogor menggiring saya pada rumitnya pusaran labirin rasa jatuh cinta.

Cinta yang pada akhirnya harus saya sembunyikan selama mungkin hingga saya lulus kuliah dan memilih untuk mengundurkan diri.

Memang salah saya sendiri tidak punya rasa percaya diri dan mudah minder. Saya hanya mahasiswa magang yang tinggal di kamar kost berukuran 4 m x 4 m seharga Rp. 500.000,- per bulan yang berada tepat di jantung Kota Bogor. Sedangkan perempuan pujaan hati saya itu adalah putri seorang amtenaar. Bukan main skala kesenjangan diantara kami. Ibarat langit dan bumi. Dia langit, saya Bumi.

Pepatah Jawa pernah menuturkan “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”. Terjemahan bebasnya, Cinta Hadir Karena Terbiasa. Secara kebetulan meja kerja perempuan pujaan hati saya itu berada tepat di sebelah kiri meja kerja saya. Meski jarang sekali ngobrol –karena saya memang cenderung pendiam dan kurang asik, tak heran saya tidak punya cukup banyak kawan– tapi lama-kelamaan saya merasa terbiasa ada perempuan pujaan hati saya itu di samping saya dalam arti sebagai rekan kerja. Saya selalu merasa ada yang kurang jika perempuan pujaan hati saya itu sedang tidak masuk kantor karena sesuatu lain hal, sakit, misalnya.

Pelan-pelan, perasaan terbiasa ada perempuan pujaan hati saya itu di samping saya dalam arti sebagai rekan kerja dan terasa ada yang kurang apabila perempuan pujaan hati saya itu tidak masuk kerja tersebut menumbuhkan benih-benih rindu di setiap malam dan mewujud menjadi mimpi-mimpi romantis dalam peraduan.

Pada hari-hari selanjutnya, saya mulai terprovokasi oleh perasaan yang tak pasti. Perasaan yang mungkin hanya bersemi di ladang hati saya saja. Perasaan yang berpotensi menempatkan diri saya sebagai pihak yang –akan- menerima takdir cinta bertepuk sebelah tangan.

Sempat saya berencana mengungkapkan perasaan saya yang sesungguhnya. Perkara diterima atau tidak diterima itu urusan lain. Saya sudah siap menanggung segala resikonya. Tapi, seperti yang sudah saya kemukakan di awal tadi, rasa minder dan kurang percaya diri selalu menyergap dari segala penjuru arah mata angin. Utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut… saya tersudut.

Saya segera melupakan rencana tersebut bertepatan dengan Dosen Pembimbing saya yang sudah tidak sabar melihat saya lekas lulus dari kampus. Alhamdulillah, saya dibimbing Dosen yang baik hati, pengertian dan perhatian. Pada saat membimbing, Dosen saya juga sedang sibuk dengan Desertasi S3 (Doctor)-nya. Uniknya lagi, saya dan Dosen Pembimbing saya diwisuda pada hari yang sama. Bangga sekali rasanya. Saking baiknya, ketika beliau dipanggil ke depan untuk penyematan tanda kewisudaan, banyak mahasiswa yang memberikan applause, mungkin karena merasa berkesan atas bimbingan beliau. Rata-rata bimbingan beliau lulus dengan cepat dan tepat waktu. Hanya saya yang berlarut-larut dikarenakan agak kewalahan menyeimbangkan jadwal bimbingan dan perbaikan Skripsi dengan pekerjaan. Dari mulai kolokium, pengambilan data, pengolahan data, seminar hasil, sampai sidang, total jendral memakan waktu dua tahun. Padahal, jika saya mau rajin sedikit saja, mungkin bisa terselesaikan dalam tempo satu tahun.

Beberapa hari setelah seremonial kelulusan yang membuncahkan harapan baru, saya meminta ijin kepada atasan saya untuk mengambil cuti selama dua minggu. Ketika ditanya alasannya, saya jawab sejujurnya saja bahwa saya sedang butuh refreshing setelah melalui minggu-minggu yang sangat penat. Saya pergi mengunjungi seorang sahabat saya yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Wellington, New Zealand. Anehnya, selama berada di sana, saya tidak merasa tenang karena dihantam rindu yang begitu menyiksa. Rindu kepada perempuan pujaan hati saya itu.

