You’ve Got To Hide Your Love Away

Here I stand head in hand
Turn my face to the wall
If she’s gone I can’t go on
Feelin’ two-foot small

Everywhere people stare
Each and every day
I can see them laugh at me
And I hear them say

Hey you’ve got to hide your love away
Hey you’ve got to hide your love away

How can I even try
I can never win
Hearing them, seeing them
In the state I’m in

How could she say to me
Love will find a way
Gather round all you clowns
Let me hear you say

Hey you’ve got to hide your love away
Hey you’ve got to hide your love away

Ketemu Barbershop yang (bisa diajak) satu visi itu memang menyenangkan. Dari menit pertama saya masuk sudah disuguhi playlistnya The Beatles. Ketika kapsternya tanya tentang model yang saya inginkan, saya tinggal jawab : “ala The Beatles, ya, moptop britpop/rock gitu, bisa kan?” …. “Siap, Mas.” Jawab si kapster penuh percaya diri.. Dan hasilnya setengah jam kemudian, di depan cermin saya sampai pangling dan sukar membedakan antara diri saya sendiri dengan Paul McCartney.. hehehehhe..

Konon, musik dan lirik tembang You’ve Got To Hide Your Love Away yang terdapat pada Album The Beatles – Help rilisan tahun 1965 tersebut ditulis oleh John Lennon sebagai ungkapan perasaannya kepada Brian Epstein, manajer The Beatles kala itu yang diduga adalah seorang homoseksual. Melalui kiasan-kiasan lirik yang tersusun apik dan puitis dalam lagu tersebut, John Lennon seperti hendak mengatakan bahwa dirinya juga seorang biseksual yang bisa memenuhi hasrat cinta yang ganjil diantara mereka. Brian Epstein telah berjasa membesarkan The Beatles melalui strategi, manajemen, dan sentuhan jeniusnya dalam industri musik era 1960-an. Gaya vokal John Lennon pada lagu tersebut terinspirasi oleh penyanyi pop-rock balada Amerika yang terkenal dengan lirik-lirik bertema sosial, Bob Dylan.

You’ve Got To Hide Your Love Away nampak bersahaja namun berisi dan penuh misteri, hanya dibawakan dengan John Lennon sebagai vokalis tunggal tanpa suara latar sambil memainkan gitar 12 senar, ditingkahi petikan bass Paul McCartney, George Harrison menyelaraskan harmoni melalui cuplikan gitar akustik klasik 6 senar, dan Ringgo Starr menimpalinya dengan brushed snare drum, tamborin, marakas. Seorang pemain tambahan bernama John Scott mengisi suara tenor dan alto flutes.

Bagi saya lagu tersebut memiliki kenangan tersendiri.

Selama hampir tujuh tahun magang di salah satu Instansi Pemerintahan yang berlokasi di Kompleks Pemerintahan Daerah Kabupaten Bogor sambil (berusaha) menyelesaikan Studi Strata 1 jurusan Agribisnis di Institut Pertanian Bogor menggiring saya pada rumitnya pusaran labirin rasa jatuh cinta.

Cinta yang pada akhirnya harus saya sembunyikan selama mungkin hingga saya lulus kuliah dan memilih untuk mengundurkan diri.

Memang salah saya sendiri tidak punya rasa percaya diri dan mudah minder. Saya hanya mahasiswa magang yang tinggal di kamar kost berukuran 4 m x 4 m seharga Rp. 500.000,- per bulan yang berada tepat di jantung Kota Bogor. Sedangkan perempuan pujaan hati saya itu adalah putri seorang amtenaar. Bukan main skala kesenjangan diantara kami. Ibarat langit dan bumi. Dia langit, saya Bumi.

Pepatah Jawa pernah menuturkan “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”. Terjemahan bebasnya, Cinta Hadir Karena Terbiasa. Secara kebetulan meja kerja perempuan pujaan hati saya itu berada tepat di sebelah kiri meja kerja saya. Meski jarang sekali ngobrol –karena saya memang cenderung pendiam dan kurang asik, tak heran saya tidak punya cukup banyak kawan– tapi lama-kelamaan saya merasa terbiasa ada perempuan pujaan hati saya itu di samping saya dalam arti sebagai rekan kerja. Saya selalu merasa ada yang kurang jika perempuan pujaan hati saya itu sedang tidak masuk kantor karena sesuatu lain hal, sakit, misalnya.

Pelan-pelan, perasaan terbiasa ada perempuan pujaan hati saya itu di samping saya dalam arti sebagai rekan kerja dan terasa ada yang kurang apabila perempuan pujaan hati saya itu tidak masuk kerja tersebut menumbuhkan benih-benih rindu di setiap malam dan mewujud menjadi mimpi-mimpi romantis dalam peraduan.

