Oasis : Rock And Roll Yang Cukup Cuek

Oasis1

Oasis Formasi Awal pasca keluarnya Tony McCarroll, dari Kiri ke Kanan : Liam Gallagher, Paul “Guigsy” McGuigan, Paul “Boneheads” Arthurs, Alan White, Noel Gallagher.

Saya sedang butuh pelepasan. Saya perlu menulis bebas sejenak sebelum kembali ke ranah ilmiah sebagai menu keseharian yang tersaji diatas bejana-bejana perak berkilauan. Kebiasaan menulis bebas tanpa pakem ini saya gunakan sebagai semacam therapy yang berangkat dari sebentuk kebosanan yang telah sedemikian rupa mengkristal. Butuh untuk dicairkan agar-agar ide-ide yang hendak disampaikan bisa mengalir lagi. Ibaratnya saya sedang ingin menuju ke suatu tempat melalui jalan yang tidak biasanya. Meskipun harus memutar jauh, namun, saya cukup menikmati pemandangan dan atau suasana yang terhampar.

Saya sangat mencintai musik walaupun saya bukan seorang pemain musik yang baik. Mungkin, lebih tepat disebut sebagai penikmat musik. Dewasa ini saya mendengarkan musik apa saja kecuali pop melayu ala-ala Charly Van Houten ST 12/Setia Band dan Kangen Band. Sejujurnya, musik Melayu yang sesungguhnya sangat indah, boleh dicoba dengarkan Cindai milik Siti Nurhaliza.

Mood saya dalam menikmati musik bisa dengan mudah berubah-ubah. Saya bisa tiba-tiba mendengarkan lagu-lagu boyband era 90’an sampai 2000’an, seperti NKOTB, Bed And Breakfast, BSB, N’SYNC, Boyzone, hingga Blue. Atau, tiba-tiba saya ingin mendengarkan lagu-lagu dari era Grunge hingga Post-Grunge, seperti Nirvana, Pearl Jam, Green River, Silverchair, The Vines, Foo Fighters, Puddle Of Mudd. Atau, tiba-tiba saya mendengarkan musik-musik era Punk Rock, seperti The Ramones, Rancid, Sex Pistols, MXPX, The Misfits, The Offspring, The Clash, NOFX, Green Day, Blink 182. Atau, tiba-tiba saya mendengarkan band-band rock alternatif, seperti Weezer, Matchbox Twenty, Radiohead, Muse, Red Hot Chilli Pepper, R.E.M, The Smashing Pumkins, The Cure, Fastball, Incubus. Atau, tiba-tiba saya mendengarkan lagu-lagu pop dan pop rock alternatif, seperti The Cardigans, Sixpences None The Richer, Natalie Imbruglia, The Corrs, Lenne Marlin, Jennifer Paige, Firehouse, Sioen, Lighthouse Family, Savage Garden. Atau, tiba-tiba saya mendengarkan lagu-lagu era new wave, seperti Duran Duran, A-Ha, Tears For Fears, Level 42. Atau, tiba-tiba saya mendengarkan lagu-lagu rock and roll ala Inggris, seperti The Beatles, The Rolling Stones, Oasis, Blur, The Verve. Atau, tiba-tiba saya mendengarkan lagu-lagu Taiwanesse Mandarin milik Mbak Shumei, sinden Taiwan kesayangan. Atau, tiba-tiba saya mendengarkan lagu-lagu Campursari Jawa, lagu-lagu Sunda, lagu-lagu Aceh, lagu-lagu Batak, lagu-lagu Minang, lagu-lagu Manado, lagu-lagu Flores, hingga lagu-lagu dangdut era 90’an. Dan, masih banyak lagi.

Untuk lagu-lagu Indonesia, saya cukup menggemari Dewa 19 era Bayi 19, Format Masa Depan, Terbaik Terbaik, Pandawa Lima. Menurut saya, keempat album tersebut merupakan karya paling revolusioner milik Dewa 19 sepanjang karirnya. Selain itu saya juga sangat menyukai band-band yang mengusung lirik-lirik puitis pad tiap karyanya, seperti KLA Project, Jikustik, Letto, Sheila On 7, dan Java Jive.

Namun demikian, diantara semuanya, yang benar-benar mewakili idealisme saya adalah karya atau genre musik yang diusung oleh The Beatles dan Oasis. Lebih khususnya, dalam tulisan ini, saya akan membahas lebih jauh tentang Oasis, band yang digawangi oleh kakak beradik Noel Gallagher dan Liam Gallagher.

Secara style, Oasis sendiri sebenarnya sangat terpengaruh oleh The Beatles. Ya, kita semua tahu, The Beatles adalah salah satu kiblat musik yang masih abadi hingga saat ini meski dua anggotanya, John Lennon dan George Harrison telah tiada dan menyisakan dua personel lainnya, Paul McCartney dan Ringo Starr. Paul McCartney masih eksis berkarya sampai saat ini dan telah menelurkan puluhan album. Oasis juga sering membawakan lagu-lagu The Beatles baik di album maupun saat konser, salah satunya yang paling ikonik adalah I Am The Walrus yang diambil dari album The Beatles-The Magical Mystery Tour rilisan tahun 1967.

Secara umum, Oasis mengusung genre rock and roll yang cukup cuek namun dibalut lirik-lirik yang sarat makna, meski kadang beberapa diantaranya banyak yang terkesan ngawur. Saya suka dengan distorsi melodi dari Noel Gallagher. Saya suka lirik-lirik gubahan Noel Gallagher. Porsinya selalu pas, tidak berlebihan, dan mudah dipahami.

Meski Oasis telah bubar, tapi karya-karya mereka tidak dilupakan. Beberapa lagu yang cukup populer, antara lain Live Forever, Don’t Look Back In Anger, Don’t Go Away, Stand By Me, Whatever, Champagne Supernova, Do You Know What I Mean?, dan Married With Children.

Perpecahan Oasis dipicu oleh konflik internal antara Noel Gallagher dan Liam Gallagher yang sudah terjadi sejak lama. Puncaknya pada tour promo album terakhir Oasis berjudul Dig Out Your Soul, Liam Gallagher sering absen. Padahal, sebagai vokalis, dia menjadi daya tarik utama band. Hal ini sebenarnya telah menjadi salah satu kebiasaan buruk Liam Gallagher yang paling sering dilakukan. Noel Gallagher sendiri sudah cukup mahfum, sehingga tidak mengherankan jika di banyak konser-konser atau penampilan live Oasis, Noel Gallagher, disamping sebagai lead guitarist, sekaligus juga bertindak sebagai vokalis. Pekerjaan yang cukup mudah bagi Noel Gallagher jika mengingat fakta, bahwa hampir 98 % lagu-lagu Oasis adalah karya Noel Gallagher. Sesuai dengan kesepakatan awal saat band ini terbentuk, dalam penciptaan karya lagu, Noel Gallagher memang terkesan mendominasi namun terbukti karya-karyanya adalah ruh bagi band, sehingga peran Liam Gallagher sebagai vokalis utama dengan segala tingkah polahnya terkesan hanya sebagai stimulus visual saja.

Dinukil dari artikel di majalah Rolling Stones edisi tanggal 12 Juli 2011, pada saat diwawancari oleh BBC Radio 1, Liam Gallagher, meski tidak membantah telah ikut berkontribusi atas pecahnya Oasis, namun, dia juga membantah semua hal yang dikatakan oleh Noel Gallagher mengenai pernyataannya yang menyatakan bahwa penyebab batalnya Oasis tampil pada V Festival 2009 adalah dikarenakan Liam Gallagher mabuk (alkohol) terlalu parah. Disamping itu, masih menurut Noel Gallagher, penyebab lainnya adalah karena Liam Gallagher ingin memasukkan iklan label clothing miliknya, Pretty Green, di dalam program tur mereka. Ketidaksepahaman soal tersebut hampir membawa kakak-beradik itu terlibat adu pukul.

Disela-sela acara peluncuran album solo pertamanya, Noel Gallagher’s High Flying Birds, Noel Gallagher juga menjelaskan mengenai kejadian di belakang panggung Rock En Seine di Paris 2009 silam, menurutnya, pada saat itu Liam Gallagher memegang gitar layaknya sebuah kampak dan nyaris memukul wajahnya.

