Sarapan

Sarapan

Konon, perbedaan derajat intelektualitas (kecerdasan) antara manusia dan primata a.k.a. monyet hanya 1 % saja.

Logikanya, dengan perbedaan yang hanya 1 % itu, seharusnya manusia (masih) bisa dengan mudah mengajarkan Bahasa Indonesia atau Bahasa Daerah atau Matematika atau Fisika atau Kalkulus atau Pemrograman Komputer atau Astronomi atau disiplin-disiplin ilmu lainnya yang biasa dipelajari dan (sebagian) dikuasai (sesuai dengan minat) kepada primata a.k.a. monyet.

Namun, nyatanya… perbedaan yang hanya 1 % itu gap-nya sangat mengerikan…

Jadi, bisa dibayangkan, seandainya ada makhluk lain di Bumi yang tingkat intelektualitas (kecerdasan)-nya 1 % diatas manusia…

Mungkin, makhluk tersebut juga sama frustrasinya kala berusaha mentransfer ilmu kepada manusia sebagaimana frustrasinya manusia kala berusaha mentransfer ilmu kepada primata a.k.a. monyet.

Mungkin, makhluk tersebut yang masuk kepada golongan jahat akan menjadikan manusia sebagai buruan.

Sebagian lagi menjadikan manusia sebagai peliharaan…

Sebagian lagi menjadikan manusia sebagai pementas sirkus…

Sebagian lagi menjadikan manusia sebagai santapan malam…

Sebagian lagi menjadikan manusia sebagai…

Ah!

Maha Besar Tuhan Sang Pemilik Alam Semesta Beserta Seluruh Isinya.

Sekali lagi, betapa ngeri membayangkannya saja.

Tapi, sudahlah, lupakan, anggap saja imagi saya tersebut terlalu absurd.

Saya tidak hendak bercerita tentang kengerian-kengerian yang berpotensi menciptakan mimpi buruk dalam peraduan.

Saya ingin bercerita betapa selama ini banyak kerabat, sahabat, teman, dan kolega-kolega lain yang salah sangka dan mengira saya sebagai Naga Lyla bahwa pada hari ini, Sabtu tanggal 16 Januari 2016, seorang gadis manis yang pernah membawa saya kepada rumitnya labirin asmara dan nikmatnya secawan madu rindu yang dipanen dari sarang cinta diam-diam, sedang merayakan hari jadinya yang ke 25. Mungkin bersama kekasihnya.

Happy birthday to you…

Wish you all the best…

Tak ayal, ketika bangun tidur tadi pagi, saya pun sempat mengalami kegalauan. Tapi, bukan galau karena cinta yang berlalu dan tanpa sempat saya miliki ini, yaa… melainkan, galau menentukan menu sarapan.

Awalnya saya berinisiatif ingin masak sendiri saja sambil mempraktekkan hasil belajar dari chef-chef handal sekaliber -misalnya- Jamie Oliver melalui channel You Tube selama ini. Namun, tiba-tiba saya tersadar bahwa ternyata saya belum punya kompor, belum punya panci, belum punya teflon, belum punya pisau, belum punya talenan, belum punya bahan-bahan yang akan dimasak, dan belum punya….. istri #krik.

Okayy…

Pada dasarnya, saya bukan orang yang selalu memulai sarapan di waktu pagi. Meski sarapan itu sendiri selalu identik dengan waktu pagi. Sebagaimana mentari yang selalu terbit dari timur #halah. Memang di hari kerja dari Senin hingga Jumat, saya selalu mengawali sarapan pada pagi hari karena pada saat bekerja dibutuhkan energi yang mencukupi agar pekerjaan bisa terlaksana dengan sebagaimana mestinya. Akan tetapi tidak dengan akhir pekan.

Saat akhir pekan, biasanya saya mulai sarapan ketika hari sudah menjelang siang. Mendekati waktu Dhuhur. Karena setiap akhir pekan saya selalu bangun ketika hari sudah menjelang siang. Mendekati waktu Dhuhur. Diulang-ulang wae.. hehehe..

