Bopet Mini : Kelana Rasa dan Dugaan Perpaduan Budaya Kuliner Minang, Aceh, dan Prancis

Seperti yang pernah saya ceritakan 8 tahun lalu bahwa saya bukanlah penggemar Masakan Padang. Hanya sesekali saja saya makan menu Masakan Padang, khususnya jika saya sedang kehilangan selera makan dan tidak tahu lagi harus makan apa. Disamping itu, banyak yang bilang Naga Lyla itu mirip dengan saya. Ini benar-benar aneh. Terasa seperti lubang hitam yang bertransformasi menjadi lubang dub… mash. Ehm!

Beberapa bulan lalu, saat menghadiri rapat di Jakarta, menu makan siang yang disediakan adalah Masakan Padang. Saya tidak memakannya di tempat, namun saya membawa sekotak Masakan Padang tersebut pulang ke Bogor karena saya sudah cukup kenyang dengan snack yang disajikan di sela-sela rapat. Saat itu saya pikir, jika saya enggan memakannya akan saya berikan saja ke ibu kos seperti biasanya.

Tak dinyana, saat saya sudah sampai kos, ketika saya ketuk pintu kamarnya, ternyata beliau sedang tidak ada di tempat. Mungkin sedang belanja sembilan bahan pokok atau yang menurut Wikipedia dan dikutip dari www.sembako.co sering disingkat sembako adalah sembilan jenis kebutuhan pokok masyarakat menurut keputusan Menteri Industri dan Perdagangan no. 115/mpp/kep/2/1998 tanggal 27 Februari 1998. Kesembilan bahan itu adalah :

  1. Beras, Sagu, dan Jagung;
  2. Gula Pasir;
  3. Sayur-sayuran dan Buah-buahan;
  4. Daging Sapi, Ayam, dan Ikan;
  5. Minyak Goreng dan Margarin;
  6. Susu;
  7. Telur;
  8. Minyak Tanah atau Gas LPG;
  9. Garam ber-Iodium dan ber-Natrium

Damn! Demi mengetahui fakta tersebut, saya pun terduduk lunglai di tangga yang mengarah ke kamar saya di lantai dua. Bayangan ibu kos yang berusia awal 40-an menari-nari di otak dan benak saya. Begitu anggunnya saat dia mengenakan daster. Rambut panjangnya yang dihembus angin. Kulit mulusnya bagai sutera. Senyum manisnya. Tawa renyahnya. Desah manjanya yang seolah memanggil-manggil…

Ah! Sudahlah! Daripada mubazir mending saya makan sendiri aja, pikir saya saat itu. Sebelum membuka kotaknya terlebih dahulu saya mencermati tulisan yang tercetak pada sampul muka. Bopet Mini. Begitulah nama Rumah Makan yang terletak di sekitaran Bendungan Hilir, Jakarta. Konten yang tersedia sebenarnya cukup biasa. Standar Masakan Padang pada umumnya. Terdiri dari daun singkong, sayur nangka, sambalado ijo mudo nan di jauah di mato (halah!), gulai ayam, dan telur balado. Namun, ada yang sedikit mencuri perhatian saya. Pada kuah gulai ayamnya, selain warnanya cenderung soft juga terdapat beberapa butir kapulaga. Saya belum pernah menemukan yang seperti ini sebelumya. Saat saya mencicipi, rasa yang dihadirkannya pun unik dan menimbulkan kecurigaan saya bahwa Masakan Padang di Rumah Makan Bopet Mini tersebut ada pengaruh kuliner Aceh. Lidah dan otak saya bersinergi, berkelana rasa sambil menganalisa.

Jpeg

Penampakan Nasi Box Bopet Mini.

 

Saya seolah terhipnotis oleh citarasa ranah Minang yang tersaji dengan begitu mempesonanya. Hingga, tandas dalam sekejap. Hmm… sebaiknya kata “Tandas” saya ganti dengan “Ludes” karena “Tandas” di Malaysia sama artinya dengan “Toilet” atau “Jamban”. Tanpa saya sadari saya pun berteriak “Uniii! Tambo ciek!”

Kemudian hening seketika.

Saya seperti terbawa suasana berada secara real time di Bopet Mini. Saya sedang dipermainkan oleh ruang dan waktu.

Uni siapa?

Uni yang mana?

Kegalauan langsung merambati nadi. Mengoyak-ngoyak hati.

Duh! Saya malu pada diri saya sendiri. Malu pada semut-semut yang berbaris di tembok kamar saya. Malu pada cicak-cicak yang terpingkal-pingkal melihat kebodohan saya. Malu pada tokek-tokek yang terkekeh-kekeh pada kekonyolan saya. Lah! Ini kamar apa taman reptil, yak?

Sejak saat itu, ke-delicious-an Masakan Padang dari Rumah Makan Padang Bopet Mini menempel terus di lidah saya. Bagai hantu, terus membayang-bayangi dalam setiap gerak gerik saya. Menjelma menjadi obsesi. Melahirkan tekad bahwa suatu saat nanti saya harus meluangkan waktu untuk berwisata kuliner langsung ke Bopet Mini.

Hari Kamis tanggal 5 Juli 2018 kemarin saya ke kantor pusat di Jakarta untuk keperluan mengantar proposal penelitian yang saya kerjakan bersama tim tahun ini. Saya tidak bisa bertemu dengan pihak yang meminta proposal saya dan menurut informasi dari resepsionisnya beliau malah ada acara di kantor saya di Cibinong. Ngeselin sih, tapi hikmahnya saya punya kesempatan makan siang di Bopet Mini.