Noel Liam 2

Dari kiri ke kanan : Liam Gallagher dan Noel Gallagher.

 

Selepas perpecahan Oasis dan mendapati kenyataan bahwa Noel Gallagher sudah terbang tinggi bersama proyek Noel Gallagher’s High Flying Birds-nya, Liam Gallagher, bersama anggota terakhir Oasis yang tersisa, yaitu Gem Archer (gitar),  Andy Bell (bass), dan Chris Sharrock (drum) melanjutkan band dengan nama baru, Beady Eye. Chris Sharrock merupakan anggota paling baru yang ikut membantu Oasis karena drummer sebelumnya, Alan White, mengundurkan diri pada 2008-2009, menjelang Oasis bubar. Beady Eye juga merekrut anggota baru, Jay Mehler yang merupakan mantan bassist Kasabian.

Beady Eye sendiri hanya bertahan dengan dua album, diantaranya Different Gear Still Speeding pada 2011 dengan single andalan The Beat Goes On, dan album BE pada 2013 dengan single Flick Of The Finger. Setelah itu, Beady Eye seolah tidak terdengar lagi gaungnya. Sedangkan Noel Gallagher bersama proyek solonya, Noel Gallagher’s High Flying Birds masih eksis dengan tiga album yang telah sukses dikemas, diantaranya Noel Gallgher’s High Flying Birds – Self Titled (2011), Noel Gallagher’s High Flying Birds – Song From The Great White (2012), dan Noel Gallagher’s High Flying Birds – Chasing Yesterday (2015).

beadyeye2014promo

Beady Eye, dari kiri ke kanan : Chris Sharrock, Gem Archer, Liam Gallagher, Andy Bell, Jay Mehler.

Yang lebih menarik adalah fakta bahwa drummer Oasis selalu berzodiac Gemini. Mulai dari Tony McCarroll, kelahiran 4 Juni 1971, drummer pada era Definitely Maybe (1994) yang kemudian digantikan oleh Alan White, kelahiran 26 Mei 1972, drummer era (What’s The Story) Morning Glory? (1995), Be Here Now (1997), The Masterplan (1998), Standing On The Shoulder Of Giants (2000), Familiar To Millions (2000), Heathen Chemistry (2002), Don’t Believe The Truth (2005), dan Dig Out Your Soul (2008). Di tengah-tengah tur album Dig Out Your Soul, seiring perseteruan antara Noel Gallagher dan Liam Gallagher yang mustahil dibendung, Alan White memutuskan untuk mengundurkan diri dan posisinya digantikan oleh Chris Sharrock, kelahiran 30 Mei 1964. Selain ketiga drummer tersebut, Noel Gallagher sendiri juga berzodiac Gemini kelahiran 29 Mei 1967.

Oasis tonymccarroll1

Tony McCarroll.

Sejarah Oasis, dicuplik dari situs Wikipedia, dimulai pada tahun 1991, dibentuk di kota Manchester, Inggris, Noel Gallagher dan Liam Gallagher tumbuh menjadi pendukung setia tim Liga Primer Inggris, Manchester City. Personel awal Oasis pada album pertama, Definitely Maybe (1994) adalah Liam Gallagher (vocal), Noel Gallagher (lead guitarist), Paul “Boneheads” Arthurs (guitarist), Paul “Guigsy” McGuigan (bassist), dan Tony McCarroll (drum).

Tahun berikutnya, 1995, Oasis merilis album baru bertajuk (What’s The Story) Morning Glory? Bersama drummer baru, Alan White. Gaya hidup liar/urakan serta perselisihan antara Noel Gallagher dan Liam Gallagher menjadi santapan empuk media karena dianggap sebagai berita yang menguntungkan.

Oasis merilis album ketiga mereka, Be Here Now, pada tahun 1997. Album Be Here Now tercata memiliki angka penjualan tercepat dalam sejarah musik di Inggris, meski begitu, popularitas album dengan single andalan, Don’t Go Away, dengan warna rock ballad yang sangat renyah didengar di telinga ini menurun sangat cepat. Selanjutnya, pada 1998, Oasis merilis album The Masterplan.

Pasca album The Masterplan, Oasis harus kehilang dua personel utama mereka, yaitu Paul “Boneheads” Arthurs (guitarist) dan Paul “Guigsy” McGuigan (bassist) pada saat proses rekaman dan akan rilis album Standing On The Shoulder Of Giants karena mereka sudah tidak tahan dengan gaya hidup serta kelakuan minus Noel Gallagher dan Liam Gallager yang seolah tidak pernah berhenti berselisih.

Pada tahun 2000, Oasis memperkenalkan anggota baru mereka, Gem Archer yang berperan menggantikan Paul “Boneheads” Arthur (guitarist) dan Andy Bell yang berperan menggantikan Paul “Guigsy” McGuigan (bassist) pada saat perilisan album Standing On The Shoulder Of Giants. Masa transisi cukup berpengaruh pada eksistensi band kontroversial ini. Pada tahun 2002, Oasis menegeluarkan album berjudul Heathen Chemistry.

Oasis berhasil menemukan kesuksesan dan popularitasnya kembali melalui album Don’t Believe The Truth pada tahun 2005. Pada album Don’t Believe The Truth, tidak lama setelah Alan White mengundurkan diri, sebelum Chris Sharrock masuk, proses rekaman tersebut untuk mengisi posisi drum sempat dibantu oleh Zak Starkey, putra dari legenda The Beatles, Ringo Starr.

Tiga tahun kemudian, pada tahun 2008, Oasis mengeluarkan album Dig Out Your Soul yang menjadi album terakhir mereka karena tidak lama kemudian Noel Gallagher memilih untuk mengundurkan diri oleh sebab-sebab yang telah diceritakan di atas sebelumnya.

Oasis 2000

Formasi Oasis pasca keluarnya Paul Arthurs dan Paul McGuigan, dari kiri ke kanan : Liam Gallagher, Gem Archer, Alan White, Andy Bell, Noel Gallagher.

Sepanjang karir band, Oasis pernah memuncaki posisi satu di tangga musik inggris. Oasis juga pernah memenangi lima belas NME Awards, sembilan Q Awards, empat MTV Europe Music Awards, dan enam Brit Awards, termasuk salah satunya pada tahun 2007 untuk kontribusi luar biasa terhadap musik dan satu untuk album terbaik dalam 30 tahun terakhir berdasarkan polling pendengar BBC Radio 2. Oasis juga pernah dinominasikan untuk tiga buah Grammy Awards. Terhitung per 2009, Oasis telah menjual sekitar 70 juta copy rekaman mereka di seluruh dunia.

Pada tahun 2010, Oasis terdaftar dalam Guinness Book Of World Records untuk kategori “ Longest Top 10 UK Chart Run By A Group “ atas keberhasilan memposisikan 22 single hits di top-10 chart musik Inggris. Oasis juga dinobatkan oleh Guinness Book Of World Records sebagai entitas musik tersukses antara tahun 1995 hingga 2005, menduduki Top Chart Music 75 selama 765 minggu.

Menurut kabar terakhir, hubungan antara Noel Gallagher dan Liam Gallagher sudah mulai membaik, namun mereka masih enggan berkomentar mengenai wacana reuni Oasis.

Diskografi :

1. Definitely Maybe 1994

Definitely Maybe.

Definitely Maybe dirilis pada tanggal 29 Agustus 1994.

Songs :

  1. Rock ‘N’ Roll Star.
  2. Shakermaker.
  3. Live Forever.
  4. Up In The Sky.
  5. Columbia.
  6. Supersonic.
  7. Bring It On Down.
  8. Cigarettes & Alcohol.
  9. Digsy’s Dinner.
  10. Slide Away.
  11. Married With Children.
1d75ae98332f2c87a3de4802bdb176481d9febb4

(What’s The Story) Morning Glory?

(What’s The Story) Morning Glory? dirilis pada tanggal 2 Oktober 1995.

