Indochina Story : Pertemuan Dengan Sahabat Lama

Icon Jakarta - Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia

Semua bermula dari pertemuan saya pada awal tahun 2011-an dengan seorang sahabat dari zaman SMA yang telah hampir tujuh tahun hilang kontak. Andri Sofyan Husein yang akrab disapa Basir.

Rupanya setelah lulus kuliah dari Fakultas MIPA Universitas Negeri Lampung, Basir bekerja sebagai pengajar di salah satu pusat bimbingan belajar yang cukup terkemuka di wilayah Jabodetabek. Tepatnya di daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Tidak hanya mengajar anak-anak pribumi namun juga kaum ekspatriat. Jadi selama kurun waktu nan panjang tersebut, kami sebenarnya telah hidup bertetangga. Saya di Bogor. Basir di Bintaro.

Kami memulai percakapan untuk pertama kalinya setelah sekian lama terpisah melalui media sosial sejuta umat : Facebook. Saat itu Facebook masih cukup nge-hits. Kalau sekarang.. mmm.. biasa aja,sih.

Dalam percakapan panjang berhiaskan caci maki ala Jawa Timur-an, kami berbagi cerita tentang suka dan duka menuju pendewasaan diri. Hingga akhirnya kami membuat janji bertemu setelah menyesuaikan dari jadwal-jadwal sibuk masing-masing dari kami.

Pada suatu Minggu siang yang terik di pertengahan tahun 2011, kami sepakat kopi darat di daerah Jakarta Kota. Basir tampak sumringah. Aura positif memancar dari wajahnya. Badannya kekar. Terlihat sehat dan segar. Bagai buah tomat yang baru dipetik dari dahannya saat panen raya. Alhamdulillah. Tanpa ada ritual peluk-pelukan plus cipika cipiki, mengingat kami berjenis kelamin sama, secara spontan kami memutuskan untuk berwisata kuliner di sekitaran Museum Fatahillah sembari bernostalgia mengenang masa-masa sekolah dulu. Adakalanya, pertemuan dengan sahabat lama memberikan inspirasi sekaligus motivasi tersendiri. Mencetuskan kembali cita-cita ataupun angan-angan yang sempat tertunda dalam proses pencapaiannya.

Sebagai pembuka, kuliner yang kami coba terlebih dahulu adalah Toge Goreng yang kebetulan mangkal tepat di depan Gedung BNI seberang Museum Fatahillah.

Saya segera memesan dua porsi kepada abang-abang berwajah melankolis mirip Obbie Messakh. Tanpa rasa curiga kami menunggu pesanan datang sambil ndeprok di pelataran Gedung Bank BNI. Dari situ tampak barisan bangunan-bangunan klasik peninggalan zaman kolonial Belanda yang hampir tidak terawat. Rapuh dan sebagian hampir runtuh. Padahal punya potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata sejarah. Kondisi tersebut tidak mengurangi antusias para pengunjung yang selalu membludak seperti di saat-saat weekend.

Sekejap kemudian pesanan kami datang. Ketika hendak memasukkan sesendok suapan pertama ke mulut, ada sedikit kejanggalan yang mengganggu indra penciuman. Saya dan Basir saling berpandangan dengan tatapan yang mengisyaratkan: “kok kayaknya makanannya diracik dari bahan-bahan yang sudah basi, yaa. “

Agar lebih yakin, Basir mencicipinya.

“Buset, rasanya seperti air sabun bekas dipakai cuci tangan orang yang habis cebok.” Umpat Basir, setelah melepehkan kembali sejumput Toge Goreng yang diicipnya. Saya hanya mendelik. Beberapa detik berikutnya kami sama-sama terpaku membisu. Seperti sedang memikirkan jalan keluar dari permasalahan ini. Lalu diam-diam demi menjaga perasaan abang penjual Toge Goreng kami pelan-pelan meletakkan makanan tersebut di salah satu sudut pelataran Gedung Bank BNI kemudian sambil berjingkat-jingkat macam maling, kami melipir pergi. Uangnya saya letakkan diatas piring kedua Toge Goreng tersebut.

Selanjutnya, demi memuaskan hasrat kuliner yang sempat diwarnai kegagalan, kami mencoba Bubur Ayam yang letaknya berada di dalam areal Museum Fatahillah. Tempatnya cukup ramai dan dari segi rasa… lumayan lah. Hanya saja yang membuat kami sebal adalah intensitas pengamen yang begitu padat. Sampai-sampai uang yang kami keluarkan untuk para pengamen lebih banyak ketimbang harga Bubur Ayam itu sendiri. Cukup horor memang. Level horornya mungkin hampir sama seperti saat naik bis dari Bekasi ke Bogor. Pengamennya… Naudzubillah… tidak ada jeda sama sekali. Mulai berangkat dari terminal Bekasi, masuk tol Jagorawi, hingga sampai di terminal Baranangsiang Bogor. Mending pengamennya sopan-sopan. Lah, ini, seperti preman. Omongannya tidak ada yang enak didengar. Bikin hati jadi panas. Astaghfirullah.

Tak terasa hari sudah beranjak sore. Sebagian lampu-lampu taman kota di sekitaran Museum Fatahillah dinyalakan. Dari balik debu dan kepulan asap kendaraan, dalam adegan slow motion kami berjalan menuju Stasiun Jakarta Kota. Saatnya kembali ke peraduan. Mempersiapkan lagi amunisi untuk mengahadapi rutinitas hari Senin esok hingga sepekan selanjutnya. Saya dan Basir berpisah menuju Platform masing-masing. Saya ke Bogor. Basir ke Bintaro. Sebelumnya Basir juga berjanji pada pertemuan selanjutnya dia akan mengajak saya berkunjung ke Kost-annya.

Bersambung….

Iklan

4 respons untuk ‘Indochina Story : Pertemuan Dengan Sahabat Lama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s