Sarapan di kantin-kantin sekitar kost-an cukup menjemukan. Hampir setiap hari sepulang kerja saya selalu makan malam di kantin-kantin sekitar kost-an. Sempat terfikir sarapan di Maidanglao yang hanya berjarak seperlemparan granat dari kost-an saya. Tapi, kok, ya, eman-eman, gitu, di Maidanglao satu menu Paket Panas Spesial yang terdiri dari Sekepal Nasi, Ayam Goreng, Scramble Egg, dan Es Lemon Tea dihargai (sudah termasuk pajak) Rp. 33 Ribu rupiah. Selain itu makanan cepat saji juga kurang sehat.

Setelah agak lama menimbang-nimbang sambil diiringi playlistnya Mbak Shumei, Sinden Taiwan Kesayangan, akhirnya, saya menjatuhkan pilihan sarapan di Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro yang berlokasi di Jalan KH. Sholeh Iskandar, Bogor, dekat Perumahan Cimanggu Permai dan Perumahan Bukit Cimanggu City.

Mbak Shumei 4.png

Mbak Shumei, Sinden Taiwan Kesayangan.

Karena lapar yang semakin mendera, maka, seusai mandi dan gosok gigi saya bergegas menuju tempat makan Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro dengan menumpang Bis Trans Pakuan. Untuk sementara waktu, BlūShumei, Vespa cantik kesayangan saya, masih dalam tahap perbaikan.

Rumah Makan Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro di Jalan KH. Sholeh Iskandar ini merupakan tempat makan favorit Ayah saya. Saya juga mengetahui tempat makan ini dari Ayah saya. Setiap kali Ayah saya singgah di Bogor dipastikan –paling tidak sekali- harus makan di sini. Menurut Ayah saya, di seantero Bogor ini Rumah Makan Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro di Jalan KH. Sholeh Iskandar ini merupakan tempat makan dengan sajian utama bebek yang sangat direkomendasikan dan paling nikmat dari semua yang ada. Daging bebeknya lembut, level pedas sambal koreknya cukup memadai dalam artian tidak terlalu pedas dan tidak terlalu tidak pedas, istilahnya Fifty Fifty, selain itu nasinya juga pulen, dan harganya cukup terjangkau.

Ya, apa yang dikatakan oleh Ayah saya memang terbukti.

Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro… –meminjam jargon Bondan “Wisata Kuliner” Winanro- … Mak Nyusss!

Alamat :

Kuliner Centre Jl.KH.Sholeh Iskandar  ( Depan Bukit Cimanggu City ) BOGOR 

 Fasilitas   : Parkir Luas , Mushola , Smoking & Non smoking area

 Kapasitas :  150 orang ( Lesehan dan duduk )

 Jam Buka : weekdays : 10:00 pagi sampai 21.00 malam

                      weekend  :  10:00 pagi sampai 22:00 malam  

Iklan

“Doesn’t Have A Point Of View”

Musim hujan hadir malu-malu melalui gerimis. Ada banyak kata berhamburan keluar dari dalam kepala. Berserakan di udara. Saya kesulitan untuk merangkainya. Hanya bisa terdiam terpaku menatap satu per satu huruf berjatuhan ke lantai karena tidak sanggup melawan gravitasi. Butir-butir air menghunjam raga dari ujung rumbut hingga ke dasar hati. Mengendapkan harapan/rindu… entah harapan/rindu kepada cinta yang mana…

Angin berhembus cukup kencang setiap hari, sejak menggeliatnya pagi, terik siang, sore nan sendu, malam ngelangut, sampai ke pagi lagi, begitu seterusnya pada bulan-bulan terakhir musim kemarau.