Songs :

  1. Hello.
  2. Roll WIth It.
  3. Wonderwall.
  4. Don’t Look Back In Anger.
  5. Hey Now.
  6. The Swamp Song [Version 1].
  7. Some Might Say.
  8. Cast No Shadow.
  9. She’s Electric.
  10. Morning Glory.
  11. The Swamp Song [Version 2].
  12. Champagne Supernova.
beherenow

Be Here Now.

 Be Here Now dirilis pada tanggal 21 Agustus 1997.

Songs :

  1. D’You Know What I Mean?
  2. My Big Mouth.
  3. Magic Pie.
  4. Stand By Me.
  5. I Hope, I Think, I Know.
  6. The Girl In The Dirty Shirt.
  7. Fade In-Out.
  8. Don’t Go Away.
  9. Be Here Now.
  10. All Around The World.
  11. It’s Getting Better [Man!!].
  12. All Around The World [Reprise].
MasterplanOasisalbumcover

The Masterplan.

The Masterplan dirilis pada tanggal 3 November 1998.

Songs :

  1. Acquiesce.
  2. Underneath The Sky.
  3. Talk Tonight.
  4. Going Nowhere.
  5. Fade Away.
  6. The Swamp Song.
  7. I Am The Walrus (Live).
  8. Listen Up.
  9. Rockin’ Chair.
  10. Half The World Away.
  11. (It’s Good) To Be Free.
  12. Stay Young.
  13. Headshrinker.
  14. The Masterplan.
Oasis_-_Standing_On_The_Shoulders_Of_Giants_-_front

Standing On The Shoulder Of Giants.

Standing On The Shoulder Of Giants dirilis pada tanggal 28 February 2000.

Songs :

  1. Fuckin’ In The Bushes.
  2. Go Let It Out.
  3. Who Feels Love?
  4. Put Yer Money Where Yer Mouth Is.
  5. Little James.
  6. Gas Panic!
  7. Where Did It All Go Wrong?
  8. Sunday Morning Call.
  9. I Can See A Liar.
  10. Roll It Over.
  11. Let’s All Make Believe.
51uC+US1KfL

Heathen Chemistry.

Heathen Chemistry dirilis pada tanggal 1 July 2002.

Songs :

  1. The Hindu Times.
  2. Force Of Nature.
  3. Hung In A Bad Place.
  4. Stop Crying Your Heart Out.
  5. Songbird.
  6. Little By Little.
  7. A Quick Peep (Instrumental).
  8. (Probably) All In The Mind.
  9. She Is Love.
  10. Born On A Different Cloud.
  11. Better Man
  12. The Cage (Hidden Track).
Oasis_Don't_Believe_the_Truth

Don’t Believe The Truth.

Don’t Believe The Truth dirilis pada tanggal 30 May 2005.

Songs :

  1. Turn Up The Sun.
  2. Mucky Fingers.
  3. Lyla.
  4. Love Like A Bomb.
  5. The Importance Of Being Idle.
  6. The Meaning Of Soul.
  7. Guess God Thinks I’m Abel.
  8. Part Of The Queue.
  9. Keep The Dream Alive.
  10. A Bell Will Ring.
  11. Let There Be Love.
oasis-dig_out_your_soul-frontal

Dig Out Your Soul.

Dig Out Your Soul dirilis pada tanggal 1 Oktober 2008.

Songs :

  1. Bag It Up.
  2. The Turning.
  3. Waiting For The Rapture.
  4. The Shock Of The Lightening.
  5. I’m Outta Time.
  6. (Get Off Your) High Horse Lady.
  7. Falling Down.
  8. To Be Where There’s Life.
  9. Ain’t Got Nothin’.
  10. The Nature Of Reality.
  11. Soldier On.
  12. I Believe In All.
  13. The Turning (Alt. Version #4).
Time_Flies_1994-2009_album_cover

Time Flies… 1994-2009.

Time Flies… 1994-2009 merupakan album kompilasi yang memuat 27 lagu-lagu terbaik Oasis sepanjang tahun 1994 hingga 2009. Album ini dirilis pada tanggal 14 Juni 2010.

Songs :

Disc 1

  1. Supersonic (Definitely Maybe, 1994).
  2. Roll With It (What’s The Story Morning Glory?, 1995).
  3. Live Forever (Definitely Maybe, 1994).
  4. Wonderwall (What’s The Story Morning Glory?, 1995).
  5. Stop Crying Your Heart Out (Heathen Chemistry, 2002).
  6. Cigarettes & Alcohol (Definitely Maybe, 1994).
  7. Songbird (Heathen Chemistry, 2002).
  8. Don’t Look Back In Anger (What’s The Story Morning Glory?, 1995).
  9. The Hindu Times (Heathen Chemistry, 2002).
  10. Stand By Me (Be Here Now, 1997).
  11. Lord Don’t Slow Me Down (Single, 2007).
  12. Shakermaker (Definitely Maybe, 1994).
  13. All Around The World (Be Here Now, 1997).

Disc 2

  1. Some Might Say (What’s The Story Morning Glory?, 1995).
  2. The Importance Of Being Idle (Don’t Believe The Truth, 2005).
  3. D’You Know What I Mean? (Be Here Now, 1997).
  4. Lyla (Don’t Believe The Truth, 2005).
  5. Let There Be Love (Don’t Believe The Truth, 2005).
  6. Go Let It Out (Standing On The Shoulder Of Giants, 2000).
  7. Who Feels Love? (Standing On The Shoulder Of Giants, 2000).
  8. Little By Little (Heathen Chemistry, 2002).
  9. The Shock Of The Lightening (Dig Out Your Soul, 2008).
  10. She Is Love (Heathen Chemistry, 2002).
  11. Whatever (Single, 1994).
  12. I’m Outta Time (Dig Out Your Soul, 2008).
  13. Falling Down (Dig Out Your Soul, 2008).
  14. Sunday Morning Call (Standing On The Shoulder Of Giants, 2000).

 

 

Lost

Coldplay : Up & Up

Dihinggapi bosan. Keheningan tiba-tiba memenuhi isi kepala. Hampa. Ide-ide enggan menghampiri. Dan rasa kantuk pun perlahan mulai menyerang. Ingin menyempurnakannya dengan tidur, barangkali bisa terbawa mimpi bertemu pujaan hati, namun, tak ada kasur.

Tinggalkan sejenak aksara-aksara yang beterbangan tak tentu arah dalam benak fikiran.

Semalam saya baru saja kembali dari Solo untuk sebuah acara yang berkaitan dengan pekerjaan saya. Sesaat setelah mendarat, aroma bandara, desing mesin-mesin pesawat, dan semerbak wangi parfum pramugari-pramugari yang tertinggal, membuncahkan kembali kerinduan melihat keberagaman dari berbagai penjuru dunia dan sekaligus menikmati kesendirian sambil menjadi manusia asing di tengah negeri-negeri antah berantah nan masyhur dengan segala dinamikanya.

Kadang saya berfikir hingga merasa khawatir, bagaimana jika pada suatu masa mendatang, segerombolan makhluk entah dari mana yang memiliki tingkat kecerdasan 1 % di atas tingkat kecerdasan manusia berkunjung ke Planet Bumi lalu menganggap manusia sebagai tanaman, misalnya.

Mungkin sebagian dari mereka akan membudidayakan.

Mungkin sebagian dari mereka mengkonsumsi sebagai bahan makanan.

Mungkin sebagian dari mereka akan menebangi.

Mungkin sebagian dari mereka akan menginjak-injak seperti semak.

Mungkin sebagian dari mereka…

Ah! Entahlah! Ngeri membayangkannya!

Beberapa waktu yang lalu saya juga sempat bertemu teman zaman kuliah dulu. Dia telah tumbuh menjadi wanita dewasa dan sebagai ibu dari dua anak. Dia terlihat jauh lebih manis dengan kacamata dan parasnya yang tampak segar mewarnai pipi tembemnya.

Saya jadi teringat long weekend pada dua minggu yang lampau. Saya gagal pulang kampung karena kehabisan tiket kereta api. Sempat terbesit niat untuk menggunakan bis menuju kampung halaman, tapi bayangan kemacetan menyiutkan nyali saya. Kemacetan hanya akn membuat saya stress bukan kepalang. Kemudian, saya melalui long weekend di kota tempat saya berdomisili saat ini. Bogor.