Pada hari-hari selanjutnya, saya mulai terprovokasi oleh perasaan yang tak pasti. Perasaan yang mungkin hanya bersemi di ladang hati saya saja. Perasaan yang berpotensi menempatkan diri saya sebagai pihak yang –akan- menerima takdir cinta bertepuk sebelah tangan.

Sempat saya berencana mengungkapkan perasaan saya yang sesungguhnya. Perkara diterima atau tidak diterima itu urusan lain. Saya sudah siap menanggung segala resikonya. Tapi, seperti yang sudah saya kemukakan di awal tadi, rasa minder dan kurang percaya diri selalu menyergap dari segala penjuru arah mata angin. Utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut… saya tersudut.

Saya segera melupakan rencana tersebut bertepatan dengan Dosen Pembimbing saya yang sudah tidak sabar melihat saya lekas lulus dari kampus. Alhamdulillah, saya dibimbing Dosen yang baik hati, pengertian dan perhatian. Pada saat membimbing, Dosen saya juga sedang sibuk dengan Desertasi S3 (Doctor)-nya. Uniknya lagi, saya dan Dosen Pembimbing saya diwisuda pada hari yang sama. Bangga sekali rasanya. Saking baiknya, ketika beliau dipanggil ke depan untuk penyematan tanda kewisudaan, banyak mahasiswa yang memberikan applause, mungkin karena merasa berkesan atas bimbingan beliau. Rata-rata bimbingan beliau lulus dengan cepat dan tepat waktu. Hanya saya yang berlarut-larut dikarenakan agak kewalahan menyeimbangkan jadwal bimbingan dan perbaikan Skripsi dengan pekerjaan. Dari mulai kolokium, pengambilan data, pengolahan data, seminar hasil, sampai sidang, total jendral memakan waktu dua tahun. Padahal, jika saya mau rajin sedikit saja, mungkin bisa terselesaikan dalam tempo satu tahun.

Beberapa hari setelah seremonial kelulusan yang membuncahkan harapan baru, saya meminta ijin kepada atasan saya untuk mengambil cuti selama dua minggu. Ketika ditanya alasannya, saya jawab sejujurnya saja bahwa saya sedang butuh refreshing setelah melalui minggu-minggu yang sangat penat. Saya pergi mengunjungi seorang sahabat saya yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Wellington, New Zealand. Anehnya, selama berada di sana, saya tidak merasa tenang karena dihantam rindu yang begitu menyiksa. Rindu kepada perempuan pujaan hati saya itu.

Perjalanan menumbuhkan keberanian. Saya mulai meniatkan untuk segera mengungkapkan perasaan saya yang sesungguhnya sesampainya kembali di tanah air. Dalam bayangan saya, perempuan pujaan hati saya itu akan menjadi istri dan ibu bagi anak-anak saya kelak. Dan, sebagaimana umumnya orang yang sedang jatuh cinta, saya jadi semakin rajin beribadah.

Namun, dua minggu kemudian, sepulangnya dari liburan, kenyataan berkata lain. Niat tulus yang telah di ujung bibir harus saya belesakkan kembali mentah-mentah ke dalam kerongkongan karena perempuan pujaan hati saya itu sudah jadian dengan laki-laki lain yang lebih gesit mengambil peluang dari saya. Dan yang membuat saya menjadi canggung bukan kepalang, laki-laki tersebut adalah teman satu kantor juga. Satu ruangan pula. Hanya berjarak beberapa meja saja. Asem tenan.

Kata-Kata Ngenes yang Bikin Nyesek

Gambar Diambil Dari Sini

Patah hati, sudah pasti. Tapi, haruskah saya marah dan kesal kemudian pulang dan mengurung diri di kamar selama-lamanya?… Ah, saya pikir, saya tidak perlu menjadi se-dramatis itu. Toh, memang salah saya sendiri. Walaupun di dalam dada rasanya nyesek setiap melihat mereka bermesra di hadapan saya, kecemburuan itu sesegera mungkin saya konversi menjadi senyum optimisme menghadapi babak hidup selanjutnya.

Tidak ingin berlama-lama terjebak dalam kubangan nestapa cinta, saya memutuskan mengundurkan diri dan berpindah ke rumah baru yang menawarkan mimpi-mimpi segar. Saya melakukannya semata-mata agar semua tetap berjalan normal bagi saya. Agar tujuan-tujuan meraih masa depan tidak berbelok dan menjadi tak tentu arah.

Belakangan saya mensyukuri kondisi tersebut. Tanpa melalui momen getir itu, mungkin sampai sekarang saya masih jalan di tempat. Patah hati itu memang harus terjadi untuk menelanjangi kepicikan saya dan agar pikiran saya bisa terbuka dalam memandang setiap peristiwa dari banyak sisi. Agar mata hati saya bisa melihat peluang yang lebih lapang di tempat lain. Masih banyak orang-orang yang diliputi ketidakberuntungan oleh sebab harapan yang tak tergapai. Sekali lagi, saya bersyukur masih bisa berdiri tegak dan merasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s