Perjalanan menumbuhkan keberanian. Saya mulai meniatkan untuk segera mengungkapkan perasaan saya yang sesungguhnya sesampainya kembali di tanah air. Dalam bayangan saya, perempuan pujaan hati saya itu akan menjadi istri dan ibu bagi anak-anak saya kelak. Dan, sebagaimana umumnya orang yang sedang jatuh cinta, saya jadi semakin rajin beribadah.

Namun, dua minggu kemudian, sepulangnya dari liburan, kenyataan berkata lain. Niat tulus yang telah di ujung bibir harus saya belesakkan kembali mentah-mentah ke dalam kerongkongan karena perempuan pujaan hati saya itu sudah jadian dengan laki-laki lain yang lebih gesit mengambil peluang dari saya. Dan yang membuat saya menjadi canggung bukan kepalang, laki-laki tersebut adalah teman satu kantor juga. Satu ruangan pula. Hanya berjarak beberapa meja saja. Asem tenan.

Kata-Kata Ngenes yang Bikin Nyesek

Gambar Diambil Dari Sini

Patah hati, sudah pasti. Tapi, haruskah saya marah dan kesal kemudian pulang dan mengurung diri di kamar selama-lamanya?… Ah, saya pikir, saya tidak perlu menjadi se-dramatis itu. Toh, memang salah saya sendiri. Walaupun di dalam dada rasanya nyesek setiap melihat mereka bermesra di hadapan saya, kecemburuan itu sesegera mungkin saya konversi menjadi senyum optimisme menghadapi babak hidup selanjutnya.

Tidak ingin berlama-lama terjebak dalam kubangan nestapa cinta, saya memutuskan mengundurkan diri dan berpindah ke rumah baru yang menawarkan mimpi-mimpi segar. Saya melakukannya semata-mata agar semua tetap berjalan normal bagi saya. Agar tujuan-tujuan meraih masa depan tidak berbelok dan menjadi tak tentu arah.

Belakangan saya mensyukuri kondisi tersebut. Tanpa melalui momen getir itu, mungkin sampai sekarang saya masih jalan di tempat. Patah hati itu memang harus terjadi untuk menelanjangi kepicikan saya dan agar pikiran saya bisa terbuka dalam memandang setiap peristiwa dari banyak sisi. Agar mata hati saya bisa melihat peluang yang lebih lapang di tempat lain. Masih banyak orang-orang yang diliputi ketidakberuntungan oleh sebab harapan yang tak tergapai. Sekali lagi, saya bersyukur masih bisa berdiri tegak dan merasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Buku Sebagai Sahabat Bagi Penderita Insomnia

Insomnia

Gambar Diambil Dari Sini

Pada kenyataannya dalam beberapa minggu belakangan, Insomnia telah membuat saya tunduk pada kedigdayaannya. Saya tak kuasa dan hampir putus asa mencari penawarnya.

Segala ikhtiar berdasarkan saran-saran dari berbagai sumber tak luput saya coba, misalnya makan buah-buahan yang disinyalir bisa merangsang rasa kantuk yang enggan bersemayam, seperti mentimun dan pisang. Saya juga menjajal metode meminum air saringan hasil rebusan daun seledri. Tak terhitung pula sudah berapa kaleng susu Bear Brand yang telah saya konsumsi. Adakalanya, saya nonton drama Korea tivi pada malam hari sambil ngemil coklat Silver Queen.

Insomnia adalah gangguan laten yang telah mengakrabi saya sedari masih menempuh pendidikan Diploma III Sistem Informasi Geografi di Institut Pertanian Bogor dahulu kala. Padatnya jadwal kuliah dan praktikum berseling lusinan tugas-tugas yang seolah tiada akhir memaksa saya untuk beraktivitas lebih ekstra hingga mengorbankan waktu tidur yang kemudian menjadi kebiasaan yang nikmat. Sejak saat itulah, tanpa saya sadari, saya selalu berjalan beriringan dengan Insomnia yang pada akhirnya cukup merepotkan saya. Apalagi tidak banyak pub/klab malam/diskotek/casino yang buka 24 jam nonstop di sekitar kost-an tempat saya tinggal. Nilai positifnya, saya jadi rajin bermunajat melalui Tahajud dan Dzikir di sepertiga malam terakhir.

