Fùmǔ De Xīnshēng

11692749_1139227242760661_8738450984387799946_n

Mbak Shumei, Sinden Taiwan

Diantara ratusan lagu Mbak Shumei yang (berhasil) saya miliki, saya sangat terkesan dengan satu lagu berjudul Fùmǔ De Xīnshēng, secara harfiah, artinya kurang lebih Hasrat/Impian/Harapan Orang Tua, merupakan bahasa lokal Taiwan, Thayu, yang termasuk rumpun Bahasa Mandarin.

Lagu ini mengisahkan tentang anak gadis semata wayang dari sebuah keluarga yang mulai beranjak dewasa dan sudah saatnya menikah. Dalam tradisi kuno Taiwan, perempuan yang menikah kelak harus ikut keluarga suaminya. Sebelum benar-benar meninggalkan rumah, pada hari-hari menjelang pernikahan, setiap orang tua dari pihak perempuan biasanya akan menitipkan bekal dalam bentuk emas sebagai simpanan saat menghadapi kondisi darurat dalam biduk rumah tangga dan wasiat berupa wejangan-wejangan beserta harapan-harapan kepada anak perempuannya agar menjadi menantu yang baik. Tak lupa juga, orang tua berpesan jika ada waktu luang disempatkan berkunjung ke rumah untuk sekedar minum teh bersama sambil ngobrol-ngobrol ringan di beranda rumah seperti saat-saat sebelum menikah.

Hingga saat ini, di Taiwan, lagu berirama lembut yang bikin ngelangut ini memang masih sering dijadikan sebagai lagu pengantar pernikahan. Biasanya anak perempuan yang menikah akan menyanyikannya sebagai persembahan sekaligus ucapan terimakasih kepada kedua orang tuanya yang telah bersusah payah membesarkan dengan penuh kasih sayang.

Saya sudah jatuh cinta pada lagu ini sejak pertama kali mendengarkannya melalui saluran Youtube. Meskipun saat itu saya belum mengerti sama sekali maknanya. Dalam playlist saya, lagu ini termasuk kategori pengantar tidur.

Setiap kali mendengarkan lagu ini di akhir pekan yang terik berhias semilir angin, sembari memejamkan mata, fikiran saya terbang pada kenangan-kenangan masa kecil dalam buaian Ayah Bunda.

Saya membayangkan, seandainya saya bisa menciptakan kendaraan pelontar waktu, saya ingin pergi berkunjung ke masa lalu, terutama masa kanak-kanak. Menyambangi fragmen-fragmen hidup yang telah dibekukan oleh waktu kemudian memencet tombol “On” agar berdenyut kembali.

Pertama, saya akan mendampingi diri saya saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Menuntunnya menjadi buah hati yang patuh terhadap Ayah Bunda. Saya akan membisikinya agar selalu rajin Sholat 5 waktu dan mendaras Al Qur’an. Saya juga terus menyemangatinya supaya rajin belajar, biar bisa dapat nilai-nilai yang fantastis sehingga menjadi ranking 1 di kelas. Saya akan mengajaknya ikut tim sepakbola dan beladiri.

Naik ke level berikutnya, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau Sekolah Menengah Pertama. Saya akan mengajarinya agar tidak menjadi anak yang suka menuntut macam-macam terhadap Ayah Bunda. Menjadi pribadi yang sederhana dan semakin memperhatikan pelajaran yang dijelaskan Bapak atau Ibu Guru di kelas jauh lebih penting. Saya akan mengarahkannya untuk ikut kegiatan Pramuka dan kursus musik.

Menuju ke jenjang selanjutnya, Sekolah Menengah Umum atau Sekolah Menengah Atas. Saya akan menasehatinya supaya tidak sering-sering keluyuran. Lebih baik menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan Bapak atau Ibu Guru dari sekolah sambil membantu meringankan kesibukan Ayah Bunda. Jangan merokok dan mencoba hal lainnya yang tidak memberikan faedah bagi tubuh. Lebih baik uangnya ditabung, jika sudah terkumpul banyak bisa digunakan untuk keperluan-keperluan yang penting dan urgent. Berkumpul dengan teman-teman yang soleh dan berprestasi agar ketularan energi positifnya. Saya akan menyarankannya bergabung dalam kegiatan Paskibraka di sekolah agar kelak bisa ikut ambil bagian pada saat Upacara Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara.

Beranjak ke masa kuliah. saya akan menganjurkannya pada setiap liburan semesteran diusahakan mengikuti program-program beasiswa pertukaran pelajar di luar negeri untuk menambah wawasan dan kawan dari berbagai penjuru dunia. Atau minimal digunakan untuk bekerja paruh waktu di restoran cepat saji, misalnya, supaya bisa menambah uang saku sendiri dan tidak merepotkan Ayah Bunda. Saya akan terus memotivasinya agar semakin rajin belajar sehingga ketika lulus bisa menjadi individu yang berguna bagi nusa, bangsa, dan keluarga.

Saya hanya ingin membuat bangga Ayah Bunda…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s