Enam kegiatan utama saya pada saat long weekend kemarin adalah tidur, mandi (sehari sekali), wisata kuliner, pergi ke toko buku (Gramedia), mendatangi majelis musik untuk belajar memainkan gitar, dan menonton film. Kesibukan yang saya ciptakan bagi diri sendiri tersebut membuat long weekend seolah menggelinding begitu saja tanpa bisa dikendalikan sejenak untuk sedikit bonus pada ruang-ruang bagi kemalasan. Long weekend ibarat melati pujaan hati yang hadir memanjakan di atas peraduan penuh cinta. Maka, ketika long weekend hendak atau bersiap untuk berlalu menghantar ke gerbang rutinitas kembali, kerinduan akannya menjadi tak tertanggungkan, menancap dalam hingga ke palung kalbu.

Pernah tidak teman-teman sekalian membayangkan jika pada abad-abad megacanggih mendatang, perjalanan antar planet dan atau bahkan antar galaksi menjadi sangat lumrah. Saat itu akan ada shelter-shelter atau terminal-terminal kendaraan pelontar waktu berkecepatan cahaya bertebaran di luar angkasa. Mungkin Kementerian Perhubungan akan membuka kantor-kantor dinas di sana.

Lalu bagaimana nasib hubungan pertemanan antara Captain America dan Iron Man?

Untuk ukuran film dengan rating IMDb 8.6/10, Rotten Tomatoes 92 %, disamping plot cerita dan ending yang kurang mengesankan, di Captain America : Civil War juga tidak tersaji rangkaian saajak-sajak puitis (puisi). Jadi, tanpa bisa saya pungkiri AADC 2 masih jauh lebih menarik dengaan segala dinamikanya.

Selain fakta bahwa hingga saat ini saya masih harus menunggu moment yang tepat untuk memoles BluShumei, Vespa Super 1978 kesayangan saya ke bengkel, saya juga baru tahu jika setiap tanggal 17 Mei dirayakan sebagai Hari Buku Nasional.

Baiklah, saya akan jujur, sebenarnya saya sedang naksir seorang gadis cantik nun jauh di seberang. Seberang kota, maksud saya. Hehehe.. Namun, saya masih takut untuk mengatakannya. Saya tidak tahu apakah rasa ini akan terus saya simpan demi tidak mengganggu kenyamanan banyak pihak dan agar saya tetap bisa menikmati keindahannya dari jauh tanpa perlu dia tahu akan rasa yang telah bersemi di ladang hati ini?

Atau mungkin saya perlu melakukan perjalanan lintas negara lagi? Seperti, misalnya, perjalanan yang sedang saya angankan : menjelajahi jalur Tiongkok-Mongolia-Vladivostok-Khabarovsk-Irkutsk-Novosibirsk-Omsk-Chelyabinsk-Yaroslavl-Moscow menggunakan Trans Siberian.

Lalu, saya menyambung dengan kereta api lagi menuju Vienna-Paris-Amsterdam-Antwerpen-Selat Dover-London. Dari London, setelah selfie di depan istana Westminster yang tersohor dengan jam raksasa bernama Big Ben itu, saya naik kereta api lagi kembali menyeberangi Selat Dover berlanjut dengan rute Antwerpen-Amsterdam-Paris-Vienna-Iran-Pakistan-Bangladesh-Myanmar-Thailand-Malaysia-Singapore.

Saya akan berhenti sejenak di Singapore dan menyempatkan waktu bermalam di Bandara Internasional Changi untuk sekedar melihat lalu lalang traveler-traveler lain dari berbagai belahan dunia yang sedang melakukan transit. Saya ingin menikmati keriuhannya sebelum kembali ke Indonesia dan (mungkin) menyetakan cinta pada gadis tersebut.

Sekilas tampak atau terdengar romantic memang…

Sayang, semua itu hanya khayalan.

Sarapan

Sarapan

Konon, perbedaan derajat intelektualitas (kecerdasan) antara manusia dan primata a.k.a. monyet hanya 1 % saja.

Logikanya, dengan perbedaan yang hanya 1 % itu, seharusnya manusia (masih) bisa dengan mudah mengajarkan Bahasa Indonesia atau Bahasa Daerah atau Matematika atau Fisika atau Kalkulus atau Pemrograman Komputer atau Astronomi atau disiplin-disiplin ilmu lainnya yang biasa dipelajari dan (sebagian) dikuasai (sesuai dengan minat) kepada primata a.k.a. monyet.

Namun, nyatanya… perbedaan yang hanya 1 % itu gap-nya sangat mengerikan…

Jadi, bisa dibayangkan, seandainya ada makhluk lain di Bumi yang tingkat intelektualitas (kecerdasan)-nya 1 % diatas manusia…

Mungkin, makhluk tersebut juga sama frustrasinya kala berusaha mentransfer ilmu kepada manusia sebagaimana frustrasinya manusia kala berusaha mentransfer ilmu kepada primata a.k.a. monyet.

Mungkin, makhluk tersebut yang masuk kepada golongan jahat akan menjadikan manusia sebagai buruan.

Sebagian lagi menjadikan manusia sebagai peliharaan…

Sebagian lagi menjadikan manusia sebagai pementas sirkus…

Sebagian lagi menjadikan manusia sebagai santapan malam…

Sebagian lagi menjadikan manusia sebagai…

Ah!

Maha Besar Tuhan Sang Pemilik Alam Semesta Beserta Seluruh Isinya.

Sekali lagi, betapa ngeri membayangkannya saja.

Tapi, sudahlah, lupakan, anggap saja imagi saya tersebut terlalu absurd.

Saya tidak hendak bercerita tentang kengerian-kengerian yang berpotensi menciptakan mimpi buruk dalam peraduan.

Saya ingin bercerita betapa selama ini banyak kerabat, sahabat, teman, dan kolega-kolega lain yang salah sangka dan mengira saya sebagai Naga Lyla bahwa pada hari ini, Sabtu tanggal 16 Januari 2016, seorang gadis manis yang pernah membawa saya kepada rumitnya labirin asmara dan nikmatnya secawan madu rindu yang dipanen dari sarang cinta diam-diam, sedang merayakan hari jadinya yang ke 25. Mungkin bersama kekasihnya.

Happy birthday to you…

Wish you all the best…

Tak ayal, ketika bangun tidur tadi pagi, saya pun sempat mengalami kegalauan. Tapi, bukan galau karena cinta yang berlalu dan tanpa sempat saya miliki ini, yaa… melainkan, galau menentukan menu sarapan.

Awalnya saya berinisiatif ingin masak sendiri saja sambil mempraktekkan hasil belajar dari chef-chef handal sekaliber -misalnya- Jamie Oliver melalui channel You Tube selama ini. Namun, tiba-tiba saya tersadar bahwa ternyata saya belum punya kompor, belum punya panci, belum punya teflon, belum punya pisau, belum punya talenan, belum punya bahan-bahan yang akan dimasak, dan belum punya….. istri #krik.

Okayy…

Pada dasarnya, saya bukan orang yang selalu memulai sarapan di waktu pagi. Meski sarapan itu sendiri selalu identik dengan waktu pagi. Sebagaimana mentari yang selalu terbit dari timur #halah. Memang di hari kerja dari Senin hingga Jumat, saya selalu mengawali sarapan pada pagi hari karena pada saat bekerja dibutuhkan energi yang mencukupi agar pekerjaan bisa terlaksana dengan sebagaimana mestinya. Akan tetapi tidak dengan akhir pekan.

Saat akhir pekan, biasanya saya mulai sarapan ketika hari sudah menjelang siang. Mendekati waktu Dhuhur. Karena setiap akhir pekan saya selalu bangun ketika hari sudah menjelang siang. Mendekati waktu Dhuhur. Diulang-ulang wae.. hehehe..

Sarapan di kantin-kantin sekitar kost-an cukup menjemukan. Hampir setiap hari sepulang kerja saya selalu makan malam di kantin-kantin sekitar kost-an. Sempat terfikir sarapan di Maidanglao yang hanya berjarak seperlemparan granat dari kost-an saya. Tapi, kok, ya, eman-eman, gitu, di Maidanglao satu menu Paket Panas Spesial yang terdiri dari Sekepal Nasi, Ayam Goreng, Scramble Egg, dan Es Lemon Tea dihargai (sudah termasuk pajak) Rp. 33 Ribu rupiah. Selain itu makanan cepat saji juga kurang sehat.