Sekedar informasi, barangkali ada yang belum familiar. Insomnia merupakan masalah sulit tidur atau tidak bisa tidur cukup sesuai waktu yang dibutuhkan tubuh yang dialami oleh seseorang. Berdasarkan data hasil riset internasional yang dilakukan oleh US Census Bureau, diperkirakan sebanyak 28 juta atau sekitar 10 persen dari total penduduk Indonesia menderita Insomnia. Variasi umur penderita berada pada kisaran 20-an hingga 30-an tahun.

Penyebab Insomnia didominasi oleh faktor-faktor psikologis, antara lain perasaan bersalah, tertekan, cemas, gelisah, takut, dan stress disamping kebiasaan-kebiasaan buruk yang terpelihara seperti pola makan yang buruk dan tidak teratur, konsumsi kafein, nikotin, dan alkohol, serta kurang olahraga. Selain itu ketidaknyamanan ruang/kamar tidur bisa memicu Insomnia.

Penderita Insomnia umumnya akan mengalami penurunan produktivitas serta vitalitas di atas ranjang mudah sekali uring-uringan karena kesulitan melakukan aktivitas secara baik pada siang hari. Jangan pernah anggap sepele. Apabila gejala Insomnia tidak segera diatasi dapat mengakibatkan gangguan pada sistem imun tubuh. Insomnia juga bisa menyebabkan depresi dan bahkan mempengaruhi kondisi medis seseorang. Segala penyakit kelas kakap jadi mudah datang, seperti darah tinggi dan diabetes karena efek samping dari kurang tidur bisa merangsang keinginan menyantap makanan yang berlemak dan mengandung karbohidrat tinggi.

Menggunakan jasa mucikari obat perangsang tidur hanya akan menambah masalah di kemudian hari. Obat perangsang tidur pada awalnya akan membantu penderita Insomnia dengan dosis yang rendah, namun, lama-kelamaan, ketika Insomnia menjadi kebal terhadap obat perangsang tidur, maka dosis yang dibutuhkan akan semakin tinggi dan bisa berdampak fatal terhadap kesehatan.

Ketika saya memutuskan untuk berhenti merokok sekitar enam tahun yang lalu, perlahan namun pasti, Insomnia yang telah lama bergelayut ikut pergi bersama asap. Saya memulai siklus hidup yang normal. Tidur pukul 20.00 WIB bangun pukul 04.00 WIB. Delapan jam sesuai anjuran.

Keberaturan hidup yang sehat tersebut tidak berlangsung lama. Sejalan dengan kehidupan asmara saya yang tidak tergambar romantis seperti dalam film No Strings Attached. Kala itu saya sedang menjalani studi Strata 1 pada almamater yang sama. Insomnia hadir kembali menggedor-gedor pintu sebagai bonus dari romansa yang terkoyak akibat cinta lokasi dengan seorang perempuan paling possesif sedunia. Sayap-sayap kebebasan saya dikekang sehingga menjadi gagap untuk terbang menghayati alunan kidung Free As Bird-nya The Beatles. Saya tersesat dan terasing dalam belantara birama yang bahkan sudah sangat saya kenal setiap ketukan nadanya. Ruang gerak saya menjadi terbatas. Energi saya terkuras hanya demi memberikan pengertian-pengertian. Dan, yang paling saya benci dari itu semua adalah saya kesulitan untuk tidur setiap malamnya karena letih hati yang tak beralasan.

insomnia-final

Gambar Diambil Dari Sini

Sekian bulan kemudian, saya memilih untuk menyingkir dan pergi. Saya butuh jeda waktu bagi satu tarikan nafas. Saya mulai berkelana ke negeri-negeri antah berantah. Pengalaman berbaur bersama manusia-manusia lain dari latar belakang budaya yang berbeda menghamparkan harapan baru. Berton-ton keluh kesah bercampur kekesalan yang ikut terangkut di dalam backpack seolah menjadi ringan saja dijinjing. Saya melarungnya satu per satu di setiap destinasi dalam perjalanan yang saya lintasi dan singgahi. Sepulangnya dari pengembaraan tak tentu arah itu, saya menata ulang kembali kehidupan yang telah porak poranda oleh hempasan angin puting beliung. Utamanya memulihkan derita Insomnia.

