Sore – Sore Nyidam Sari

Momen lebaran Idul Adha kemarin saya manfaatkan untuk mudik ke kota kelahiran saya : Madiun. Tujuan utamanya sudah pasti sungkem ke Ayah dan Bunda sekalian minta didoakan supaya segera bertemu jodoh yang selama ini entah sedang melanglangbuana kemana menikmati lebaran Idul Adha yang sangat jarang sekali saya lalui di Madiun. Ya, walaupun baru beberapa bulan yang lalu, tepatnya saat lebaran Idul Fitri saya mudik, tapi, apalah daya, kerinduan akan rumah sukar dibendung.

Alhamdulillah, Ayah dan Bunda saya sehat walafiat dan mudah-mudahan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Hajat pulang kampung ini sempat terancam gagal gara-gara saya salah memilih tanggal keberangkatan ketika memesan tiket melalui website PT. KAI. Saya mengira libur Idul Adha ada di tanggal 25 September 2015, maka saya memesan tiket keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen ke Madiun pada tanggal 24 September 2015 menggunakan KA. Majapahit pukul 18.30 WIB, jadi saya tidak perlu ijin dari kantor. Untuk tiket kembali ke Jakarta, saya tetap menggunakan KA. Majapahit dari Madiun tanggal 26 September 2015 pukul 23.15 WIB, tepat di hari Sabtu, jadi ketika sampai di kost-an saya di kota Bogor saya masih punya waktu istirahat satu hari sebelum kembali beraktifitas di hari Senin.

Beberapa hari sebelum hari H mudik, saya baru menyadari kesalahan tanggal keberangkatan ketika melihat kalender di salah satu tempat makan di dekat kost-an saya. Maklum saya tidak punya kalender dan ketika memesan, saya hanya melihat tanggalan dari kalender hape jadul saya yang warnanya sudah pasti sama semuanya. Hitam. Saya kaget bukan kepalang. Saking paniknya saya tidak menyadari bahwa makanan saya sudah habis dan saya hanya menyendok angin.

Esoknya, sepulang kerja saya pontang-panting menuju ke Stasiun Bogor untuk menggeser jadwal keberangkatan dari tanggal 24 September 2015 ke tanggal 23 September 2015.

“Maaf, Mas, untuk jadwal 23 September 2015 sudah penuh semuanya.” Bait jawaban yang mengalir dari bibir Mbak petugas loket nan anggun itu seketika menusuk ke jantung hati.

“Kereta selain Majapahit masih ada yang kosong apa tidak, Mbak?” Tanya saya lagi dengan penuh harap. Mbak petugas loket hanya menggeleng-gelengkan kepala diiringi senyum penglipur lara yang tidak berhasil mengobati kekecewaan saya. Saya memutuskan untuk membatalkan tiket keberangkatan tersebut dan beralih ke moda transportasi bis Rosalia Indah.

Bayangan kemacetan yang mengular berkelebatan di kepala membuat saya seolah mabuk darat sebelum bis melaju dari pool nya. Namun, diluar dugaan, perjalanan menuju kota Madiun menggunakan bis Rosalia Indah nyaris bebas hambatan. Memang di beberapa titik seperti sudah pada umumnya, di Subang dan Indramayu, misalnya ada ruas-ruas jalan yang tidak beres. Atau tepatnya dari dulu tidak pernah beres. Diluar semua itu, perjalanan cukup bisa dinikmati.

Sama halnya dengan Bogor, Madiun juga belum turun hujan. Bedanya, musim kemarau di Madiun tidak terasa se-hareudang di Bogor. Mungkin karena tidak terlalu banyak kendaraan. Maklum, Madiun hanyalah kota perlintasan yang kecil. Terik mentari yang menari-nari bersama semilir angin semakin mesra dirasa dalam iringan tembang-tembang campursari khas karya-karya Manthous.

Di Madiun, tak lengkap rasanya apabila tidak sarapan Nasi Pecel Madiun yang ke-deliciousan-nya telah diakui khalayak ramai penikmat kuliner nusantara. Hanya dengan Rp. 42 Ribu Rupiah sudah bisa dapat enam porsi Nasi Pecel Madiun paling lezat sedunia dengan lauk rempeyek kacang dan gorengan tempe yang ukurannya segede gaban. Meminjam jargon Pak Bondan Winarno : Makyuss!