Setelah agak lama menimbang-nimbang sambil diiringi playlistnya Mbak Shumei, Sinden Taiwan Kesayangan, akhirnya, saya menjatuhkan pilihan sarapan di Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro yang berlokasi di Jalan KH. Sholeh Iskandar, Bogor, dekat Perumahan Cimanggu Permai dan Perumahan Bukit Cimanggu City.

Mbak Shumei 4.png

Mbak Shumei, Sinden Taiwan Kesayangan.

Karena lapar yang semakin mendera, maka, seusai mandi dan gosok gigi saya bergegas menuju tempat makan Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro dengan menumpang Bis Trans Pakuan. Untuk sementara waktu, BlūShumei, Vespa cantik kesayangan saya, masih dalam tahap perbaikan.

Rumah Makan Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro di Jalan KH. Sholeh Iskandar ini merupakan tempat makan favorit Ayah saya. Saya juga mengetahui tempat makan ini dari Ayah saya. Setiap kali Ayah saya singgah di Bogor dipastikan –paling tidak sekali- harus makan di sini. Menurut Ayah saya, di seantero Bogor ini Rumah Makan Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro di Jalan KH. Sholeh Iskandar ini merupakan tempat makan dengan sajian utama bebek yang sangat direkomendasikan dan paling nikmat dari semua yang ada. Daging bebeknya lembut, level pedas sambal koreknya cukup memadai dalam artian tidak terlalu pedas dan tidak terlalu tidak pedas, istilahnya Fifty Fifty, selain itu nasinya juga pulen, dan harganya cukup terjangkau.

Ya, apa yang dikatakan oleh Ayah saya memang terbukti.

Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro… –meminjam jargon Bondan “Wisata Kuliner” Winanro- … Mak Nyusss!

Alamat :

Kuliner Centre Jl.KH.Sholeh Iskandar  ( Depan Bukit Cimanggu City ) BOGOR 

 Fasilitas   : Parkir Luas , Mushola , Smoking & Non smoking area

 Kapasitas :  150 orang ( Lesehan dan duduk )

 Jam Buka : weekdays : 10:00 pagi sampai 21.00 malam

                      weekend  :  10:00 pagi sampai 22:00 malam  

Jangan Pernah Mencoba

Jangan Pernah Mencoba

Dewa 19

Terbaik Terbaik ( 1995 )

Intro :

A     F#m    C#m     D

A     F#m    C#m     D

D

 

 

D           E                  F#m

Terhanyut si gadis belum 17

D           E

Bermesra bersama seorang

F#m

Katanya kekasihnya

D           E

Tersingkap tak ada batas

F#m

Norma agama dan sebagainya

D           E                      F#m

Miskin petuah – petuah orang tua

 

 

Bridge :

F    C  G

Oh.. oh.. dengarlah kami

F    C  G   Am

Oh.. oh.. jangan dengarkan bisikan – bisikan

F    C  G

Oh.. oh.. mohon hiraukan

F    C  G                    D

Oh.. oh.. jangan sampai hilang segalanya

Chorus :

A

Hapuskan semua gairah yang ada

F#m

Buang gejolak hasrat mencoba

C#m            D

Belum pasti dia untukmu

A

Jangan sampai ada air mata

F#m

Dari lelaki yang pasti

C#m             D

Mendampingimu untuk selamanya

 

D           E                  F#m

Bukan masalah hidup disini Atau disana

D           E

Jangan ada nilai yang bergeser

F#m

Lepas dari jalurnya

D           E

Coba tunggulah sejenak

F#m

Sampai benar – benar kau mengerti

D          E               F#m

Tenangkan hingga kau dapat yang kau cari

Back to Bridge, Chorus

Instrument :

D     E     F#m      E

D     E     F#m      E

 

D            E       F#m            E

Disini bukan disana Disana bukan disini

D            E       F#m            E

Disini bukan disana Disana bukan disini

Back to Chorus 2x

 

A        F#m               C#m   D

Jangan pernah mencoba hu… hu…

A        F#m               C#m   D

Jangan pernah mencoba hu… hu…

A        F#m               C#m   D

Jangan pernah mencoba hu… hu…

A        F#m               C#m   D

Jangan pernah mencoba hu… hu…

http://www.chordby.com/chord/12404/dewa-19-jangan-pernah-mencoba.html

Hanya Satu

Hanya Satu

Dewa 19

Terbaik Terbaik (1995)

 

Intro: C Dm7 Am F (2x)

C               Dm7
Hanya satu yang ada di alam ini
Am                F
Tlah tercipta di dunia untuknya
C                   Dm7
Hanya satu… (Satu) Pasti hanya satu
Am              F
Mereka harusnya mengerti

C                   Dm7             Am         F
Hanya satu… (Satu) Pasti satu… (Satu) Satu…
C            Dm7
Bukalah hati Peluklah ia
Am                   F
Mungkin hanya satu yang sanggup memberinya
C         Dm7  Am       F
Damai… (Damai) Jiwa…

C     Dm7   Am            F
Hanya satu…  Yang terbaik untuk dia
C     Dm7   Am         F
Hanya satu…  Tak ada yang lain

C Dm7 Am F

Demi waktu yang kian bergulir cepat
Jangan paksakan yang lain untuknya
Mungkin suatu saat, Mungkin suatu saat
Terbukti!! Dia memang untuknya
Biarkan dia kembangkan sayap
Terbang tinggi Mama

Heyo.. heyo.. Jangan sampai ia menghilang
Heyo.. heyo.. Pengertian yang ia butuhkan
Heyo.. heyo.. Ku hanya.. Dia hanya..
Mereka hanya.. Bagian cerita

Lepaskan hasratmu Relakan deminya

Heyo.. heyo.. Jangan sampai ia menghilang
Heyo.. heyo.. Pengertian yang ia cari
Heyo.. heyo.. Bahagia untuknya
Heyo.. heyo.. Dia `kan kembali
Untukmu.. bersama.. seperti.. dulu.. lagi…

ENJOY! ^_^

 

Video

Cukup Siti Nurbaya

Cukup Siti Nurbaya

INTRO: E  C#m  E  C#m

 A                                F#m
Oh.. masih ada, belenggu ruang cinta
         A
Meresap kini, di dinding zaman
         F#m
Mencoba-coba kikis naluri
     A
Agitasi murahan yang ada lagi
                   F#m                C#m
Mohon acuhkan palingkan muka … ugh

  A                                        F#m
Oh.. memang dunia, buramkan satu logika
        A
Seolah-olah hidup kita ini
         F#m
Hanya ternilai sebatas rupiah

(*)                     A
Dengarkan manusia
yang terasah falsafah
                  F#m               C#m
Sesaat katanya itu bukan dogma…ugh

REFF:
        E  C#m           G#m  A
Katakan….. pada mama
          E                   C#m           G#m  A
Cinta bukan hanya harta dan tahta
         E  C#m             G#m   A
Pastikan….. pada semua
            E                C#m         G#m  A
Hanya cinta yang sejukkan dunia(#)                       E                     C#m
Bukan itu mama.. bukan itu papa
                      E                     C#m
Bukan itu mama.. bukan itu papa A                                  
Oh.. cukup Siti Nurbaya
                       F#m
yang mengalami pahitnya dunia
          A
Hidupku, kamu, dan mereka semua
F#m
takkan ada yang bisa memaksakan jalan
hidup yang kan tertempuhREPEAT: (*), REFF

INTRO: E  C#m  E  C#m

INST.

REPEAT: REFF (2x)
(#) (4x)

“Doesn’t Have A Point Of View”

Musim hujan hadir malu-malu melalui gerimis. Ada banyak kata berhamburan keluar dari dalam kepala. Berserakan di udara. Saya kesulitan untuk merangkainya. Hanya bisa terdiam terpaku menatap satu per satu huruf berjatuhan ke lantai karena tidak sanggup melawan gravitasi. Butir-butir air menghunjam raga dari ujung rumbut hingga ke dasar hati. Mengendapkan harapan/rindu… entah harapan/rindu kepada cinta yang mana…

Angin berhembus cukup kencang setiap hari, sejak menggeliatnya pagi, terik siang, sore nan sendu, malam ngelangut, sampai ke pagi lagi, begitu seterusnya pada bulan-bulan terakhir musim kemarau.