Berhasil. Jam tidur saya kian teratur. Batin saya terasa lebih damai dari sebelumnya.

Tahun-tahun berlalu saya jalani dengan penuh sukacita meskipun jomblo.

Tapi, entah kenapa minggu-minggu ini saya mengalami susah tidur lagi …

Mungkin saya pernah kelupaan meminta maaf kepada teman yang telah saya perlakukan semena-mena di masa lalu sehingga saking kesumatnya dia mengirimkan sihir berupa Insomnia.

Akhir-akhir ini, Insomnia menampakkan diri lagi, menjelma serupa benalu yang tumbuh lebat dan melekat pada pusat kontrol irama sirkadian Nucleus Supra Chiasmatic di otak saya, mengacaukan harmoninya. Insomnia bisa pula berubah sebangsa lintah yang menempel di setiap titik pembuluh darah, menghisap hormon melatonin, merepih siklusnya. Tidak sungkan-sungkan juga, bila jiwa seninya sedang membumbung tinggi, Insomnia beralihperan sebagai hantu cantik yang terus menerus menggoda dan merayu saya agar tetap terjaga menemani kegelisahannya.

Pasca menjalankan metode-metode alami mengenyahkan Insomnia dan gagal, saya cukup kebingungan. Siasat apa lagi yang harus saya lakukan? Saya harus segera menemukan formula paling ampuh untuk mengobati Insomnia agar rutinitas kerja saya dari Senin sampai Jumat tidak terganggu dan fokus saya tidak buyar ketika menangani tugas-tugas di kantor.

CAM038561

Tetap Bekerja Penuh Sukacita Dari Senin Hingga Jumat Meski Mengidap Insomnia

Saya pernah mendengar tentang kehebatan seorang Sinshe yang tinggal di Pontianak – Kalimantan Barat. Kabarnya, Sinshe tersebut memiliki resep rahasia pemusnah Insomnia yang diramu dari bahan-bahan tradisional yang diimpor langsung dari tanah leluhurnya di Tiongkok sana. Konon juga cara pengirimannya harus menggunakan trik khusus agar kualitasnya tetap terjaga dan terjamin saat sampai di tujuan. Dia -bahan-bahan tradisional itu- tidak boleh diangkut dengan pesawat terbang sejauh apapun jaraknya. Bila pemesannya berada di luar negeri dan beda pulau atau benua, harus dipaketkan menggunakan kapal laut. Bila pembelinya berada dalam satu hamparan pulau atau benua yang bisa dijangkau dengan transportasi darat, harus diantar dengan menunggang kuda. Persis seperti zaman Patih Gajah Mada masih berkuasa beberapa abad silam. Sudah bukan hal aneh jika tersiar kabar mengenai nasib tragis sang kurir bersama kudanya yang telah menjadi bangkai sebelum sampai tujuan oleh banyak sebab, seperti kelelahan, kehabisan bekal/ransum, kelaparan, dehidrasi, dirampok, kena peluru nyasar gerakan separatis, diterjang badai, disambar petir, diterkam singa gurun, dipatuk ular derik yang berkamuflase menyerupai debu, dan lain sebagainya.

Mirisnya, saya belum punya banyak waktu luang menyambangi Pontianak demi menemukan sang Sinshe sakti mandraguna tersebut. Weekend lebih banyak saya gunakan untuk mencuci pakaian kotor dan bersih-bersih kamar kost-an. Jika ada libur yang agak panjang, saya lebih memilih untuk pulang kampung ke Madiun.

