Sarangmandeulgi

8

Minggu sore 26 Juli 2015 Kereta Api PLB Khusus Lebaran jurusan Madiun – Tanah Abang berangkat dari Stasiun Madiun, Kota Kelahiran saya menuju Jakarta tepat pada pukul 15.00 WIB. Secara fisik kereta ini masuk dalam kategori kelas ekonomi, namun, karena predikat khusus dengan harga tiket sebesar Rp. 220 Ribu Rupiah, prinsip kerja atau operasionalnya lebih mirip kelas eksekutif. Maksudnya, kereta ini hanya berhenti di stasiun-stasiun besar (tertentu). Kereta Api ini hanya tersedia –biasanya- sejak H-10 hingga H+10 lebaran.

Saya duduk di Gerbong 5 nomor kursi 14 D. Hawa dingin menyeruak dari AC yang berada tepat di atas tempat saya duduk. Karena tidak begitu tahan, saya segera mengenakan jaket berbahan wol warna hijau tua dengan motif rusa kembar favorit saya. Agar tidak masuk angin. Bangku-bangku nomor 14 E, dan 13 D-E di sekitar saya masih kosong tanpa penumpang. Saya bebas menyelonjorkan kaki sambil menikmati pemandangan sore dari balik jendela.

Kereta api melaju dengan kecepatan penuh. Ngebut.

Sejak di masinisi oleh Ignasius Jonan terhitung kurang lebih mulai 5 tahun yang lalu hingga sekarang beliau telah menjadi Menteri Perhubungan Indonesia, pelayanan PT. Kereta Api Indonesia mengalami perubahan ke arah yang semakin baik. Berorientasi pada pelayanan prima yang memudahkan sekaligus memuaskan  customer/penumpang. Salah satu langkah inovatif adalah pelayanan tiket sistem online melalui website PT. KAI dan bekerjasama dengan minimarket-minimarket yang telah menjamur di wilayah perumahan-perumahan. Cerminan stasiun-stasiun yang selama ini identik dengan kondisi semrawut dan kumuh dirombak menjadi rapi dan teratur. Sistem boarding yang diterapkan ampuh membuat suasana stasiun menjadi lebih nyaman dimana yang diperbolehkan masuk hanyalah pemegang tiket kereta api. Jadwal kereta yang mulai tertata agar selalu tepat waktu supaya tidak terjadi keterlambatan yang berakibat pada penumpukan penumpang. Kereta-kereta direvitalisasi menjadi lebih bagus dan bersih.

Bila menilik kembali 15 atau 20 tahun ke belakang, tentunya sebagai pengguna setia kereta api patut untuk bersyukur dan berbangga oleh akselerasi positif yang tersaji di tubuh PT. KAI. Sekarang tidak ada lagi penumpang yang berdesak-desakan hingga bergelantungan di dekat pintu yang bisa membahayakan jiwa penumpang. Tiket dijual sesuai dengan jumlah tempat duduk yang tersedia. Tidak ada lagi penumpang yang diperkenankan merokok di dalam gerbong kereta yang bisa mengganggu kenyamanan penumpang – penumpang lainnya.

Tentu saja semua perubahan positif tersebut bukan sekedar reformasi melainkan sebuah revolusi. Saya pribadi dan mungkin seluruh pengguna setia kereta api di tanah air berharap konsistensi ini (seharusnya) akan tetap terjaga ke depannya untuk selalu menegakkan aturan-aturan yang telah disepakati bersama. Di tengah semakin berkembangnya industri transportasi, hal pertama yang ada dalam pikiran penumpang adalah pelayanan yang memberikan kenyamanan. Jika sasaran tersebut terpenuhi, maka industri transportasi, khususnya PT. KAI akan selalu bisa menuai keuntungan yang berbanding lurus dengan kepuasan penumpang.

Sang kala perlahan beranjak menuju senja. Pemandangan hamparan sawah berlatar matahari yang semakin condong mencumbu bibir malam telah berganti rerimbunan hutan jati. Sayup-sayup terdengar kicau burung pipit yang kehilangan arah mencari rumah diantara derau mesin kereta.

Stasiun Solo Jebres menjadi pemberhentian pertama untuk menurunkan dan menaikkan penumpang.

