Cerita Minggu Ini : Nasi Kapau

Nasi Kapau

Taman Kampus Institut Pertanian Bogor – Baranangsiang

Seperti biasa, hari minggu adalah jatah saya memanjakan diri dengan membaca di taman kampus IPB Baranangsiang. Biasanya saya juga sekalian bawa bekal makanan dan minuman ringan karena adakalanya saya membaca dari pagi hingga sore, hanya diselang oleh Shalat Dhuhur dan Ashar. Tapi pagi ini saya sangat ingin sekali mencoba gado-gado yang berada di sekitaran pool Damri jurusan Bogor  – Soekarno Hatta International Airport, tidak jauh dari kampus.

 

Ada kejadian yang sedikit membuat saya geli ketika sarapan gado-gado tadi. Seorang bapak-bapak paruh baya yang memesan menu sama dengan saya, makan sambil telpon-telponan dengan istrinya. Mungkin si istri di seberang bertanya : “Lagi ngapain, Pa?”, bapak-bapak tersebut menjawab dengan sangat pede : “Lagi makan gado-gado, Ma. Jadi, ceritanya, Papa sekarang lagi wisata kuliner kayak Bondan Parkoso.” Saya langsung tersedak mendengarnya,.. Mungkin maksud beliau adalah : Bondan Winarno… dan, mungkin saja, Bondan Winarno tidak hafal sama sekali lirik lagu Lumba-Lumba Si Hitam Manis.

 

Berhubung bacaan favorit saya karya Emha Ainun Nadjib (Indonesia Bagian Dari Desa Saya) dan Agustinus Wibowo (Titik Nol) sudah saya khatamkan sejak Ramadhan sebulan yang lalu, seusai sarapan saya bergegas membeli harian Kompas di kios yang masih berada di sekitaran pool Damri. Setelah mendapatkan suratkabar favorit tersebut, saya berjalan menuju taman kampus yang hanya tinggal beberapa langkah kaki saja. Sekilas saya tampak seperti seorang cendekiawan, padahal, kuliah belum lulus-lulus.

 

Kompas edisi minggu ini membahas habis tentang eksistensi kuliner Minang atau yang lebih familiar dengan sebutan Masakan Padang. Terutama mengenai sejarah awal hingga menjamurnya rumah makan-rumah makan Padang di hampir seluruh pelosok tanah air hingga mancanegara. Dan sudah barang tentu pembahasan mengenai Masakan Padang tidak akan terlepas dari Rendang.

 

Secara garis besar Rendang digambarkan sebagai simbol kehormatan dan martabat perempuan (Minang). Seiring berjalannya waktu, Rendang pun semakin menasional dan akhirnya mendunia. Konon, pada saat merantau, orang Minang dibekali 3 senjata paling penting, antara lain : 1. Pengetahuan Agama, 2. Ketrampilan Silat, 3. Rendang.

 

Masyarakat Minang menganut garis keturunan pihak ibu (Matrilineal), sehingga kepandaian memasak (terutama Rendang) menjadi amat krusial. Bahan baku utama Rendang selama ini kebanyakan yang kita tahu identik dengan daging sapi atau kerbau. Namun kenyataannya, di Sumatra Barat sana ada banyak varian Rendang, diantaranya : Rendang Belut, Rendang Ayam, Rendang Bebek, Rendang Telur, Rendang Paru, dan Rendang Ubi Kayu. Ada juga Masakan Padang yang biasa disebut Nasi Kapau, jenis masakan Minang yang berasal dari Nagari Kapau, Sumatra Barat.

 

Saya sendiri bukanlah penyuka Masakan Padang ataupun Nasi Kapau. Bukan karena saya pernah patah hati dengan Gadis Minang, tapi.. ya, sudahlah, gak usah dibahas lagi.. Namun begitu, saya pun menjadi penasaran dengan menu bernama Tambusu, yaitu : usus sapi yang diisi adonan telur dan tahu, bentuknya seperti sosis dengan ukuran yang besar. Saya jadi teringat Warung Nasi Kapau di dekat kompleks saya tinggal. Sejauh ini belum pernah sekalipun saya makan disitu.

Nasi Kapau 2

Nasi Kapau

Singkat cerita, pulang dari taman kampus, seusai Shalat Maghrib, saya pun singgah ke warung tersebut demi menuntaskan rasa penasaran saya terhadap Tambusu. Namun, sayang, menu yang saya harapkan tidak ada. Saya pun bingung, kalau pakai Gulai Ayam atau Rendang sudah biasa banget. Di tengah-tengah dilema memilih lauk, mata saya tertuju pada Cumi-Cumi. Pas saya tanya ternyata isinya kurang lebih sama dengan Tambusu : adonan telur dan tahu. Tanpa pikir panjang lagi dan lapar yang sudah begitu mendera, saya pun memilih lauk tersebut. Walaupun tidak sama namun serupa. Lumayan.

 

Bogor, 01 September 2013

Iklan

7 respons untuk ‘Cerita Minggu Ini : Nasi Kapau

  1. Jadi ingat dulu pertama kali ke Bogor tersasar di terminal Baranangsiang. Padahal tujuannya Cibinong, hadeeeh 😀

    Huaaaa nasi Kapaunya nampak sangat menggoda. Slruppp, pas banget ngeliat postingan ini kala lapar. Hiks.

    Suka

  2. fakhruddin berkata:

    saya pernh nyoba nasi kapau nya lgsg pas ngetrip ke bukittinggi, agak geli sama lauk yang kaya usus hehe (lupa namanya) btw ada om haryadiyansyah juga toh yg mampir, ayo om yan main ke bogor ntr minta traktir mas adi hehe (saya sdh sering ditraktir soalnya haha)

    Suka

    • hahaha..iya mas..kalo sekarang saya juga gak berani makannya lagi..kolesterol tinggi soalnya..

      ayo, Mas Fakhruddin dan Mas Haryadi singgah ke Bogor..tak ajakin kuliner..hehehehe

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s