Saya mulai memikirkan upaya konvensional lainnya. Langkah paling revolusioner yang baru-baru ini saya ambil adalah mem-purnabakti-kan handphone kekinian yang sarat fitur dan aplikasi itu kemudian berpaling ke handphone jadul nan bersahaja, Nokia 1280.

Nokia 1280

Gambar Diambil Dari Sini

Saya pergi ke Gramedia Books Store Botani Square – Bogor membeli beberapa buku untuk saya baca setiap malamnya. Saya memang hobi membaca –mungkin- sejak lahir. Demi hobi mulia itu, dulu sewaktu saya masih berada di usia Sekolah Dasar, Mbah Kakung saya sampai rela berlangganan surat kabar Jawa Pos dan buku seri kolosal Api Di Bukit Menoreh karya Ki. S. H. Mintardja yang sangat nge-hits di era 1990-an itu untuk memenuhi dahaga pengetahuan dalam diri saya yang seolah tak cukup satu sumur membasahi kerongkongan (apa seeeh..). Beberapa teman menjuluki saya sebagai Si Tampan Dari Timur “kutu buku”. Saya, sih, senang-senang saja.

Sebagaimana pernah diutarakan oleh para filsuf kenamaan, buku adalah jendela dunia. Melalui buku kita bisa mengetahui informasi dan tempat-tempat yang belum pernah kita lihat dan sambangi secara langsung. Buku bisa membawa kita masuk ke dalam dimensi penjelajahan tanpa memindahkan raga kita.

Buku ibarat lembah hijau penuh pepohonan dengan buah-buah ranum bernama kosakata. Petiklah dan nikmati legitnya jalinan ayat yang mengejawantahkan kemesraan. Buku laksana samudra ilmu yang terbentang sepanjang garis cakrawala. Renangi dan selami hingga palung terdalam. Panenlah mutiara-mutiara pengetahuan dari cangkang kerang epistimologi. Jangan sampai luput sejengkal pun. Berbaris-baris maklumat bijak yang termaktub di tiap lembarnya jadikan nutrisi dalam menghadapi hidup yang semakin bengis dari hari ke hari.

230420152513

Buku Bacaan Favorit

Hingga detik ini Insomnia memang belum beranjak dari sisi saya dan masih membonceng hidup saya. Saya sadar, sekuat apapun melawan hanya akan memberi tekanan pada diri sendiri dan menambah beban belaka. Saya mulai mencoba menikmati bersama buku-buku yang sudah seperti sahabat bagi saya. Sesekali saya merehatkan mata apabila sudah merasa pedih dengan memandangi gemintang yang riuhkan sunyi melalui orkestrasinya sambil tidak lupa mengagumi cahaya rembulan yang menembus jelaga malam, mendamari gulita hati.

Echosmith Yang Mencuri Perhatian

echosmith_11

Saya mengetahui Echosmith secara tidak sengaja ketika liburan pada pertengahan tahun 2014 lalu. Saat itu saya sedang bersantai di rumah di Kota Madiun. Sambil menikmati secangkir kopi hitam kegemaran, saya memutar channel MTV pada televisi saya.

Dalam acara yang bertajuk MTV Hits tersebut, beberapa lagu yang sedang ngetop seperti Shake It Off- nya Taylor Swift, All About That Bass-nya Meghan Trainor, Photograph-nya Ed Sheeran, Sugar-nya Maroon 5, Magic-nya Coldplay, Love Me Like You Do-nya Ellie Goulding, G.D.F.R.-nya Flo Rida Feat Sage The Gemini & Lookas, Uptown Funk-nya Mark Ronson Feat Bruno Mars dan lain sebagainya cukup menghibur saya. Pada dasarnya saya menyukai hampir segala jenis aliran musik dari yang paling klasik hingga kontemporer. Bagi saya, musik bisa menjadi sarana pelepas lelah dan penghilang suntuk. Musik bisa menjadi stimulus untuk mendapatkan atau melahirkan ide-ide atau gagasan-gagasan baru dalam bentuk karya-karya lainnya selain musik. Musik bisa menjadi semacam impuls bagi syaraf-syaraf semangat yang sedang loyo agar bergairah kembali.