Nasi Pecel favorit saya adalah Nasi Pecel Pojok yang lokasinya tidak jauh dari rumah saya. Tepatnya berada di ujung persimpangan antara Jalan Cokroaminoto dan Jalan Ringin. Warung nasi pecel ini dikelola oleh keluarga Elang, teman SD saya. Elang ini berjenis kelamin perempuan. Dulu ketika masih sekolah, Elang bersama teman-teman sekelas yang akrab seperti Eva, Chandra, dan Deny sering sekali mengajak saya masak-masakan. Acaranya selalu di rumah saya karean letaknya yang cukup strategis. Secara berkala, setiap seminggu sekali, misalnya, di hari Sabtu, sepulang sekolah, Elang, Eva, Chandra, dan Deny pergi ke rumah saya dengan membawa peralatan-peralatan masak yang diperlukan yang sudah dibagi-bagi sesuai kesepakatan siapa bawa ini siapa bawa itu lalu belanja ke pasar mencari bahan baku. Jujur, dulu setiap kali mereka mencari saya ke rumah untuk acara masak-masakan itu, saya selalu lari bersembunyi karena malu. Bagi saya, masak-masakan itu bukan dolanannya laki-laki. Kalau sudah begitu, Bunda saya yang turun tangan menemukan saya untuk diserahkan ke mereka. Dewasa ini, bila teringat, saya justru kangen akan masa-masa tersebut. Apalagi belakangan banyak bermunculan Chef-Chef dari kalangan pria.

Setiap sore saya menikmati kemalasan di kedai kopi sambil bercengkrama bersama teman-teman sejawat yang memilih tetap bertahan di kampung halaman dengan segala idealismenya untuk memajukan kota Madiun melalui karya-karya orisinal buah pemikiran paling jernih.

saat menjelang senja ketika langit masih tampak cerah, saya duduk di beranda rumah bersama Bunda, mendengarkan wejangan-wejangan beliau yang akan selalu saya jadi pegangan agar hati dan fokus tidak goyah dalam menjalani kehidupan yang semakin ganas dan tak terprediksi. Warna lembayung yang perlahan mulai terlukis di ufuk barat mengiring sang surya undur diri menuju peraduan membuat suasana semakin emosional. Saya teringat akan waktu yang tidak bisa diperintah oleh manusia. Waktu tidak pernah peduli dengan permohonan untuk berhenti sejenak demi sebuah kebahagiaan yang sedang berlangsung. Seolah seperti sebuah pintu yang baru saya saya tutup dan tinggalkan, masa kanak-kanak yang indah telah berlalu sekian jauhnya. Saya menatap Bunda yang selalu sabar mendampingi saya hingga dewasa. Tiba-tiba saya seperti dihadapkan pada layar film yang menayangkan masa-masa ketika Bunda mengantar saya ke sekolah. Bunda membawa saya ke dokter ketika pilek lalu saya merengek-rengek minta dibelikan layang-layang. Bunda dengan tekun menemani saya mengerjakan PR Matematika dari guru paling killer semasa SD yang membuat saya jadi membenci pelajaran tersebut sehingga sampai sekarang saya paling bodoh soal Matematika. Ah, saya ingin kembali ke fragmen hidup ketika itu kemudian menekan tombol “On” dan tetap berada di sekitarnya. Setiap selesai saya putar kembali. Begitu seterusnya hingga malaikat Israfil meniup sangkakala tanda berakhirnya dunia beserta seluruh isinya. Saya tidak ingin jauh dari Bunda. Saya ingin tetap menjadi anak kecil dalam belaian dan lindungan Bunda.

Di depan rumah saya terhampar halaman yang lumayan luas. Di malam terakhir, setelah menunaikan ibadah sholat Isya’, saya menikmati kilau gemintang yang merubungi rembulan di jagad malam. Tampak riang sekali. Seolah keriuhannya terdengar meski dari jarak ratusan tahun cahaya. Sambil terus menatap warna ceria di langit, hati saya bergumam : “Seandainya masih ada semalam lagi di Madiun.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s