Jika pada suatu malam anda membutuhkan lagu-lagu pengantar tidur terbaik yang menghadirkan romansa suasana retro dengan sentuhan keindahan musik folk rock klasik membalut kekuatan makna lirik-lirik puitis nan apik dan tertuang dalam satu paket, barangkali album Rubber Soul karya The Beatles bisa menjadi rujukannya.

Gerimis datang sebentar menyiram benih-benih harapan. jika debit air kembali normal, maka hilang sedikit kekhawatiran. Air akan mengaliri sungai-sungai yang sekian lama telah menanggung dahaga tak terkira.

Bagi para pengecut, kata-kata disusun sedemikian rupa menjadi tameng untuk melindungi ketidakbecusannya.

Bagi para insan hukum, kata-kata mempunyai harga untuk membayar bagaimana setiap huruf terangkai dan sanggup membolak-balikkan fakta sehingga keadilan dan ketikdakadilan menjadi nisbi.

Bagi para pujangga, kata-kata dirangkai menjadi ayat-ayat mesra yang diseduh dalam secawan anggur yang sanggup memabukkan ratu paling cantik sedunia sekalipun, sehingga sang ratu jatuh dalam pelukan. Tak bisa lari kemana-mana karena hatinya telah tertambat pada makhluk yang sanggup menciptakan romansa melalui kata-kata. Pujangga.

Entahlah… ingin menulis apa lagi?

Sore – Sore Nyidam Sari

Momen lebaran Idul Adha kemarin saya manfaatkan untuk mudik ke kota kelahiran saya : Madiun. Tujuan utamanya sudah pasti sungkem ke Ayah dan Bunda sekalian minta didoakan supaya segera bertemu jodoh yang selama ini entah sedang melanglangbuana kemana menikmati lebaran Idul Adha yang sangat jarang sekali saya lalui di Madiun. Ya, walaupun baru beberapa bulan yang lalu, tepatnya saat lebaran Idul Fitri saya mudik, tapi, apalah daya, kerinduan akan rumah sukar dibendung.

Alhamdulillah, Ayah dan Bunda saya sehat walafiat dan mudah-mudahan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Hajat pulang kampung ini sempat terancam gagal gara-gara saya salah memilih tanggal keberangkatan ketika memesan tiket melalui website PT. KAI. Saya mengira libur Idul Adha ada di tanggal 25 September 2015, maka saya memesan tiket keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen ke Madiun pada tanggal 24 September 2015 menggunakan KA. Majapahit pukul 18.30 WIB, jadi saya tidak perlu ijin dari kantor. Untuk tiket kembali ke Jakarta, saya tetap menggunakan KA. Majapahit dari Madiun tanggal 26 September 2015 pukul 23.15 WIB, tepat di hari Sabtu, jadi ketika sampai di kost-an saya di kota Bogor saya masih punya waktu istirahat satu hari sebelum kembali beraktifitas di hari Senin.

Beberapa hari sebelum hari H mudik, saya baru menyadari kesalahan tanggal keberangkatan ketika melihat kalender di salah satu tempat makan di dekat kost-an saya. Maklum saya tidak punya kalender dan ketika memesan, saya hanya melihat tanggalan dari kalender hape jadul saya yang warnanya sudah pasti sama semuanya. Hitam. Saya kaget bukan kepalang. Saking paniknya saya tidak menyadari bahwa makanan saya sudah habis dan saya hanya menyendok angin.

Esoknya, sepulang kerja saya pontang-panting menuju ke Stasiun Bogor untuk menggeser jadwal keberangkatan dari tanggal 24 September 2015 ke tanggal 23 September 2015.

“Maaf, Mas, untuk jadwal 23 September 2015 sudah penuh semuanya.” Bait jawaban yang mengalir dari bibir Mbak petugas loket nan anggun itu seketika menusuk ke jantung hati.

“Kereta selain Majapahit masih ada yang kosong apa tidak, Mbak?” Tanya saya lagi dengan penuh harap. Mbak petugas loket hanya menggeleng-gelengkan kepala diiringi senyum penglipur lara yang tidak berhasil mengobati kekecewaan saya. Saya memutuskan untuk membatalkan tiket keberangkatan tersebut dan beralih ke moda transportasi bis Rosalia Indah.

Bayangan kemacetan yang mengular berkelebatan di kepala membuat saya seolah mabuk darat sebelum bis melaju dari pool nya. Namun, diluar dugaan, perjalanan menuju kota Madiun menggunakan bis Rosalia Indah nyaris bebas hambatan. Memang di beberapa titik seperti sudah pada umumnya, di Subang dan Indramayu, misalnya ada ruas-ruas jalan yang tidak beres. Atau tepatnya dari dulu tidak pernah beres. Diluar semua itu, perjalanan cukup bisa dinikmati.

Sama halnya dengan Bogor, Madiun juga belum turun hujan. Bedanya, musim kemarau di Madiun tidak terasa se-hareudang di Bogor. Mungkin karena tidak terlalu banyak kendaraan. Maklum, Madiun hanyalah kota perlintasan yang kecil. Terik mentari yang menari-nari bersama semilir angin semakin mesra dirasa dalam iringan tembang-tembang campursari khas karya-karya Manthous.

Di Madiun, tak lengkap rasanya apabila tidak sarapan Nasi Pecel Madiun yang ke-deliciousan-nya telah diakui khalayak ramai penikmat kuliner nusantara. Hanya dengan Rp. 42 Ribu Rupiah sudah bisa dapat enam porsi Nasi Pecel Madiun paling lezat sedunia dengan lauk rempeyek kacang dan gorengan tempe yang ukurannya segede gaban. Meminjam jargon Pak Bondan Winarno : Makyuss!

Nasi Pecel favorit saya adalah Nasi Pecel Pojok yang lokasinya tidak jauh dari rumah saya. Tepatnya berada di ujung persimpangan antara Jalan Cokroaminoto dan Jalan Ringin. Warung nasi pecel ini dikelola oleh keluarga Elang, teman SD saya. Elang ini berjenis kelamin perempuan. Dulu ketika masih sekolah, Elang bersama teman-teman sekelas yang akrab seperti Eva, Chandra, dan Deny sering sekali mengajak saya masak-masakan. Acaranya selalu di rumah saya karean letaknya yang cukup strategis. Secara berkala, setiap seminggu sekali, misalnya, di hari Sabtu, sepulang sekolah, Elang, Eva, Chandra, dan Deny pergi ke rumah saya dengan membawa peralatan-peralatan masak yang diperlukan yang sudah dibagi-bagi sesuai kesepakatan siapa bawa ini siapa bawa itu lalu belanja ke pasar mencari bahan baku. Jujur, dulu setiap kali mereka mencari saya ke rumah untuk acara masak-masakan itu, saya selalu lari bersembunyi karena malu. Bagi saya, masak-masakan itu bukan dolanannya laki-laki. Kalau sudah begitu, Bunda saya yang turun tangan menemukan saya untuk diserahkan ke mereka. Dewasa ini, bila teringat, saya justru kangen akan masa-masa tersebut. Apalagi belakangan banyak bermunculan Chef-Chef dari kalangan pria.