Diantara taburan band dan solois populer yang mengisi tangga lagu MTV Hits, saya terkesan dengan kemunculan band baru bernama Echosmith yang membawakan lagu berjudul “Cool Kids”. Konsep band beranggotakan empat personel dengan tiga cowok dan satu cewek sebagai vokalis mengingatkan pada band-band serupa di era 90-an seperti The Cranberries, The Cardigans, dan Sixpence None The Richer, misalnya.

Belakangan, saya baru tahu kalau keempat personel Echomith adalah saudara sekandung. Mereka terdiri atas  Jamie Jeffery David Harry Sierota si sulung yang berposisi sebagai Lead Guitar And Backing Vocals/08 April 1993), Noah Jeffery David Joseph Sierota (Bass Guitar And Backing Vocals/01 Januari 1996), Sydney Grace Ann Sierota (Lead Vocals and Keyboards/21 April 1997), Graham Jeffery David Sierota (Drums/05 Februari 1999).

Echosmith terbentuk di  Chino, California, Amerika Serikat pada Februari tahun 2009. Mereka memulai kerjasama dengan mayor label Warner Bros. Records sejak bulan Mei 2012. Debut album mereka yang bertajuk “Talking Dreams” dirilis pada Oktober 2013. Tembang “Cool Kids” merupakan single kedua dalam album tersebut yang berhasil melambungkan nama mereka pernah menempati posisi ke 13 di Billboard Hot 100 dan telah mendapatkan sertifikat dobel platinum dari Recording Industry Association of America (RIAA) dengan penjualan album lebih dari 1.200.000 di Amerika Serikat. Selain itu, Echosmith juga memperoleh sertifikat dobel platinum dari Australian Recording Industry Association (ARIA Australia). Pada tahun 2014, single “Cool Kids” menjadi lagu kelima penjualan digital terbesar dari Warner Bros. Records dengan jumlah 1.300.000 unduhan.

Pada prinsipnya Echosmith mengusung genre techno-dance pop-rock yang manis. Cara bermusik mereka banyak dipengaruhi oleh U2, Coldplay, The Smiths, The Killers, Echo & The Bunnymen, Joy Division, dan Fleetwood Machine.

Realita Jomblo dan Kondangan

DSC_1105edit

Rasanya berat sekali beranjak dari rumah di Madiun menuju Bandara Internasional Juanda Sidoarjo/Surabaya. Jadwal pesawat Air Asia jurusan Jakarta yang bakal saya tumpangi, esok pukul 05.30 WIB. Dalam kondisi normal, Madiun – Sidoarjo/Surabaya dapat ditempuh dalam waktu 3 sampai 4 jam. Tapi ditengah situasi arus balik lebaran seperti saat ini, waktu tempuh normal tersebut bisa melar menjadi 7 hingga 8 jam. Saya sadar akan itu. Bahkan Ayah dan Bunda saya sudah mewanti-wanti. Namun, perasaan kangen rumah masih mendera saya.

Tepat pukul 23.00 WIB saya berangkat menuju Sidoarjo/Surabaya bersama adik saya dengan menggunakan bis patas. Kebetulan adik saya yang berkantor di Sioarjo/Surabaya besok sudah harus masuk kerja. Lalu lintas dari Madiun masih tampak lengang. Saya sempat optimis sekitar pukul 04.00 WIB, saya sudah berada di Bandara Internasional Juanda Sidoarjo/Surabaya.

Kenyataannya, belum ada sepertiga jarak yang tertempuh, ketika masuk kota Caruban yang notabene masih jadi bagian dari Karesidenan Madiun, kemacetan sudah mengular dengan sangat padatnya di sekujur jalan. Hampir tidak ada spasi lagi antar kendaraan. Anehnya, saya tidak merasa panik sama sekali. Saya justru menikmati kondisi tersebut. Dari balik jendela kursi tempat saya duduk, saya melepaskan pandangan ke arah luar. Diantara kerlap-kerlip lampu kendaraan di tengah kemacetan yang menyilaukan dan tak jarang bisa membuat pusing, tiba-tiba bayangan-bayangan masa kecil berkelebatan di kepala saya. Ah, betapa saya masih ingin di rumah. Tidur dikelonin Ayah dan Bunda. Menikmati wedang jahe buatan Budhe di serambi rumah sambil mencoba mereka-reka makna untaian nada yang dialunkan semilir angin sore. Ngemong ponakan saya yang paling ganteng sedunia : Gilang. Makan Nasi Pecel Madiun yang kelezatannya tak tertandingi. Iya, saya sebenarnya belum ingin beranjak menyongsong rutinitas kembali. Saya masih ingin di rumah dalam pelukan Ayah Bunda sebagaimana ketika saya masih kanak-kanak dulu.