Seorang perempuan berwajah manis, rambut pendek se-leher yang cute dan simple (short is sweet), usia pertengahan 30-an berkesempatan duduk mengisi bangku kosong tepat di sebelah saya. Sekilas parasnya yang bulat agak oval mirip artis Korea Wang Ji-Hye dengan warna kulit sawo matang yang eksotis. Dari segi tampilan atau busana yang dikenakan, nampaknya dia adalah perempuan karir.

Belum ada sepatah kata pembuka obrolan yang tercetus dari mulut kami. Pun, saya juga tidak berusaha mencari-cari topik pembicaraan yang menarik pencair suasana, seperti tentang harga Dolar yang terus merangkak naik, misalnya. Nyatanya, saya malah masih asik dengan lamunan. Mungkin saya juga kurang peka terhadap sinyal-sinyal yang dia kirimkan melalui bahasa tubuh (pura-pura nyenggol, contohnya) yang mengisyaratkan keinginan buat ngobrol.

Hening panjang nan gelisah itu akhirnya pecah ketika dia menawari saya nasi goreng yang dia beli dari pramugari kereta api. Saya menolak secara halus karena disamping sebagai pelaku food combining (pemula) saya juga tidak begitu terbiasa makan-makanan yang dijual di dalam kereta api. Disamping harganya mahal, porsinya sedikit dan rasa atau ke-delicious-annya tidak terjamin. Kecuali jika sangat sangat sangat sangat sangat terpaksa sekali. Kebetulan Ibunda saya sudah membawakan bekal camilan.

Pernah, sih, beberapa bulan lalu, ketika saya hendak ke Madiun memanfaatkan libur harpitnas. Karena terburu-buru saya tidak sempat beli makanan dari stasiun Gambir sebelum naik kereta api Bangunkarta. Saat kereta api tengah singgah di Cirebon untuk ganti lokomotif, saya yang sudah sangat sangat sangat sangat sangat kelaparan terpaksa membeli makanan langsung di kereta makan. Saya memang tidak terbiasa makan diantara orang-orang/penumpang-penumpang lain yang sedang tidak makan. Khawatir kena maag, sebaiknya perut segera saya isi. Begitu sampai di lidah, lauk yang saya kira daging di menu nasi rames yang saya pesan ternyata lengkuas. Duh, sakitnya, tuh, disini.

Berhubung nasi gorengnya sudah tuntas terlahap dan pesanan kopi susunya tak kunjung datang jua, saya mencoba menawarkan bekal air mineral yang masih tersegel rapi sebagai media untuk mendorong sisa-sisa makanan yang mungkin masih mengganjal dan membikin seret di tenggorokannya. Well, daripada dia pingsan terceguk-ceguk, pikir saya. Bersama senyum yang merekah dari setangkup bibir sensualnya nan ranum bak kembang mawar merah, dia menerima air mineral yang saya tawarkan. Dalam sekali tenggak dia berhasil menghabiskan setengah volume dari total 600 mililiter yang tersedia.

Tanpa disadari, tak berselang lama dari detik canggung berbalut basa-basi tak pasti tersebut, obrolan diantara kami telah mengalir begitu derasnya. Setiap baris kata saling berbalas bagai air bah yang tak terbendung. Saya merasa seperti bertemu pacar kawan lama yang baru saja melanglangbuana dari dimensi lain lalu kembali karena rindu.

Pelan namun pasti keakraban diantara kami naik ke level yang lebih intim. Dia sudah tidak sungkan lagi menautkan jemari tanggannya ke jemari tangan saya dan merebahkan kepalanya di pundak saya sambil melanjutkan cerita tentang pasang surut kehidupan rumah tanggannya, tentang anak tunggalnya yang masih kelas 3 SD, tentang kedua orangtuanya, tentang dinamika yang terjadi di tempat kerjanya, tentang keinginannya untuk menjadi dosen.

Di sisa kebersamaan, kami hanya menikmati kehangatan yang hadir dalam pelukan. Seolah masing-masing dari kami tak ingin lepas. Jika saya sanggup menghentikan sang waktu yang nisbi, maka biarlah begini saja seterusnya.

Sampai pada saatnya dia harus turun di Stasiun Pekalongan. Kota dimana dia tinggal. Dia meminta saya mengantarkannya hingga ke pintu gerbong. Sebelum momen ini benar-benar hilang meninggalkan saya bersama debu dan tanpa bermaksud membuang kesempatan, saya mengecup mesra bibirnya. Kecupan berdurasi 25 detik yang akan membekaskan rindu. Rindu yang bikin ngilu hati karena cinta yang tak termiliki.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s