Jika pada suatu malam anda membutuhkan lagu-lagu pengantar tidur terbaik yang menghadirkan romansa suasana retro dengan sentuhan keindahan musik folk rock klasik membalut kekuatan makna lirik-lirik puitis nan apik dan tertuang dalam satu paket, barangkali album Rubber Soul karya The Beatles bisa menjadi rujukannya.

Gerimis datang sebentar menyiram benih-benih harapan. jika debit air kembali normal, maka hilang sedikit kekhawatiran. Air akan mengaliri sungai-sungai yang sekian lama telah menanggung dahaga tak terkira.

Bagi para pengecut, kata-kata disusun sedemikian rupa menjadi tameng untuk melindungi ketidakbecusannya.

Bagi para insan hukum, kata-kata mempunyai harga untuk membayar bagaimana setiap huruf terangkai dan sanggup membolak-balikkan fakta sehingga keadilan dan ketikdakadilan menjadi nisbi.

Bagi para pujangga, kata-kata dirangkai menjadi ayat-ayat mesra yang diseduh dalam secawan anggur yang sanggup memabukkan ratu paling cantik sedunia sekalipun, sehingga sang ratu jatuh dalam pelukan. Tak bisa lari kemana-mana karena hatinya telah tertambat pada makhluk yang sanggup menciptakan romansa melalui kata-kata. Pujangga.

Entahlah… ingin menulis apa lagi?

Sore – Sore Nyidam Sari

Momen lebaran Idul Adha kemarin saya manfaatkan untuk mudik ke kota kelahiran saya : Madiun. Tujuan utamanya sudah pasti sungkem ke Ayah dan Bunda sekalian minta didoakan supaya segera bertemu jodoh yang selama ini entah sedang melanglangbuana kemana menikmati lebaran Idul Adha yang sangat jarang sekali saya lalui di Madiun. Ya, walaupun baru beberapa bulan yang lalu, tepatnya saat lebaran Idul Fitri saya mudik, tapi, apalah daya, kerinduan akan rumah sukar dibendung.

Alhamdulillah, Ayah dan Bunda saya sehat walafiat dan mudah-mudahan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Hajat pulang kampung ini sempat terancam gagal gara-gara saya salah memilih tanggal keberangkatan ketika memesan tiket melalui website PT. KAI. Saya mengira libur Idul Adha ada di tanggal 25 September 2015, maka saya memesan tiket keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen ke Madiun pada tanggal 24 September 2015 menggunakan KA. Majapahit pukul 18.30 WIB, jadi saya tidak perlu ijin dari kantor. Untuk tiket kembali ke Jakarta, saya tetap menggunakan KA. Majapahit dari Madiun tanggal 26 September 2015 pukul 23.15 WIB, tepat di hari Sabtu, jadi ketika sampai di kost-an saya di kota Bogor saya masih punya waktu istirahat satu hari sebelum kembali beraktifitas di hari Senin.

Beberapa hari sebelum hari H mudik, saya baru menyadari kesalahan tanggal keberangkatan ketika melihat kalender di salah satu tempat makan di dekat kost-an saya. Maklum saya tidak punya kalender dan ketika memesan, saya hanya melihat tanggalan dari kalender hape jadul saya yang warnanya sudah pasti sama semuanya. Hitam. Saya kaget bukan kepalang. Saking paniknya saya tidak menyadari bahwa makanan saya sudah habis dan saya hanya menyendok angin.

Esoknya, sepulang kerja saya pontang-panting menuju ke Stasiun Bogor untuk menggeser jadwal keberangkatan dari tanggal 24 September 2015 ke tanggal 23 September 2015.

“Maaf, Mas, untuk jadwal 23 September 2015 sudah penuh semuanya.” Bait jawaban yang mengalir dari bibir Mbak petugas loket nan anggun itu seketika menusuk ke jantung hati.