Setiap sore saya menikmati kemalasan di kedai kopi sambil bercengkrama bersama teman-teman sejawat yang memilih tetap bertahan di kampung halaman dengan segala idealismenya untuk memajukan kota Madiun melalui karya-karya orisinal buah pemikiran paling jernih.

saat menjelang senja ketika langit masih tampak cerah, saya duduk di beranda rumah bersama Bunda, mendengarkan wejangan-wejangan beliau yang akan selalu saya jadi pegangan agar hati dan fokus tidak goyah dalam menjalani kehidupan yang semakin ganas dan tak terprediksi. Warna lembayung yang perlahan mulai terlukis di ufuk barat mengiring sang surya undur diri menuju peraduan membuat suasana semakin emosional. Saya teringat akan waktu yang tidak bisa diperintah oleh manusia. Waktu tidak pernah peduli dengan permohonan untuk berhenti sejenak demi sebuah kebahagiaan yang sedang berlangsung. Seolah seperti sebuah pintu yang baru saya saya tutup dan tinggalkan, masa kanak-kanak yang indah telah berlalu sekian jauhnya. Saya menatap Bunda yang selalu sabar mendampingi saya hingga dewasa. Tiba-tiba saya seperti dihadapkan pada layar film yang menayangkan masa-masa ketika Bunda mengantar saya ke sekolah. Bunda membawa saya ke dokter ketika pilek lalu saya merengek-rengek minta dibelikan layang-layang. Bunda dengan tekun menemani saya mengerjakan PR Matematika dari guru paling killer semasa SD yang membuat saya jadi membenci pelajaran tersebut sehingga sampai sekarang saya paling bodoh soal Matematika. Ah, saya ingin kembali ke fragmen hidup ketika itu kemudian menekan tombol “On” dan tetap berada di sekitarnya. Setiap selesai saya putar kembali. Begitu seterusnya hingga malaikat Israfil meniup sangkakala tanda berakhirnya dunia beserta seluruh isinya. Saya tidak ingin jauh dari Bunda. Saya ingin tetap menjadi anak kecil dalam belaian dan lindungan Bunda.

Di depan rumah saya terhampar halaman yang lumayan luas. Di malam terakhir, setelah menunaikan ibadah sholat Isya’, saya menikmati kilau gemintang yang merubungi rembulan di jagad malam. Tampak riang sekali. Seolah keriuhannya terdengar meski dari jarak ratusan tahun cahaya. Sambil terus menatap warna ceria di langit, hati saya bergumam : “Seandainya masih ada semalam lagi di Madiun.”

Fùmǔ De Xīnshēng

11692749_1139227242760661_8738450984387799946_n

Mbak Shumei, Sinden Taiwan

Diantara ratusan lagu Mbak Shumei yang (berhasil) saya miliki, saya sangat terkesan dengan satu lagu berjudul Fùmǔ De Xīnshēng, secara harfiah, artinya kurang lebih Hasrat/Impian/Harapan Orang Tua, merupakan bahasa lokal Taiwan, Thayu, yang termasuk rumpun Bahasa Mandarin.

Lagu ini mengisahkan tentang anak gadis semata wayang dari sebuah keluarga yang mulai beranjak dewasa dan sudah saatnya menikah. Dalam tradisi kuno Taiwan, perempuan yang menikah kelak harus ikut keluarga suaminya. Sebelum benar-benar meninggalkan rumah, pada hari-hari menjelang pernikahan, setiap orang tua dari pihak perempuan biasanya akan menitipkan bekal dalam bentuk emas sebagai simpanan saat menghadapi kondisi darurat dalam biduk rumah tangga dan wasiat berupa wejangan-wejangan beserta harapan-harapan kepada anak perempuannya agar menjadi menantu yang baik. Tak lupa juga, orang tua berpesan jika ada waktu luang disempatkan berkunjung ke rumah untuk sekedar minum teh bersama sambil ngobrol-ngobrol ringan di beranda rumah seperti saat-saat sebelum menikah.

Hingga saat ini, di Taiwan, lagu berirama lembut yang bikin ngelangut ini memang masih sering dijadikan sebagai lagu pengantar pernikahan. Biasanya anak perempuan yang menikah akan menyanyikannya sebagai persembahan sekaligus ucapan terimakasih kepada kedua orang tuanya yang telah bersusah payah membesarkan dengan penuh kasih sayang.

Saya sudah jatuh cinta pada lagu ini sejak pertama kali mendengarkannya melalui saluran Youtube. Meskipun saat itu saya belum mengerti sama sekali maknanya. Dalam playlist saya, lagu ini termasuk kategori pengantar tidur.

Setiap kali mendengarkan lagu ini di akhir pekan yang terik berhias semilir angin, sembari memejamkan mata, fikiran saya terbang pada kenangan-kenangan masa kecil dalam buaian Ayah Bunda.

Saya membayangkan, seandainya saya bisa menciptakan kendaraan pelontar waktu, saya ingin pergi berkunjung ke masa lalu, terutama masa kanak-kanak. Menyambangi fragmen-fragmen hidup yang telah dibekukan oleh waktu kemudian memencet tombol “On” agar berdenyut kembali.

Pertama, saya akan mendampingi diri saya saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Menuntunnya menjadi buah hati yang patuh terhadap Ayah Bunda. Saya akan membisikinya agar selalu rajin Sholat 5 waktu dan mendaras Al Qur’an. Saya juga terus menyemangatinya supaya rajin belajar, biar bisa dapat nilai-nilai yang fantastis sehingga menjadi ranking 1 di kelas. Saya akan mengajaknya ikut tim sepakbola dan beladiri.

Naik ke level berikutnya, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau Sekolah Menengah Pertama. Saya akan mengajarinya agar tidak menjadi anak yang suka menuntut macam-macam terhadap Ayah Bunda. Menjadi pribadi yang sederhana dan semakin memperhatikan pelajaran yang dijelaskan Bapak atau Ibu Guru di kelas jauh lebih penting. Saya akan mengarahkannya untuk ikut kegiatan Pramuka dan kursus musik.

Menuju ke jenjang selanjutnya, Sekolah Menengah Umum atau Sekolah Menengah Atas. Saya akan menasehatinya supaya tidak sering-sering keluyuran. Lebih baik menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan Bapak atau Ibu Guru dari sekolah sambil membantu meringankan kesibukan Ayah Bunda. Jangan merokok dan mencoba hal lainnya yang tidak memberikan faedah bagi tubuh. Lebih baik uangnya ditabung, jika sudah terkumpul banyak bisa digunakan untuk keperluan-keperluan yang penting dan urgent. Berkumpul dengan teman-teman yang soleh dan berprestasi agar ketularan energi positifnya. Saya akan menyarankannya bergabung dalam kegiatan Paskibraka di sekolah agar kelak bisa ikut ambil bagian pada saat Upacara Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara.

Beranjak ke masa kuliah. saya akan menganjurkannya pada setiap liburan semesteran diusahakan mengikuti program-program beasiswa pertukaran pelajar di luar negeri untuk menambah wawasan dan kawan dari berbagai penjuru dunia. Atau minimal digunakan untuk bekerja paruh waktu di restoran cepat saji, misalnya, supaya bisa menambah uang saku sendiri dan tidak merepotkan Ayah Bunda. Saya akan terus memotivasinya agar semakin rajin belajar sehingga ketika lulus bisa menjadi individu yang berguna bagi nusa, bangsa, dan keluarga.

Saya hanya ingin membuat bangga Ayah Bunda…

You’ve Got To Hide Your Love Away

Here I stand head in hand
Turn my face to the wall
If she’s gone I can’t go on
Feelin’ two-foot small

Everywhere people stare
Each and every day
I can see them laugh at me
And I hear them say

Hey you’ve got to hide your love away
Hey you’ve got to hide your love away

How can I even try
I can never win
Hearing them, seeing them
In the state I’m in

How could she say to me
Love will find a way
Gather round all you clowns
Let me hear you say

Hey you’ve got to hide your love away
Hey you’ve got to hide your love away

Ketemu Barbershop yang (bisa diajak) satu visi itu memang menyenangkan. Dari menit pertama saya masuk sudah disuguhi playlistnya The Beatles. Ketika kapsternya tanya tentang model yang saya inginkan, saya tinggal jawab : “ala The Beatles, ya, moptop britpop/rock gitu, bisa kan?” …. “Siap, Mas.” Jawab si kapster penuh percaya diri.. Dan hasilnya setengah jam kemudian, di depan cermin saya sampai pangling dan sukar membedakan antara diri saya sendiri dengan Paul McCartney.. hehehehhe..

