Food Combining

Food Combining Chart

Beberapa kawan/sahabat/kolega saya mengaku sukar membedakan antara saya dan Naga Lyla yang ibarat pinang dibelah dua mulai menerapkan Food Combining. Alasannya, untuk hidup yang lebih sehat.

Sebenarnya Food Combining bukan hal baru…

Menurut sahibul hikayat, Suku Bangsa Essene di Palestina telah menjalankan prinsip-prinsip dasar Food Combining dengan penuh kekhusyukan sejak zaman dahulu. Mereka mengkonsumsi makanan mentah jenis sayur-sayuran atau buah-buahan. Dalam sekali makan, mereka tidak mencampur terlalu banyak makanan. Selain itu, mereka juga rajin berpuasa pada waktu-waktu tertentu, seperti Puasa Senin dan Kamis, misalnya. Kebiasaan dan kesetiaan terhadap pola makan tersebut diyakini menjadi tengara Suku bangsa ini (rata-rata) memiliki umur panjang yang dibarengi kesehatan prima.

Bertumbuhnya penyakit-penyakit degeneratif yang sudah banyak menghinggap di usia produktif (antara 30 – 40 Tahun-an) yang diakibatkan oleh beberapa diantaranya pola makan dan gaya hidup yang tidak teratur dan kurang terkendali, stress, perkembangan industri makanan dan minuman instan, polusi udara dan faktor lingkungan yang terakumulasi selama bertahun-tahun menyebabkan orang-orang mulai melirik gaya hidup alami seperti yang pernah dilakukan leluhur sebelumnya, salah satunya Food Combining.

Seiring perkembangan riset di bidang nutrisi, selain faktor-faktor pemicu seperti yang telah disebutkan di atas dan masih banyak lagi tentunya, tak pelak membuat Food Combining menjadi populer di –khususnya- masyarakat urban/metropolis/perkotaan.

Pada prinsipnya Food Combining tidak berpantang pada makanan tertentu dan mengacu pada (setidaknya) tiga hal : apa yang dimakan?, kapan memakannya?, dan bagaimana memakannya?.

Pertama, apa yang dimakan?

Food Combining merekomendasikan kecukupan sayur segar, buah-buahan, serta bahan alami lainnya dan meminimalisir makanan yang mengandung zat adiktif atau pengawet kimiawi.

Kemudian kapan memakannya?

Food Combining berpedoman pada ritme sirkadian yaitu proses biologis yang menunjukkan osilasi endogen dan berulang setiap sekitar 24 jam. Ritme ini didorong oleh jam sirkadian, dan telah banyak diamati pada tanamanhewanjamur, dan cyanobacteria. Istilah sirkadian berasal dari bahasa Latin circa, yang berarti “sekitar” (atau “kira-kira”), dan diem atau dies, yang berarti “hari”. Ilmu formal mengenai ritme biologis sementara, seperti ritme harian,pasang surut, mingguan, musiman, dan tahunan, disebut kronobiologi. Meskipun ritme sirkadian terjadi secara endogen (tetap dan mandiri), ritme ini disesuaikan dengan lingkungan sekitar oleh isyarat eksternal yang disebut zeitgebers, biasanya yang paling penting adalah pada siang hari. Ritme sirkadian penting untuk menentukan pola tidur dan pola makan semua hewan, termasuk manusia. Ada pola yang jelas dari aktivitas gelombang otak, produksi hormon, regenerasi sel dan kegiatan biologis lainnya yang terkait dengan siklus harian (Dipetik dari Kamus Kesehatan).

Sistem pencernaan terbagi atas 3 fase yaitu fase pencernaan, fase penyerapan dan fase pembuangan.

Pukul 12:00-20:00 : Fase pencernaan makanan Saat ini, tubuh aktif melakukan fungsi cerna.

Pukul 20:00-04:00 : Fase penyerapan sari makanan. Ini adalah saat tubuh mulai menyerap, mengasimilasi dan mengedarkan zat makanan.

Pukul 04:00-12:00 : Fase pembuangan Pada fase ini, tubuh aktif melakukan pembuangan sisa metabolisme. Bukan berarti fungsi mencerna sama sekali berhenti saat ini, hanya saja energi dominan akan digunakan untuk pembuangan. Begitu pula saat fase pencernaan dan penyerapan, bukan berarti tidak ada proses pembuangan.

Ada konsep asam basa atau istilahnya pH yaitu derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan.

pH didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.

pH tubuh manusia yang sehat berada pada kisaran 7,35 – 7,45 dalam skala 1 sampai dengan 14. Semakin mendekat ke angka 1 artinya derajat keasaman sangat tinggi, sedangkan semakin bergeser ke angka 14 artinya derajat keasaman rendah yang biasa disebut basa. Dengan pengaturan makanan, Food Combining berikhtiar mencapai pH optimal sehingga dianjurkan banyak makan sayur-sayuran dan buah-buahan segar karena keduanya merupakan pembentuk basa dalam tubuh.

Lalu bagaimana memakannya?

Food Combining berpatokan pada padu padan serasi dan tak serasi dari tiap unsur makanan. Prinsip sederhananya tidak memakan Karbohidrat (Nasi) bersama Protein Hewani (Daging/Ayam/Telur).

Kombinasi yang dikatakan serasi terdiri dari :

  1. Karbohidrat (Nasi) yang dimakan bersama Protein Nabati (Sayur-sayuran).
  2. Protein Hewani (Daging/Ayam/Telur) yang dimakan bersama Protein Nabati (Sayur-sayuran).

Kenapa di dalam Food Combining tidak dianjurkan memakan Karbohidrat (Nasi) bersama Protein Hewani (Daging/Ayam/Telur)?

Penjelasannya, perpaduan yang tidak serasi tersebut bisa menyebabkan sistem cerna kerepotan melakukan kinerjanya pada proses metabolisme dalam tubuh. Enzim Amilase yang berfungsi memecah Karbohidrat akan berhenti saat Enzim Pepsin yang bertugas memecah Protein dikeluarkan. Akibatnya Karbohidrat tidak tercerna dengan baik dan menjadi sampah metabolisme yang salah satunya menyebabkan pH darah berubah asam dan bisa menimbulkan beberapa gangguan kesehatan.

Bagaimana menjalankan cara konsep-konsep di atas?

Saat bangun pagi, alangkah baik bila diawali dengan minum segelas air hangat dengan perasan jeruk lemon/jeruk nipis tanpa gula untuk menyegarkan kembali liver yang kelelahan setelah semalaman bekerja melakukan detoksifikasi tubuh.

Pilihan utama untuk sarapan paling baik dan sempurna adalah buah-buahan segar. Fruktosa buah yang sangat mudah diserap memenuhi syarat untuk menjadi sumber energi tanpa menyebabkan tubuh lelah mencerna. Batas waktu sarapan hingga sesaat sebelum makan siang, kira-kira sampai pukul 11.00 WIB.

Makan siang dan makan malam bebas memilih asal tetap berpedoman pada prinsip padu padan atau serasi tidak serasi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Ada banyak manfaat positif bagi kesehatan yang didapat jika bisa menjadikan Food Combining sebagai kebiasaan. Beberapa diantaranya menurunkan angka kolesterol, menghilangkan alergi, berat badan ideal dan masih banyak lagi. Untuk lebih lengkap dan jelasnya beberapa buku bisa dijadikan referensi, antara lain :

  1. The Complete Book Of Food Combining, Penulis Kathryn Marsden ,
  2. Guide To Food Combining, Penulis Detoxinista ,
  3. Food Combining : Bukan Hanya Untuk Sehat Tapi Juga Awet Muda Dan Panjang Umur, Penulis Rosmauli Tiurma dan Kartika Wibisono ,
  4. Food Combining : Makan Enak Untuk Langsing Dan Sehat Dengan Sajian Sedap Cita Rasa Daerah, Penulis Wied Harry Apriadi ,
  5. Food Combining : Pola Makan Sehat, Enak, & Mudah, Penulis Widyanti Yuliandari, S.T .

Selamat mencoba…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s