“Kereta selain Majapahit masih ada yang kosong apa tidak, Mbak?” Tanya saya lagi dengan penuh harap. Mbak petugas loket hanya menggeleng-gelengkan kepala diiringi senyum penglipur lara yang tidak berhasil mengobati kekecewaan saya. Saya memutuskan untuk membatalkan tiket keberangkatan tersebut dan beralih ke moda transportasi bis Rosalia Indah.

Bayangan kemacetan yang mengular berkelebatan di kepala membuat saya seolah mabuk darat sebelum bis melaju dari pool nya. Namun, diluar dugaan, perjalanan menuju kota Madiun menggunakan bis Rosalia Indah nyaris bebas hambatan. Memang di beberapa titik seperti sudah pada umumnya, di Subang dan Indramayu, misalnya ada ruas-ruas jalan yang tidak beres. Atau tepatnya dari dulu tidak pernah beres. Diluar semua itu, perjalanan cukup bisa dinikmati.

Sama halnya dengan Bogor, Madiun juga belum turun hujan. Bedanya, musim kemarau di Madiun tidak terasa se-hareudang di Bogor. Mungkin karena tidak terlalu banyak kendaraan. Maklum, Madiun hanyalah kota perlintasan yang kecil. Terik mentari yang menari-nari bersama semilir angin semakin mesra dirasa dalam iringan tembang-tembang campursari khas karya-karya Manthous.

Di Madiun, tak lengkap rasanya apabila tidak sarapan Nasi Pecel Madiun yang ke-deliciousan-nya telah diakui khalayak ramai penikmat kuliner nusantara. Hanya dengan Rp. 42 Ribu Rupiah sudah bisa dapat enam porsi Nasi Pecel Madiun paling lezat sedunia dengan lauk rempeyek kacang dan gorengan tempe yang ukurannya segede gaban. Meminjam jargon Pak Bondan Winarno : Makyuss!

Nasi Pecel favorit saya adalah Nasi Pecel Pojok yang lokasinya tidak jauh dari rumah saya. Tepatnya berada di ujung persimpangan antara Jalan Cokroaminoto dan Jalan Ringin. Warung nasi pecel ini dikelola oleh keluarga Elang, teman SD saya. Elang ini berjenis kelamin perempuan. Dulu ketika masih sekolah, Elang bersama teman-teman sekelas yang akrab seperti Eva, Chandra, dan Deny sering sekali mengajak saya masak-masakan. Acaranya selalu di rumah saya karean letaknya yang cukup strategis. Secara berkala, setiap seminggu sekali, misalnya, di hari Sabtu, sepulang sekolah, Elang, Eva, Chandra, dan Deny pergi ke rumah saya dengan membawa peralatan-peralatan masak yang diperlukan yang sudah dibagi-bagi sesuai kesepakatan siapa bawa ini siapa bawa itu lalu belanja ke pasar mencari bahan baku. Jujur, dulu setiap kali mereka mencari saya ke rumah untuk acara masak-masakan itu, saya selalu lari bersembunyi karena malu. Bagi saya, masak-masakan itu bukan dolanannya laki-laki. Kalau sudah begitu, Bunda saya yang turun tangan menemukan saya untuk diserahkan ke mereka. Dewasa ini, bila teringat, saya justru kangen akan masa-masa tersebut. Apalagi belakangan banyak bermunculan Chef-Chef dari kalangan pria.

Setiap sore saya menikmati kemalasan di kedai kopi sambil bercengkrama bersama teman-teman sejawat yang memilih tetap bertahan di kampung halaman dengan segala idealismenya untuk memajukan kota Madiun melalui karya-karya orisinal buah pemikiran paling jernih.