Tak terasa air mata menetes… Mengalir di pipi saya. Emosi saya dihinggapi keharuan yang luar biasa.

Benar saja, sesampainya di Bandara Internasional Juanda Sidoarjo/Surabaya, saya sudah tertinggal pesawat tepat sejak sejam yang lalu. Menyesalkah saya? Tidak. Saya malah sempat merencanakan untuk kembali ke Madiun lagi. Kesempatan, pikir saya. Tapi, adik saya menghalau niatan itu. Dia dengan cekatan menghubungi beberapa temannya yang bergelut di bisnis tour and travel untuk mencarikan tiket penerbangan ke Jakarta. Adik saya memang lebih pandai bersosialisasi daripada saya yang cenderung pendiam. Tidak butuh waktu lama. Tiket Sriwijaya Air dengan jadwal pukul 10.05 telah berada di tangan saya.

Dua hari pertama masuk kerja pasca libur lebaran, suasana kantor masih belum begitu ramai. Nanggung. Kebanyakan rekan-rekan kerja lainnya memilih sekalian ambil cuti dan masuk di hari Senin. Saya yang sedang tenggelam dalam pekerjaan dikejutkan oleh panggilan dari Kepala Bagian Tata Usaha. Aduh! Salah apa saya?

Pucuk dicinta ulam tiba. Pepatah bijak pernah mengatakan bahwa “Tidak akan pernah ada Kesempatan Kedua tapi hidup selalu menyediakan dan memberikan Kesempatan Kedua”. Di ruangannya, Ibu Kepala Bagian Tata Usaha menjelaskan duduk persoalan sebab saya dipanggil secara khusus. Beliau menugaskan saya untuk menghadiri pernikahan teman sekantor yang tempat dan acaranya (sebagaimana lumrahnya adat Jawa) akan dilaksanakan di rumah pihak mempelai wanita : Bojonegoro. Semua biaya akomodasi ditanggung oleh kantor.

“ Kapan saya harus berangkat, Bu? ” Tanya saya memastikan.

“ Sebaiknya besok, Mas Adi. “ Jawab Ibu Kepala Bagian Tata Usaha. Singkat, lugas, padat, dan jelas dibarengi senyum manis yang membuncah dari bibir mungilnya nan samar-samar ranum berhias lipstick warna merah khas Ibu-Ibu Muda. Sexy.

Sebelum saya sempat beranjak kembali ke ruang kerja, Ibu Kepala Bagian Tata Usaha bertanya lagi.

“ Eh, tapi beneran nggak apa-apa Mas Adi ke sananya sendirian? “

“ Ehm, nggak apa-apa, Bu… Lha, wong saya udah jomblo selama dua tahun lebih masih baik-baik aja, kok, Bu … hehehehe. “ Jawab saya setengah cengengesan.

Sekedar info, Bojonegoro adalah sebuah Kota/Kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Madiun. Dikelilingi oleh hutan jati yang luas. Terkenal dengan Tari Tayub dan Wayang Thengulnya juga Legenda Pendekar Angling Dharma yang konon menurut cerita berasal dari sini.

Yang membuat saya tambah bahagia tak terkira, saya dibebaskan untuk mencari tiket sendiri. Ini artinya saya mempunyai peluang merekayasa rute perjalanan yang memungkinkan saya untuk pulang ke rumah lagi sejenak. Menuntaskan rindu yang masih tersisa. Tanpa membuang banyak waktu yang semakin sempit, saya segera membuka website PT. KAI.

Alhamdulillah, dalam satu hari perburuan, saya masih disisakan satu tiket Kereta Api Eksekutif Sembrani jurusan Gambir – Bojonegoro di hari Jumat sore pukul 17.30 WIB. Harga promo pulak!

Akad dan resepsi pernikahannya sendiri dihelat pada hari Sabtu pagi.

Untuk kembali ke Jakarta saya memperoleh tiket Kereta Api Khusus Lebaran Madiun – Tanah Abang di hari Minggu sore pukul 15.00 WIB. Secara fisik kereta ini termasuk dalam kategori kelas ekonomi tapi beroperasi layaknya kelas eksekutif. Hanya berhenti di stasiun-stasiun besar (tertentu).

Sejak memperoleh tiket pulang pergi tersebut, pikiran saya sudah bukan lagi menghadiri acara pernikahan melainkan rumah.

Sebenarnya saya berharap ada semacam kuliner khas daerah (dalam hal ini Bojonegoro) yang ikut tersaji sebagai hidangan untuk tamu-tamu undangan dalam acara pernikahan teman sekantor saya. Seperti aneka masakan dari Belut, misalnya. Beruntung, diantara jajaran makanan yang telah umum tersedia di acara-acara pernikahan ada terselip menu unik bernama Galantin.

250720152613

Galantin adalah masakan atau makanan pendamping yang mengadopsi gaya kuliner Prancis terbuat dari daging giling dan tepung panir atau tepung roti. Selanjutnya diberi campuran bumbu seperti pala, merica, garam, gula pasir, bawang bombay, dan lain-lain ke dalam paduan daging giling dan tepung panir atau tepung roti  tersebut. Diaduk hingga rata dan menjadi adonan lalu dibungkus seperti lontong menggunakan daun pisang. Setelah itu dikukus. Untuk pemilihan daging bisa disubtitusikan dengan daging ayam atau daging ikan.

Cara penyajiannya diiris-iris menjadi beberapa bagian dengan ketebalan rata-rata 2 sampai 3 sentimeter dan diletakkan diatas piring beserta sayuran penyerta semacam Wortel, Selada, Buncis, Kentang kemudian disiram saus yang terbuat dari kaldu sapi atau kaldu ayam atau kaldu ikan (sesuai selera) serupa kuah semur tapi sedikit lebih kental. Sekilas tampilan Galantin ini mirip Selat Solo. Menurut info, Galantin juga bisa digoreng sebagai alternatif penyajian yang berbeda dan lebih praktis.

Rasanya?

Kalau kata Pak Bondan “Wisata Kuliner Trans TV” Winarno : Maknyus!

Secara keseluruhan acara pernikahan teman saya berjalan dengan baik. Setiap atribut dan para penanggung jawab terkoordinasi sangat rapi sehingga menghasilkan karya resepsi yang apik. Setelah puas menikmati beberapa sajian pesta dan menyerahkan amanah dari kantor untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia, tepat pukul 12.30 WIB seusai Sholat Dhuhur, saya bergegas menuju Terminal Rajekwesi Bojonegoro untuk melanjutkan perjalanan menuju Madiun via Ngawi dengan menumpang bis ukuran 3/4.

Walaupun harus menempuh waktu selama kurang lebih 5 jam melalui jalan yang berkelok-kelok diantara hutan jati dalam cuaca kemarau yang sangat panas, Alhamdulillah, berkat perlindungan Allah SWT, saya pun sampai di rumah dengan selamat.

Saya segera menyapa Bunda yang sedang duduk di beranda rumah.

“ Assalamualaikum, Bu…”

“ Waalaikumsalam, loooh, Le..” Jawab Bunda kaget begitu menyadari kedatangan saya.

Saya memang sengaja tidak memberitahukan rencana mudik jilid dua ini.

Ah, Bunda, senyummu begitu meneduhkan. Senyum yang tak pernah berubah. Tetap sama seperti saat pertama kali saya dilahirkan ke dunia. Senyum yang ampuh mengusir setiap kekhawatiran yang datang tanpa alasan. Senyum yang ampuh mengusir gejala flu akibat musim yang tidak menentu.