Setelah menitipkan proposal penelitian ke resepsionis, saya memesan Grab Bike melalui aplikasi dengan tujuan Bopet Mini. Tak perlu menunggu lama, driver yang akan mengangkut saya pun tiba. Saya meminta menunggu sebentar melalui chat sementara saya on the way dari lantai enam. Dengan kondisi kaki yang agak sakit dan tubuh yang sedikit demam <—lebay dikit biar ada efek dramatis yang mampu menggugah simpati pembaca saya memacu langkah agar driver Grab Bike tidak jenuh lalu meninggalkan saya dengan ekspresi menggerutu karena terlalu lama menunggu.

Siang itu kota Jakarta cukup terik dan kemacetan tampak terjadi di beberapa titik jalan yang saya tidak hafal nama-nama jalan tersebut. Perjalanan dari kantor pusat menuju Bopet Mini ditempuh dalam waktu kurang lebih 20 menit.

Jpeg

Rumah Makan Bopet Mini.

 

Di depan terdapat booth sate padang dan jajanan atau kudapan tradisional khas Minangkabau seperti pical (semacam pecel kalau di Jawa), ketupe sayur, hingga bubur kampiun. Kerupuk warna merah adalah kondimen khas seperti yang selalu bisa ditemui apabila berpelesir di sepanjang jalur Sumatera Barat. Saya memesan makan ke salah satu penjaga booth kudapan tradisional tersebut. Olehnya saya diarahkan untuk menuju lantai dua. Ketika melalui tangga yang berada di lorong lantai satu saya berpapasan dengan seorang laki-laki yang sepertinya baru selesai makan. Tiba-tiba, dia dengan setengah berteriak sambil menunjuk-nunjuk muka saya, berkata : “Di atas sudah penuh, Mas! Tidak ada lagi tempat bagi pendosa seperti anda!” Saya terkejut. Nih, bocah ngapa, yak? batin saya penuh keheranan.

Jpeg

Booth Sate Padang di Rumah Makan Bopet Mini.

Bopet Mini menawarkan konsep prasmanan. Pelanggan bisa leluasa memilih lauk yang disajikan pada nampan-nampan yang tersusun pada meja panjang sesuai selera. Lauk yang tersedia antara lain gulai ayam, gulai tongkol, gulai cumi, rendang, sayur daun ubi, sayur rebung, dan lain sebagainya. Saya mulai mengantri seperti sedang dalam acara kondangan. Saya menjatuhkan pilihan lauk pada gulai ikan tongkol, sayur daun ubi, dan sayur rebung. Es teh manis menjadi penawar dari pedas yang menghajar lidah. Harga yang saya bayar cukup standar. Dalam artian tidak terlalu mahal dan juga tidak terlalu murah. Sangat sesuai dengan citarasa yang dihadirkan.

Jpeg

Booth Kudapan Tradisional di Rumah Makan Bopet Mini.

Konsep prasmanan tentunya sedikit banyak mengingatkan pada budaya Prancis dan semakin menambah keunikan Rumah Makan Bopet Mini.

Dikutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Prasmanan, Prasmanan atau buffet (dibaca “buffé”) adalah cara penyajian makanan dalam pesta maupun restoran dengan meletakkan makanan pada meja panjang dan pengunjung mengambil sendiri menu yang diinginkan. Prasmanan sangat populer di Indonesia karena praktis dan mengurangi jumlah pelayan yang diperlukan dalam suatu resepsi.

Sedangkan https://www.restofocus.com/2015/05/pengertian-buffet-service.html, menjelaskan bahwa Prasmanan atau Buffet Service adalah suatu sistem pelayanan dimana makanan dan minuman dihidangkan dengan rapi di atas sebuah meja panjang yang telah di set dengan baik dan tamu mengambil sendiri makanan dan minuman yang dikehendaki/disukai.

Kata “Bopet” pada Bopet Mini sendiri menurut dugaan saya merupakan penyesuaian dari kata “Buffet” yang sangat jelas menyiratkan konsep yang diusung di rumah makan tersebut. “Buffet” (dilafalkan ba – fei) sendiri berasal dari bahasa Prancis yang memiliki arti “perabot seperti lemari yang terdiri dari beberapa rak dan biasanya dipakai untuk memajang piring dan lain sebagainya”. Orang Perancis mempelopori gaya menghidangkan aneka makanan dan minuman pada piring di rak-rak lemari  “Buffet” ini. Di Indonesia “Buffet” sendiri merujuk pada lemari untuk menyimpan perabotan makan dan minum seperti piring, gelas, cangkir, sloki, cawan, teko, sendok, garpu, dan lain sebagainya.

Jpeg

Konsep Prasmanan di Rumah Makan Bopet Mini.

Sejauh yang saya ingat, baru pertama kalinya saya mendapati rumah makan padang dengan konsep prasmanan. Di sebelah meja prasmanan terdapat konter kudapan  tradisional seperti bubur kampiun, ketan srikaya, surabi, lupis, dan lain sebagainya. Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat pada gambar yang saya lampirkan.

Menu di Bopet Mini

Daftar Menu Makanan di Rumah Makan Bopet Mini ( Sumber : https://www.zomato.com/id/jakarta/bopet-mini-bendungan-hilir/menu#tabtop )

Saya cukup puas dan ingin kembali lagi jika ada waktu luang. Recommended!

Nilai yang saya berikan :

  1. Makanan : 5/5
  2. Pelayanan : 4.5/5
  3. Kebersihan : 4.5/5
  4. Lokasi : 5/5
  5. Ambience : 4.5/5

Bagi yang tertarik untuk mencoba silahkan datang ke alamat yang tertera di bawah ini :

Rumah Makan Bopet Mini

Jalan Raya Bendungan Hilir Kav. IA.

Telp. : (021) 5713505.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s