saat menjelang senja ketika langit masih tampak cerah, saya duduk di beranda rumah bersama Bunda, mendengarkan wejangan-wejangan beliau yang akan selalu saya jadi pegangan agar hati dan fokus tidak goyah dalam menjalani kehidupan yang semakin ganas dan tak terprediksi. Warna lembayung yang perlahan mulai terlukis di ufuk barat mengiring sang surya undur diri menuju peraduan membuat suasana semakin emosional. Saya teringat akan waktu yang tidak bisa diperintah oleh manusia. Waktu tidak pernah peduli dengan permohonan untuk berhenti sejenak demi sebuah kebahagiaan yang sedang berlangsung. Seolah seperti sebuah pintu yang baru saya saya tutup dan tinggalkan, masa kanak-kanak yang indah telah berlalu sekian jauhnya. Saya menatap Bunda yang selalu sabar mendampingi saya hingga dewasa. Tiba-tiba saya seperti dihadapkan pada layar film yang menayangkan masa-masa ketika Bunda mengantar saya ke sekolah. Bunda membawa saya ke dokter ketika pilek lalu saya merengek-rengek minta dibelikan layang-layang. Bunda dengan tekun menemani saya mengerjakan PR Matematika dari guru paling killer semasa SD yang membuat saya jadi membenci pelajaran tersebut sehingga sampai sekarang saya paling bodoh soal Matematika. Ah, saya ingin kembali ke fragmen hidup ketika itu kemudian menekan tombol “On” dan tetap berada di sekitarnya. Setiap selesai saya putar kembali. Begitu seterusnya hingga malaikat Israfil meniup sangkakala tanda berakhirnya dunia beserta seluruh isinya. Saya tidak ingin jauh dari Bunda. Saya ingin tetap menjadi anak kecil dalam belaian dan lindungan Bunda.

Di depan rumah saya terhampar halaman yang lumayan luas. Di malam terakhir, setelah menunaikan ibadah sholat Isya’, saya menikmati kilau gemintang yang merubungi rembulan di jagad malam. Tampak riang sekali. Seolah keriuhannya terdengar meski dari jarak ratusan tahun cahaya. Sambil terus menatap warna ceria di langit, hati saya bergumam : “Seandainya masih ada semalam lagi di Madiun.”

You’ve Got To Hide Your Love Away

Here I stand head in hand
Turn my face to the wall
If she’s gone I can’t go on
Feelin’ two-foot small

Everywhere people stare
Each and every day
I can see them laugh at me
And I hear them say

Hey you’ve got to hide your love away
Hey you’ve got to hide your love away

How can I even try
I can never win
Hearing them, seeing them
In the state I’m in

How could she say to me
Love will find a way
Gather round all you clowns
Let me hear you say

Hey you’ve got to hide your love away
Hey you’ve got to hide your love away

Ketemu Barbershop yang (bisa diajak) satu visi itu memang menyenangkan. Dari menit pertama saya masuk sudah disuguhi playlistnya The Beatles. Ketika kapsternya tanya tentang model yang saya inginkan, saya tinggal jawab : “ala The Beatles, ya, moptop britpop/rock gitu, bisa kan?” …. “Siap, Mas.” Jawab si kapster penuh percaya diri.. Dan hasilnya setengah jam kemudian, di depan cermin saya sampai pangling dan sukar membedakan antara diri saya sendiri dengan Paul McCartney.. hehehehhe..

Konon, musik dan lirik tembang You’ve Got To Hide Your Love Away yang terdapat pada Album The Beatles – Help rilisan tahun 1965 tersebut ditulis oleh John Lennon sebagai ungkapan perasaannya kepada Brian Epstein, manajer The Beatles kala itu yang diduga adalah seorang homoseksual. Melalui kiasan-kiasan lirik yang tersusun apik dan puitis dalam lagu tersebut, John Lennon seperti hendak mengatakan bahwa dirinya juga seorang biseksual yang bisa memenuhi hasrat cinta yang ganjil diantara mereka. Brian Epstein telah berjasa membesarkan The Beatles melalui strategi, manajemen, dan sentuhan jeniusnya dalam industri musik era 1960-an. Gaya vokal John Lennon pada lagu tersebut terinspirasi oleh penyanyi pop-rock balada Amerika yang terkenal dengan lirik-lirik bertema sosial, Bob Dylan.