Konon, musik dan lirik tembang You’ve Got To Hide Your Love Away yang terdapat pada Album The Beatles – Help rilisan tahun 1965 tersebut ditulis oleh John Lennon sebagai ungkapan perasaannya kepada Brian Epstein, manajer The Beatles kala itu yang diduga adalah seorang homoseksual. Melalui kiasan-kiasan lirik yang tersusun apik dan puitis dalam lagu tersebut, John Lennon seperti hendak mengatakan bahwa dirinya juga seorang biseksual yang bisa memenuhi hasrat cinta yang ganjil diantara mereka. Brian Epstein telah berjasa membesarkan The Beatles melalui strategi, manajemen, dan sentuhan jeniusnya dalam industri musik era 1960-an. Gaya vokal John Lennon pada lagu tersebut terinspirasi oleh penyanyi pop-rock balada Amerika yang terkenal dengan lirik-lirik bertema sosial, Bob Dylan.

You’ve Got To Hide Your Love Away nampak bersahaja namun berisi dan penuh misteri, hanya dibawakan dengan John Lennon sebagai vokalis tunggal tanpa suara latar sambil memainkan gitar 12 senar, ditingkahi petikan bass Paul McCartney, George Harrison menyelaraskan harmoni melalui cuplikan gitar akustik klasik 6 senar, dan Ringgo Starr menimpalinya dengan brushed snare drum, tamborin, marakas. Seorang pemain tambahan bernama John Scott mengisi suara tenor dan alto flutes.

Bagi saya lagu tersebut memiliki kenangan tersendiri.

Selama hampir tujuh tahun magang di salah satu Instansi Pemerintahan yang berlokasi di Kompleks Pemerintahan Daerah Kabupaten Bogor sambil (berusaha) menyelesaikan Studi Strata 1 jurusan Agribisnis di Institut Pertanian Bogor menggiring saya pada rumitnya pusaran labirin rasa jatuh cinta.

Cinta yang pada akhirnya harus saya sembunyikan selama mungkin hingga saya lulus kuliah dan memilih untuk mengundurkan diri.

Memang salah saya sendiri tidak punya rasa percaya diri dan mudah minder. Saya hanya mahasiswa magang yang tinggal di kamar kost berukuran 4 m x 4 m seharga Rp. 500.000,- per bulan yang berada tepat di jantung Kota Bogor. Sedangkan perempuan pujaan hati saya itu adalah putri seorang amtenaar. Bukan main skala kesenjangan diantara kami. Ibarat langit dan bumi. Dia langit, saya Bumi.

Pepatah Jawa pernah menuturkan “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”. Terjemahan bebasnya, Cinta Hadir Karena Terbiasa. Secara kebetulan meja kerja perempuan pujaan hati saya itu berada tepat di sebelah kiri meja kerja saya. Meski jarang sekali ngobrol –karena saya memang cenderung pendiam dan kurang asik, tak heran saya tidak punya cukup banyak kawan– tapi lama-kelamaan saya merasa terbiasa ada perempuan pujaan hati saya itu di samping saya dalam arti sebagai rekan kerja. Saya selalu merasa ada yang kurang jika perempuan pujaan hati saya itu sedang tidak masuk kantor karena sesuatu lain hal, sakit, misalnya.

Pelan-pelan, perasaan terbiasa ada perempuan pujaan hati saya itu di samping saya dalam arti sebagai rekan kerja dan terasa ada yang kurang apabila perempuan pujaan hati saya itu tidak masuk kerja tersebut menumbuhkan benih-benih rindu di setiap malam dan mewujud menjadi mimpi-mimpi romantis dalam peraduan.

Pada hari-hari selanjutnya, saya mulai terprovokasi oleh perasaan yang tak pasti. Perasaan yang mungkin hanya bersemi di ladang hati saya saja. Perasaan yang berpotensi menempatkan diri saya sebagai pihak yang –akan- menerima takdir cinta bertepuk sebelah tangan.

Sempat saya berencana mengungkapkan perasaan saya yang sesungguhnya. Perkara diterima atau tidak diterima itu urusan lain. Saya sudah siap menanggung segala resikonya. Tapi, seperti yang sudah saya kemukakan di awal tadi, rasa minder dan kurang percaya diri selalu menyergap dari segala penjuru arah mata angin. Utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut… saya tersudut.

Saya segera melupakan rencana tersebut bertepatan dengan Dosen Pembimbing saya yang sudah tidak sabar melihat saya lekas lulus dari kampus. Alhamdulillah, saya dibimbing Dosen yang baik hati, pengertian dan perhatian. Pada saat membimbing, Dosen saya juga sedang sibuk dengan Desertasi S3 (Doctor)-nya. Uniknya lagi, saya dan Dosen Pembimbing saya diwisuda pada hari yang sama. Bangga sekali rasanya. Saking baiknya, ketika beliau dipanggil ke depan untuk penyematan tanda kewisudaan, banyak mahasiswa yang memberikan applause, mungkin karena merasa berkesan atas bimbingan beliau. Rata-rata bimbingan beliau lulus dengan cepat dan tepat waktu. Hanya saya yang berlarut-larut dikarenakan agak kewalahan menyeimbangkan jadwal bimbingan dan perbaikan Skripsi dengan pekerjaan. Dari mulai kolokium, pengambilan data, pengolahan data, seminar hasil, sampai sidang, total jendral memakan waktu dua tahun. Padahal, jika saya mau rajin sedikit saja, mungkin bisa terselesaikan dalam tempo satu tahun.

Beberapa hari setelah seremonial kelulusan yang membuncahkan harapan baru, saya meminta ijin kepada atasan saya untuk mengambil cuti selama dua minggu. Ketika ditanya alasannya, saya jawab sejujurnya saja bahwa saya sedang butuh refreshing setelah melalui minggu-minggu yang sangat penat. Saya pergi mengunjungi seorang sahabat saya yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Wellington, New Zealand. Anehnya, selama berada di sana, saya tidak merasa tenang karena dihantam rindu yang begitu menyiksa. Rindu kepada perempuan pujaan hati saya itu.

Perjalanan menumbuhkan keberanian. Saya mulai meniatkan untuk segera mengungkapkan perasaan saya yang sesungguhnya sesampainya kembali di tanah air. Dalam bayangan saya, perempuan pujaan hati saya itu akan menjadi istri dan ibu bagi anak-anak saya kelak. Dan, sebagaimana umumnya orang yang sedang jatuh cinta, saya jadi semakin rajin beribadah.

Namun, dua minggu kemudian, sepulangnya dari liburan, kenyataan berkata lain. Niat tulus yang telah di ujung bibir harus saya belesakkan kembali mentah-mentah ke dalam kerongkongan karena perempuan pujaan hati saya itu sudah jadian dengan laki-laki lain yang lebih gesit mengambil peluang dari saya. Dan yang membuat saya menjadi canggung bukan kepalang, laki-laki tersebut adalah teman satu kantor juga. Satu ruangan pula. Hanya berjarak beberapa meja saja. Asem tenan.

Kata-Kata Ngenes yang Bikin Nyesek

Gambar Diambil Dari Sini

Patah hati, sudah pasti. Tapi, haruskah saya marah dan kesal kemudian pulang dan mengurung diri di kamar selama-lamanya?… Ah, saya pikir, saya tidak perlu menjadi se-dramatis itu. Toh, memang salah saya sendiri. Walaupun di dalam dada rasanya nyesek setiap melihat mereka bermesra di hadapan saya, kecemburuan itu sesegera mungkin saya konversi menjadi senyum optimisme menghadapi babak hidup selanjutnya.

Tidak ingin berlama-lama terjebak dalam kubangan nestapa cinta, saya memutuskan mengundurkan diri dan berpindah ke rumah baru yang menawarkan mimpi-mimpi segar. Saya melakukannya semata-mata agar semua tetap berjalan normal bagi saya. Agar tujuan-tujuan meraih masa depan tidak berbelok dan menjadi tak tentu arah.

Belakangan saya mensyukuri kondisi tersebut. Tanpa melalui momen getir itu, mungkin sampai sekarang saya masih jalan di tempat. Patah hati itu memang harus terjadi untuk menelanjangi kepicikan saya dan agar pikiran saya bisa terbuka dalam memandang setiap peristiwa dari banyak sisi. Agar mata hati saya bisa melihat peluang yang lebih lapang di tempat lain. Masih banyak orang-orang yang diliputi ketidakberuntungan oleh sebab harapan yang tak tergapai. Sekali lagi, saya bersyukur masih bisa berdiri tegak dan merasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa.