Sarapan

Sarapan

Konon, perbedaan derajat intelektualitas (kecerdasan) antara manusia dan primata a.k.a. monyet hanya 1 % saja.

Logikanya, dengan perbedaan yang hanya 1 % itu, seharusnya manusia (masih) bisa dengan mudah mengajarkan Bahasa Indonesia atau Bahasa Daerah atau Matematika atau Fisika atau Kalkulus atau Pemrograman Komputer atau Astronomi atau disiplin-disiplin ilmu lainnya yang biasa dipelajari dan (sebagian) dikuasai (sesuai dengan minat) kepada primata a.k.a. monyet.

Namun, nyatanya… perbedaan yang hanya 1 % itu gap-nya sangat mengerikan…

Jadi, bisa dibayangkan, seandainya ada makhluk lain di Bumi yang tingkat intelektualitas (kecerdasan)-nya 1 % diatas manusia…

Mungkin, makhluk tersebut juga sama frustrasinya kala berusaha mentransfer ilmu kepada manusia sebagaimana frustrasinya manusia kala berusaha mentransfer ilmu kepada primata a.k.a. monyet.

Mungkin, makhluk tersebut yang masuk kepada golongan jahat akan menjadikan manusia sebagai buruan.

Sebagian lagi menjadikan manusia sebagai peliharaan…

Sebagian lagi menjadikan manusia sebagai pementas sirkus…

Sebagian lagi menjadikan manusia sebagai santapan malam…

Sebagian lagi menjadikan manusia sebagai…

Ah!

Maha Besar Tuhan Sang Pemilik Alam Semesta Beserta Seluruh Isinya.

Sekali lagi, betapa ngeri membayangkannya saja.

Tapi, sudahlah, lupakan, anggap saja imagi saya tersebut terlalu absurd.

Saya tidak hendak bercerita tentang kengerian-kengerian yang berpotensi menciptakan mimpi buruk dalam peraduan.

Saya ingin bercerita betapa selama ini banyak kerabat, sahabat, teman, dan kolega-kolega lain yang salah sangka dan mengira saya sebagai Naga Lyla bahwa pada hari ini, Sabtu tanggal 16 Januari 2016, seorang gadis manis yang pernah membawa saya kepada rumitnya labirin asmara dan nikmatnya secawan madu rindu yang dipanen dari sarang cinta diam-diam, sedang merayakan hari jadinya yang ke 25. Mungkin bersama kekasihnya.

Happy birthday to you…

Wish you all the best…

Tak ayal, ketika bangun tidur tadi pagi, saya pun sempat mengalami kegalauan. Tapi, bukan galau karena cinta yang berlalu dan tanpa sempat saya miliki ini, yaa… melainkan, galau menentukan menu sarapan.

Awalnya saya berinisiatif ingin masak sendiri saja sambil mempraktekkan hasil belajar dari chef-chef handal sekaliber -misalnya- Jamie Oliver melalui channel You Tube selama ini. Namun, tiba-tiba saya tersadar bahwa ternyata saya belum punya kompor, belum punya panci, belum punya teflon, belum punya pisau, belum punya talenan, belum punya bahan-bahan yang akan dimasak, dan belum punya….. istri #krik.

Okayy…

Pada dasarnya, saya bukan orang yang selalu memulai sarapan di waktu pagi. Meski sarapan itu sendiri selalu identik dengan waktu pagi. Sebagaimana mentari yang selalu terbit dari timur #halah. Memang di hari kerja dari Senin hingga Jumat, saya selalu mengawali sarapan pada pagi hari karena pada saat bekerja dibutuhkan energi yang mencukupi agar pekerjaan bisa terlaksana dengan sebagaimana mestinya. Akan tetapi tidak dengan akhir pekan.

Saat akhir pekan, biasanya saya mulai sarapan ketika hari sudah menjelang siang. Mendekati waktu Dhuhur. Karena setiap akhir pekan saya selalu bangun ketika hari sudah menjelang siang. Mendekati waktu Dhuhur. Diulang-ulang wae.. hehehe..

Sarapan di kantin-kantin sekitar kost-an cukup menjemukan. Hampir setiap hari sepulang kerja saya selalu makan malam di kantin-kantin sekitar kost-an. Sempat terfikir sarapan di Maidanglao yang hanya berjarak seperlemparan granat dari kost-an saya. Tapi, kok, ya, eman-eman, gitu, di Maidanglao satu menu Paket Panas Spesial yang terdiri dari Sekepal Nasi, Ayam Goreng, Scramble Egg, dan Es Lemon Tea dihargai (sudah termasuk pajak) Rp. 33 Ribu rupiah. Selain itu makanan cepat saji juga kurang sehat.

Setelah agak lama menimbang-nimbang sambil diiringi playlistnya Mbak Shumei, Sinden Taiwan Kesayangan, akhirnya, saya menjatuhkan pilihan sarapan di Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro yang berlokasi di Jalan KH. Sholeh Iskandar, Bogor, dekat Perumahan Cimanggu Permai dan Perumahan Bukit Cimanggu City.

Mbak Shumei 4.png

Mbak Shumei, Sinden Taiwan Kesayangan.

Karena lapar yang semakin mendera, maka, seusai mandi dan gosok gigi saya bergegas menuju tempat makan Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro dengan menumpang Bis Trans Pakuan. Untuk sementara waktu, BlūShumei, Vespa cantik kesayangan saya, masih dalam tahap perbaikan.

Rumah Makan Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro di Jalan KH. Sholeh Iskandar ini merupakan tempat makan favorit Ayah saya. Saya juga mengetahui tempat makan ini dari Ayah saya. Setiap kali Ayah saya singgah di Bogor dipastikan –paling tidak sekali- harus makan di sini. Menurut Ayah saya, di seantero Bogor ini Rumah Makan Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro di Jalan KH. Sholeh Iskandar ini merupakan tempat makan dengan sajian utama bebek yang sangat direkomendasikan dan paling nikmat dari semua yang ada. Daging bebeknya lembut, level pedas sambal koreknya cukup memadai dalam artian tidak terlalu pedas dan tidak terlalu tidak pedas, istilahnya Fifty Fifty, selain itu nasinya juga pulen, dan harganya cukup terjangkau.

Ya, apa yang dikatakan oleh Ayah saya memang terbukti.

Bebek Goreng H. Slamet (Asli) Kartosuro… –meminjam jargon Bondan “Wisata Kuliner” Winanro- … Mak Nyusss!

Alamat :

Kuliner Centre Jl.KH.Sholeh Iskandar  ( Depan Bukit Cimanggu City ) BOGOR 

 Fasilitas   : Parkir Luas , Mushola , Smoking & Non smoking area

 Kapasitas :  150 orang ( Lesehan dan duduk )

 Jam Buka : weekdays : 10:00 pagi sampai 21.00 malam

                      weekend  :  10:00 pagi sampai 22:00 malam  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s