You’ve Got To Hide Your Love Away nampak bersahaja namun berisi dan penuh misteri, hanya dibawakan dengan John Lennon sebagai vokalis tunggal tanpa suara latar sambil memainkan gitar 12 senar, ditingkahi petikan bass Paul McCartney, George Harrison menyelaraskan harmoni melalui cuplikan gitar akustik klasik 6 senar, dan Ringgo Starr menimpalinya dengan brushed snare drum, tamborin, marakas. Seorang pemain tambahan bernama John Scott mengisi suara tenor dan alto flutes.

Bagi saya lagu tersebut memiliki kenangan tersendiri.

Selama hampir tujuh tahun magang di salah satu Instansi Pemerintahan yang berlokasi di Kompleks Pemerintahan Daerah Kabupaten Bogor sambil (berusaha) menyelesaikan Studi Strata 1 jurusan Agribisnis di Institut Pertanian Bogor menggiring saya pada rumitnya pusaran labirin rasa jatuh cinta.

Cinta yang pada akhirnya harus saya sembunyikan selama mungkin hingga saya lulus kuliah dan memilih untuk mengundurkan diri.

Memang salah saya sendiri tidak punya rasa percaya diri dan mudah minder. Saya hanya mahasiswa magang yang tinggal di kamar kost berukuran 4 m x 4 m seharga Rp. 500.000,- per bulan yang berada tepat di jantung Kota Bogor. Sedangkan perempuan pujaan hati saya itu adalah putri seorang amtenaar. Bukan main skala kesenjangan diantara kami. Ibarat langit dan bumi. Dia langit, saya Bumi.

Pepatah Jawa pernah menuturkan “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”. Terjemahan bebasnya, Cinta Hadir Karena Terbiasa. Secara kebetulan meja kerja perempuan pujaan hati saya itu berada tepat di sebelah kiri meja kerja saya. Meski jarang sekali ngobrol –karena saya memang cenderung pendiam dan kurang asik, tak heran saya tidak punya cukup banyak kawan– tapi lama-kelamaan saya merasa terbiasa ada perempuan pujaan hati saya itu di samping saya dalam arti sebagai rekan kerja. Saya selalu merasa ada yang kurang jika perempuan pujaan hati saya itu sedang tidak masuk kantor karena sesuatu lain hal, sakit, misalnya.

Pelan-pelan, perasaan terbiasa ada perempuan pujaan hati saya itu di samping saya dalam arti sebagai rekan kerja dan terasa ada yang kurang apabila perempuan pujaan hati saya itu tidak masuk kerja tersebut menumbuhkan benih-benih rindu di setiap malam dan mewujud menjadi mimpi-mimpi romantis dalam peraduan.

Pada hari-hari selanjutnya, saya mulai terprovokasi oleh perasaan yang tak pasti. Perasaan yang mungkin hanya bersemi di ladang hati saya saja. Perasaan yang berpotensi menempatkan diri saya sebagai pihak yang –akan- menerima takdir cinta bertepuk sebelah tangan.

Sempat saya berencana mengungkapkan perasaan saya yang sesungguhnya. Perkara diterima atau tidak diterima itu urusan lain. Saya sudah siap menanggung segala resikonya. Tapi, seperti yang sudah saya kemukakan di awal tadi, rasa minder dan kurang percaya diri selalu menyergap dari segala penjuru arah mata angin. Utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut… saya tersudut.

Saya segera melupakan rencana tersebut bertepatan dengan Dosen Pembimbing saya yang sudah tidak sabar melihat saya lekas lulus dari kampus. Alhamdulillah, saya dibimbing Dosen yang baik hati, pengertian dan perhatian. Pada saat membimbing, Dosen saya juga sedang sibuk dengan Desertasi S3 (Doctor)-nya. Uniknya lagi, saya dan Dosen Pembimbing saya diwisuda pada hari yang sama. Bangga sekali rasanya. Saking baiknya, ketika beliau dipanggil ke depan untuk penyematan tanda kewisudaan, banyak mahasiswa yang memberikan applause, mungkin karena merasa berkesan atas bimbingan beliau. Rata-rata bimbingan beliau lulus dengan cepat dan tepat waktu. Hanya saya yang berlarut-larut dikarenakan agak kewalahan menyeimbangkan jadwal bimbingan dan perbaikan Skripsi dengan pekerjaan. Dari mulai kolokium, pengambilan data, pengolahan data, seminar hasil, sampai sidang, total jendral memakan waktu dua tahun. Padahal, jika saya mau rajin sedikit saja, mungkin bisa terselesaikan dalam tempo satu tahun.

Beberapa hari setelah seremonial kelulusan yang membuncahkan harapan baru, saya meminta ijin kepada atasan saya untuk mengambil cuti selama dua minggu. Ketika ditanya alasannya, saya jawab sejujurnya saja bahwa saya sedang butuh refreshing setelah melalui minggu-minggu yang sangat penat. Saya pergi mengunjungi seorang sahabat saya yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Wellington, New Zealand. Anehnya, selama berada di sana, saya tidak merasa tenang karena dihantam rindu yang begitu menyiksa. Rindu kepada perempuan pujaan hati saya itu.

Perjalanan menumbuhkan keberanian. Saya mulai meniatkan untuk segera mengungkapkan perasaan saya yang sesungguhnya sesampainya kembali di tanah air. Dalam bayangan saya, perempuan pujaan hati saya itu akan menjadi istri dan ibu bagi anak-anak saya kelak. Dan, sebagaimana umumnya orang yang sedang jatuh cinta, saya jadi semakin rajin beribadah.

Namun, dua minggu kemudian, sepulangnya dari liburan, kenyataan berkata lain. Niat tulus yang telah di ujung bibir harus saya belesakkan kembali mentah-mentah ke dalam kerongkongan karena perempuan pujaan hati saya itu sudah jadian dengan laki-laki lain yang lebih gesit mengambil peluang dari saya. Dan yang membuat saya menjadi canggung bukan kepalang, laki-laki tersebut adalah teman satu kantor juga. Satu ruangan pula. Hanya berjarak beberapa meja saja. Asem tenan.

Kata-Kata Ngenes yang Bikin Nyesek

Gambar Diambil Dari Sini

Patah hati, sudah pasti. Tapi, haruskah saya marah dan kesal kemudian pulang dan mengurung diri di kamar selama-lamanya?… Ah, saya pikir, saya tidak perlu menjadi se-dramatis itu. Toh, memang salah saya sendiri. Walaupun di dalam dada rasanya nyesek setiap melihat mereka bermesra di hadapan saya, kecemburuan itu sesegera mungkin saya konversi menjadi senyum optimisme menghadapi babak hidup selanjutnya.

Tidak ingin berlama-lama terjebak dalam kubangan nestapa cinta, saya memutuskan mengundurkan diri dan berpindah ke rumah baru yang menawarkan mimpi-mimpi segar. Saya melakukannya semata-mata agar semua tetap berjalan normal bagi saya. Agar tujuan-tujuan meraih masa depan tidak berbelok dan menjadi tak tentu arah.

Belakangan saya mensyukuri kondisi tersebut. Tanpa melalui momen getir itu, mungkin sampai sekarang saya masih jalan di tempat. Patah hati itu memang harus terjadi untuk menelanjangi kepicikan saya dan agar pikiran saya bisa terbuka dalam memandang setiap peristiwa dari banyak sisi. Agar mata hati saya bisa melihat peluang yang lebih lapang di tempat lain. Masih banyak orang-orang yang diliputi ketidakberuntungan oleh sebab harapan yang tak tergapai. Sekali lagi, saya bersyukur masih bisa berdiri tegak dan merasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa.